
Panggilan itu membuat ucapan Meta tertahankan. Sontak, merekapun langsung fokus dengan kedatangan seseorang yang baru saja memanggil nama Meta barusan.
Siapa lagi itu kalau bukan Jaka. Dia yang juga cemas akan kehilangan Meta, tentu tidak bisa memejamkan mata saat tahu kalau Meta sama sekali belum kembali ke rumah.
Lalu, saat mendengar kalau Meta sudah pulang. Jaka pun bergegas menuju ke rumah Meta untuk melihat keadaannya.
"Meta, kamu ke mana saja tadi? Kenapa tiba-tiba pergi begitu saja? Mama dan papamu sangat panik karena kamu yang pergi tidak tahu ke mana," ucap Jaka dengan nada yang sangat cemas.
Tapi, nada itu sama sekali tidak membuat Meta tersentuh. Malahan, dia merasa agak jijik sekarang. Entah kenapa, Meta merasa sangat kesal dengan Jaka. Apalagi ketika Jaka bicara padanya barusan. Hatinya yang sudah kesal, semakin bertambah kesal saja.
"Mama papaku panik? He ... hanya mereka yang panik ternyata. Sedangkan yang lainnya, mungkin sangat bahagia saat tahu aku menghilang. Bahkan, mungkin berharap kalau lebih baik aku menghilang buat selama-lamanya kali yah."
"Meta apa yang kamu katakan, Nak? Jangan bicara hal yang tidak-tidak, Meta." Mama Meta langsung menyanggah apa yang anaknya katakan.
Maklum, sebagai seorang mama, tentunya dia tahu ke mana arah bicara Meta barusan. Yang lain yang Meta maksudkan itu mungkin saja Jaka. Karena Meta langsung bicara dengan nada yang tinggi ketika melihat Jaka barusan.
__ADS_1
"Apa yang aku katakan mungkin benar, Ma. Kita tidak tahu apa yang orang lain pikirkan, bukan? Karena bagaimanapun, hati manusia itu tidak bisa kita tebak."
Sadar akan kesalahan yang sudah dia perbuat. Jaka langsung menundukkan wajahnya. Dengan raut wajah bersalah, dia pun berucap dengan nada sedih.
"Meta maaf, aku .... "
"Tidak. Kak Jaka tidak perlu minta maaf. Karena ini semua adalah kesalahanku. Aku yang salah. Jadi, tidak usah menunjukkan wajah bersalah padaku."
"Meta aku akan jelaskan semuanya."
"Tidak sekarang. Besok saja karena aku sangat lelah. Seharian sudah banyak melewati hal yang tidak baik. Aku ingin istirahat sekarang juga."
Namun, langkah Meta segera tertahan akibat tangannya yang di tahan oleh seseorang. Meta pun sontak langsung menoleh ke arah tangannya secepat mungkin.
"Besok pagi, aku tunggu kamu di taman biasa, Met."
__ADS_1
Tanpa menjawab apa yang Jaka katakan, Meta langsung menarik tangannya dari tangan Jaka. Yah, yang menggenggam tangan Meta barusan itu adalah Jaka. Sepertinya, dia ingin bicara lebih. Namun sadar akan keadaan. Tidak mungkin dia memaksakan kehendaknya.
Sementara itu, Meta yang sudah terlanjur sakit hati tidak ingin memikirkan banyak hal lagi. Dia langsung menarik tangannya dari tangan Jaka. Tanpa menjawab apa yang Jaka katakan, Meta lalu meninggalkan Jaka dan juga kedua orang tuanya.
Sejujurnya, Meta sangat tahu apa yang dia lakukan barusan itu pasti akan membuat kedua orang tuanya bingung. Karena selama ini, dia tidak pernah bersikap seperti barusan. Apalagi orang itu adalah Jaka. Lebih tidak pernah lagi.
Karena Meta selalu menjaga sopan santunnya setiap berhadapan dengan Jaka. Dia juga selalu terlihat sabar selama bersama Jaka. Bagaimana tidak? Sudah cukup lama dia menunggu, dan selama itu pula sikapnya selalu dapat perhatian dari kedua orang tuanya. Jadi, kali ini, dia yakin jika orang tuanya pasti sedang sangat bingung dengan apa yang dia lakukan barusan.
Namun, karena hati yang terlalu lelah, Meta tidak ingin memikirkan apa yang sedang orang tuanya pikirkan saat ini. Karena yang terpenting adalah hatinya sendiri.
Orang hatinya saja sudah tidak baik-baik saja sekarang. Bagaimana dia harus bersikap seperti biasa dengan selalu memikirkan perasaan dan hati orang lain di saat dirinya saja sedang tidak baik?
Meta benar-benar meninggalkan Jaka dengan kedua orang tuanya yang sedang sangat bingung. Setelah pintu kamar tertutup rapat, mama Meta langsung mengalihkan pandangannya ke arah Jaka. Dia sangat penasaran dengan perubahan dari sikap anaknya yang sekarang hampir tidak dia kenali.
"Jaka, tolong katakan pada tante, Nak! Apa yang sebenarnya terjadi diantara kalian? Tante sangat-sangat penasaran dengan penyebab berubahnya sikap Meta malam ini."
__ADS_1
"Itu .... " Jaka tidak tahu harus bicara apa saat ini. Karena dia masih belum siap untuk mengakui kesalahan yang telah dia perbuat.
"Ah, ya sudahlah, Ma. Besok saja kita bahas ini yah. Malam ini, mari kita istirahatkan diri terlebih dahulu." Papa Meta berucap sambil menyentuh pelan bahu sang istri.