
Bukan karena perasaan menyesal atas keputusan yang sudah dia ambil. Tapi, karena belum siap dengan pertanyaan orang luar saja. Karena pertunangannya tersebar luar, maka saat pembatalan pernikahan juga akan banyak pertanyaan yang akan menghampiri Meta nantinya.
Sementara itu, kedua orang tua Meta merasa cemas akan apa yang anaknya lakukan. Mereka takut jika Meta melakukan hal yang tidak-tidak di dalam kamar tersebut karena putus asa akan apa yang sudah terjadi.
Oleh karena itu, mama Meta sering mengetuk pintu kamar anaknya selang beberapa jam berlalu. Seperti saat ini, mama Meta lagi-lagi mengetuk pintu kamar sang anak. Padahal, baru satu jam yang lalu dia melakukan hal tersebut.
"Met, apa kamu baik-baik saja di dalam, Nak?" Mama Meta berucap sambil mengetuk pintu kamar Meta.
"Aku baik-baik aja kok, Ma. Mama gak perlu cemas. Aku gak akan melakukan hal yang tidak-tidak. Mama bisa masuk jika tidak percaya. Pintunya gak aku kunci kok, Ma."
"Oh, gak kok. Gak perlu. Mama percaya sama kamu, sayang. Kamu anak kuat yang gak akan merugikan diri sendiri hanya karena patah hati."
Meta tidak menjawab dengan kata-kata. Tapi dalam hati ia berkata. 'Mama percaya padaku, tapi begitu cemas. Hampir setiap jam mengetuk pintu kamar. Udah aku bilang kalo pintunya gak aku kunci, tapi tidak ingin membuka dan melihat secara langsung. Ah, dasar mama.'
Dan, dua jam kemudian, pintu kamar Meta diketuk lagi. Meta ingin sekali bilang kalau dia kesal. Tapi itu tidak ia lakukan. Karena dia tahu, sang mama sedang sangat peduli dengan keadaannya yang dianggap tidak baik-baik saja sekarang.
"Iya, Ma. Aku gak papa. Baik-baik aja. Pintu gak aku kunci kok, Mah." Meta langsung berucap dengan suara cukup keras.
__ADS_1
"Ah, mama tahu kamu baik-baik aja, Sayang. Tapi, mama ingin kamu keluar untuk makan malam. Mm ... ini sudah waktunya makan malam. Sedangkan kamu, makan siang aja belum, Met."
"Nanti aja aku makannya, Ma. Masih belum ada selera untuk makan sekarang."
"Tapi, Met. Kamu masih belum makan sejak tadi siang lho, Nak."
"Iya. Tapi Meta gak lapar saat ini, Ma." Meta berucap sambil membuka pintu kamar yang tertutup rapat.
Sang mama langsung menyunggingkan bibir saat melihat wajah anaknya yang baru saja muncul dari balik pintu kamar tersebut. Saat melihat wajah anaknya baik-baik saja, tanpa ada air mata atau mata bengkak akibat menangisi hal yang telah terjadi. Hati sang mama merasa lega sekarang. .
"A .... " Meta baru ingin mengangkat bibir buat menjawab. Tapi sang mama malah langsung bicara lagi.
"Oh iya, bagaimana kalo kita ke rumah sakit malam ini, Met? Bukankah kami bilang, Sean ada di rumah sakit. Dan, tadi siang kamu tidak jadi datang ke rumah sakit buat jenguk dia, kan?"
Saat itu, wajah Meta langsung berubah. Dia melupakan keadaan Sean yang kini terbaring di rumah sakit akibat ulahnya karena masalah yang sedang dia alami tadi siang. Meta pun langsung menepuk dahinya dengan pelan.
"Oh iya, Ma. Aku lupa dengan kak Sean. Ya Tuhan, apa dia sudah keluar dari rumah sakit atau belum ya sekarang? Tapi, aku rasa belum."
__ADS_1
Sang mama langsung mengukir senyum manis di bibirnya. Karena dia berhasil mengalihkan perhatian sang anak dengan hal tersebut. Itu terlihat dari wajah Meta yang awalnya lemas, langsung berubah seketika.
"Nah, kalo gitu, ayo kita ke rumah sakit sekarang juga. Anak mama gak ingin dibilang orang yang tidak tahu balas budi, bukan?"
Meta langsung menyetujui ajakan itu. Dia dan juga kedua orang tuanya lalu menuju rumah sakit beberapa saat kemudian.
Beberapa jam berlalu, akhirnya, mobil yang Meta tumpangi tiba juga di depan rumah sakit terkenal kota tersebut. Mereka berjalan bersama setelah memarkirkan mobil di parkiran rumah sakit itu.
"Di mana kamarnya? Kamu tahukan kamarnya ada di mana, Met?" Papa Meta berucap sambil berjalan di belakang anak juga istrinya.
"Iya, Pa. Meta tahu. Semoga aja kamarnya tidak berubah."
Beberapa waktu berjalan, akhirnya mereka tiba di ruangan VIP rumah sakit tersebut. Meta pun dengan tangan agak berat mengetuk pintu kamar itu dengan pelan.
Terdengar suara seorang perempuan yang mengizinkan Meta membuka pintu kamar itu untuk. masuk. Meta pun membuka pintu itu dengan cepat setelah mendapat izin dari orang yang ada di dalamnya.
Ternyata, di kamar itu hanya ada Sean yang di temani oleh mamanya saja. Melihat kedatangan Meta dan keluarganya, mama Sean langsung bangun dari duduknya untuk menyambut Meta dan kedua orang tuanya.
__ADS_1