Cinta Atau Hutang Budi

Cinta Atau Hutang Budi
*Part 45 Hasilnya


__ADS_3

"Bagaimana? Apa hasilnya, Dok?" Sean bertanya langsung saat dia membuka pintu ruangan dokter itu. Tanpa berbasa-basi terlebih dahulu tentunya.


Si dokter malah terdiam sesat karena dia cukup kaget dengan kemunculan Sean. Mana Sean langsung menerobos tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu lagi. Andai saja dia bukan tuan muda, pasti sudah kena semprot oleh si dokter.


"Ya Tuhan, Tuan muda. Duduk dulu, baru kita bicara," kata dokter tersebut setelah beberapa saat mematung.


"Tidak usah banyak basa-basi, Dokter. Aku ingin segera tahu apa hasilnya."


"Baiklah. Ini, surat laporan dari tes yang tuan muda jalani beberapa hari yang lalu. Lihatlah!"


Sean langsung menerima dengan cepat amplop coklat yang dokter tersebut berikan. Dengan rasa penasaran, tanpa menunggu lama lagi, amplop itu langsung saja Sean buka.


Mata Sean berkaca-kaca saat membaca hasil dari laporan tersebut. Apa yang tertulis di atas kertas putih itu sungguh sangat mengharukan bagi Sean.


"Ini ... apakah ini benar, Dokter? Apakah laporan ini benar punya aku?" Sean masih tidak yakin kalah itu adalah miliknya.


"Saya jamin, Tuan muda. Laporan itu asli dan sangat akurat. Karena saya tidak hanya melakukan sekali tes saja. Melainkan, tiga sampai empat kali agar hasilnya benar-benar akurat dan tidak membuat bimbang lagi."

__ADS_1


"Ya-- ya ... Tuhan. Jadi, itu benar-benar anakku? Ba-- bagaimana mungkin? Apakah yang sudah terjadi padaku selama ini."


Sean masih saja tidak bisa percaya. Tapi dalam hati, dia sangat amat bahagia. Jika diizinkan, dia ingin melompat-lompat, atau bahkan, jungkir balik sebagai tanda pelepasan rasa bahagia yang sedang dia rasakan saat ini.


"Ini adalah keajaiban yang Tuhan berikan pada tuan muda. Tapi, sebagai ahli medis, kami juga punya penjelasan tersendiri untuk membuat rasa yakin yang semakin kuat."


"Menurut pendapat kami para ahli medis, tuan muda bisa punya anak karena tubuh tuan muda terbaring selama satu tahun setelah kecelakaan. Tuan muda koma, hal itu membuat organ tubuh tidak bekerja dalam kurun waktu yang sangat lama. Karena itu, setelah tuan muda sadar, saraf kembali berfungsi dengan baik. Dan, ada saraf rusak kembali diperbaiki karena hal tersebut."


"Lebih dan kurangnya, begitulah pendapat kami sebagai ahli medis. Tapi, semua yang terjadi tak lepas dari kehendak sang pencipta. Kuasa Allah yang maha kuasa. Tidak ada yang tidak mungkin baginya. Karena itu, tuan muda harus percaya sepenuhnya kalau anak yang ada dalam kandungan istri tuan muda adalah anak tuan muda sendiri."


"Siapa yang bilang aku tidak percaya? Aku percaya kalau itu adalah anak aku. Aku sangat yakin, istriku itu adalah perempuan yang setia. Karena itu, dia tidak akan pernah mengkhianati aku walau hanya sebatas kata-kata saja."


Setelah berucap kata-kata itu, Sean langsung beranjak meninggalkan si dokter. Sedangkan dokter itu hanya bisa terdiam sambil menggelengkan kepala saja.


"Dia bilang percaya. Tapi, langsung melakukan tes untuk membuat hatinya yakin. Ya ampun, percaya jenis apa ini, tuan muda?" Dokter tersebut hanya bisa bicara sendiri. Karena sekarang, Sean sudah tidak terlihat lagi. Lagipula, mana berani dia bicara begitu pada Sean. Orang Sean adalah atasannya.


Sean tiba di rumah setelah mobil yang ia tumpangi bergerak dengan kecepatan tinggi. Maklum, dia sudah tidak sabar lagi untuk bertemu Meta. Dia sangat ingin minta maaf pada Meta juga calon anaknya. Karena selama ini, sudah menyimpan keraguan walau hanya sedikit.

__ADS_1


"Di mana Meta, Bik?" Sean langsung bertanya pada bibi yang bekerja di rumahnya saat dia baru menginjak depan pintu utama.


"Nyonya di taman belakang, Tuan Sean."


"Di taman belakang? Sedang apa dia?"


"Mm ... sedang makan mangga muda dengan sambal cabe hijau."


"Apa!?" Tentu saja Sean langsung kaget. Cabe hijau adalah cabe terpedas menurut Sean. Dia aja gak berani makan cabe itu. Lah, mana Meta sudah dia larang makan makanan pedas. Tapi sekarang, Meta malah makan sambal cabe hijau tanpa sepengetahuan dia.


"Ya Tuhan. Kenapa bibi biarkan dia makan sambal cabe hijau sih, bik? Bukankah bibi tahu, saya melarang dia makan makanan yang pedas."


"Maaf tuan Sean. Bibi gak bisa melarang nyonya makan apa yang dia inginkan. Nanti, nyonya malah ngambek lagi."


"Ya-- ya ampun. Ya sudah, biar saya lihat dia langsung sekarang."


Ya, inilah sikap baru Meta setelah hamil. Dia suka ngambek jika tidak mendapatkan apa yang dia inginkan. Dia sungguh sangat jauh berbeda dari Meta yang sebelumnya. Sering manja gak jelas. Sering ngambek walau hanya masalah kecil.

__ADS_1


__ADS_2