Cinta Atau Hutang Budi

Cinta Atau Hutang Budi
*Part 13 Penolong


__ADS_3

Seketika, suara itu langsung membuat semua mata terfokus ke arah si pemilik. Yang paling terkejut karena suara itu tentunya Meta. Karena dia cukup kenal siapa pemilik dari suara tersebut.


"Kak ... kak Sean." Meta berucap dengan nada tak percaya.


"Lepaskan dia!" Kata Sean dengan nada yang penuh dengan penekanan.


"Oh, ternyata kamu ini adalah kenalan si perempuan sialan ini ya. Kalau begitu, kamu cari mati saja datang ke sini. Karena kami tidak akan melepaskan mangsa yang sudah kami dapatkan."


"Jangan menguji kesabaran ku. Kalian tidak tahu kalau aku tidak punya banyak kesabaran. Jadi, langsung dengar dan ikut apa yang aku katakan." Sean semakin berkata dengan suara tinggi.


"Kamu .... " Tanpa menggubris apa yang Sean katakan. Preman yang awalnya Sean tahan tangan itu langsung menarik tangannya dari genggaman tangan Sean.


Selanjutnya, preman itu ingin menghajar Sean dengan gerakan brutal. Tapi, sepertinya Sean bukan pria sembarangan. Dengan lihai, Sean menghindar setiap pukulan yang preman itu berikan. Dan malahan, Sean berhasil melumpuhkan preman itu dengan beberapa pukulan saja.


"Sial! Kamu bikin gara-gara dengan kami," ucap salah satu preman yang tadinya masih menahan tangan Meta.


"Ayo! Kita serang dia secara bersamaan. Kita lumpuhkan dia terlebih dahulu, baru kita urus perempuan sialan ini."


"Baiklah," karta temannya.


Lalu, kedua preman itu langsung melepaskan tangan Meta secara bersamaan. Mereka pun langsung menyerang Sean tanpa ada apa-apa terlebih dahulu.

__ADS_1


Cukup hebat, Sean mampu mengalahkan dua preman itu dalam waktu yang terbilang sangat singkat. Saat dia berhasil menjatuhkan kedua preman, satu preman yang tadinya jatuh, kini langsung bangun kembali.


Dan .... "Kak Sean awas!" Sayangnya, peringatan itu terlambat. Preman itu langsung menendang punggung Sean sehingga Sean tersungkur seketika.


"Ha ha ha .... Mampus lo!" ucap preman itu dengan senang hati.


"Kak Sean!" Meta berteriak dengan nada panik dan cemas.


Tapi, sepertinya Sean masih belum kalah. Dia langsung bangun setelah beberapa saat tersungkur akibat punggungnya yang di tendang dengan keras.


"Aku gak papa. Kamu tenang aja." Sempat juga Sean berucap kata-kata itu agar bisa menenangkan hati Meta yang sedang panik.


"Tapi, kak .... "


"Ha ha ha ... masih bisa melawan? Kita lihat saja kamu itu benar atau hanya bicara omong kosong saja."


"Kali ini, aku tidak akan membiarkan kamu menang melawan kami." Preman itu berkata lagi. "Kalian berdua, bagun! Kita hajar dia secara bersamaan. Aku yakin, dia tidak akan bisa menang lagi kali ini."


Tanpa berucap, kedua temannya langsung mengikuti apa yang preman itu katakan. Meski terlihat sangat sulit untuk bangun, mereka berdua tetap memaksakan diri untuk mengikuti apa yang temannya katakan.


"Sekarang!" Aba-aba itu dia katakan dengan lantang.

__ADS_1


Lalu, mereka bertiga pun langsung maju untuk menghajar Sean. Beruntung, Sean masih bisa melawan. Meski kelihatannya, dia sedang sangat memaksakan diri untuk berkelahi. Tapi, untuk kali ini, dia masih bisa menjatuhkan ketiga preman itu dengan beberapa pukulan.


Setelah ketiga preman itu berhasil ia lumpuhkan, Sean langsung menghampiri Meta.


Dengan sigap, tanpa pikir panjang lagi, Sean langsung menggenggam erat tangan Meta.


"Ayo pergi sekarang juga, Meta! Aku tidak yakin kalau aku bisa terus berkelahi jika masih ada preman yang lainnya datang."


Berusaha mengabaikan tangannya yang Sean pegang. Meta pun hanya bisa mengangguk dengan apa yang Sean katakan. Lalu, mereka berjalan secepat mungkin untuk meninggalkan tempat tersebut.


Sepanjang pelarian, Sean terus menggenggam tangan Meta. Entah apa yang ada dalam pikiran Sean saat ini, yang jelas, dia sepertinya tidak memikirkan apa yang sedang Meta pikirkan. Yaitu, masalah tangan yang dia genggam dengan erat.


Tidak ada ucapan yang terdengar saat mereka berjalan meninggalkan tempat tersebut. Yang ada hanya bunyi napas Sean yang terdengar semakin lama semakin berat.


Entah kenapa, Meta tiba-tiba merasa ada yang tidak beres dengan Sean sekarang. Sepertinya, Sean terlihat sedang sangat kesakitan. Dan, sekuat tenaga Sean menahan rasa sakit itu.


Hal itu terlihat dari wajah Sean yang mengeluarkan keringat besar. Juga, dari napas Sean yang terdengar sangat berat.


Namun, Meta masih tidak bisa berucap meski dia berasa ada yang janggal. Hingga pada akhirnya, mereka tiba di tempat parkiran di mana mobil Sean berada.


"Me-- Meta. Apa ... apa kamu bisa menyetir?" Sean bertanya dengan nada yang terdengar sama beratnya dengan napas yang dia hembuskan. Wajahnya juga mengatakan kalau dia sedang sangat kesakitan.

__ADS_1


"Aku bisa, kak Sean. Tapi, apa yang terjadi dengan kakak? Apa yang sedang kak Sean rasakan saat ini, kak?"


__ADS_2