Cinta Atau Hutang Budi

Cinta Atau Hutang Budi
*Part 11 Bertemu preman


__ADS_3

Mereka pun kembali mencari Meta. Namun, tetap saja hasilnya gagal. Ya kota seluas itu, mana mungkin mereka bisa menemukan orang jika tidak tahu dengan pasti di mana orang itu sedang berada.


Sementara itu, Meta kini sedang berada di jalan gang yang cukup sepi. Entah kenapa dan entah bagaimana dia bisa sampai ke tempat itu, yang jelas, dia hanya berjalan mengikuti ke mana arah kakinya melangkah. Tanpa sadar, di mana dia berada dan tempat apa yang dia jalani saat ini. Dia terus berjalan hingga seseorang memanggil dirinya.


"Hai cantik. Mau ke mana?"


"Mau abang temani gak nih? Gak baik lho, jalan malam-malam begini sendirian."


Sontak, saat ucapan itu menyapa kuping Meta, dia baru sadar dengan keberadaannya saat ini. Mendadak, hati Meta dipenuhi rasa takut ketika dia melihat beberapa preman yang sedang berada tak jauh dari tempat dia berdiri.


Bergegas, Meta memacu langkah untuk meninggalkan para preman itu. Tapi, mana mungkin para preman akan membiarkan mangsa yang ada di depan mata menghilang begitu saja.


"Eict, mau ke mana? Kok buru-buru amat sih kamu cantik," ucap salah satu preman buru-buru menghadang langkah Meta.


"Maaf, tolong menyingkir dari jalanku. Jangan ganggu aku atau .... "


"Atau apa? Kamu mau ngelawan kita ya? Yang benar saja," ucap salah satu teman dari si preman yang kini sedang menghadang Meta.


"Ya Tuhan, mana mungkin kami akan membiarkan kamu meninggalkan kami begitu saja, Cantik. Kamu sudah Tuhan antar kan untuk kami. Jadi, kami tidak akan menyia-nyiakan keberadaan hadiah berharga ini," kata preman yang ada di depan Meta sambil menatap Meta dengan tatapan liar.

__ADS_1


'Ya Tuhan, bagaimana ini? Aku tidak mungkin melawan mereka. Karena selain tidak punya keahlian, aku juga tidak mungkin kenang jiwa memberontak. Mana jalan sedang sangat sepi lagi sekarang.' Meta berucap dalam hati dengan wajah takut.


"Cantik. Tidak perlu takut. Kami tidak akan menyakiti kamu. Kamu tenang saja. Kami ini orang baik kok," ucap preman yang masih duduk santai di tempat sebelumnya.


"Iya. Kami tidak akan menyakiti kamu. Malahan, kami ingin mengajak kamu bersenang-senang malam ini. Ayo! Kita happy bareng-bareng," kata yang lain pula.


Meta tidak tahu harus berkata apa. Ingin lari, tentu saja hanya akan sia-sia saja. Karena saat ini, di depannya ada preman, di belakangnya juga ada.


Meta terus memperhatikan sekeliling. Setidaknya, ada lima orang preman yang bisa ia tangkap dengan matanya saat ini. Tidak tahu masih ada lagi yang lain atau mereka hanya ada berlima saja.


"Kamu jangan cemas, cantik. Kami berlima bisa kok bikin kamu puas. Bahkan, akan bikin kamu merintih karena terlalu bahagia."


Tatapan yang Meta berikan membuat preman itu semakin terlihat ingin terus menggoda Meta. Kali ini, dengan tangan nakal, si preman langsung menyentuh dagu Meta.


Hal yang paling Meta tidak sukai dari orang asing. Berani-beraninya melakukan kontak fisik secara langsung dengannya. Karena itu, Meta reflek langsung menepis tangan si preman sebelum tangan itu menyentuh dagunya.


"Jangan coba-coba! Jangan buat kesabaran ku habis!" Meta berteriak dengan nada tinggi.


Sayangnya, bukan takut, tapi para preman yang ada di sana malah tertawa akibat teriakan yang Meta lakukan barusan. "Ha ha ha ... teman-teman, dia sekarang bicara dengan nada tinggi. Ah, aku kira dia pasrah tadinya. Tapi ternyata, ngumpulin amarah toh."

__ADS_1


"Uhuy ... bikin aku semakin bersemangat saja." Teman si preman langsung menyambut gelak tawa dari temannya yang lain.


"Ha ha ha ... cewek cantik. Kamu mikir apa sih barusan, hm? Mau kabur atau minta tolong? Yah, silahkan saja. Tapi, di sini cukup sepi. Mana ada yang akan menolong kamu."


"Udah, Sob. Jangan main-main lagi. Aku udah gak sabar mau main-main nih. Bawa dia ke sini sekarang juga."


"Iya. Bawa dia ke sini, Bro. Gak perlu aku bantuin, kan?"


"Tentunya tidak. Aku bisa bawa dia sendiri," kata preman yang ada di dekat Meta saat ini.


"Ayo cantik! Ikut abang mu ke sana sekarang juga." Preman itu berucap lagi sambil ingin menyentuh lengan Meta.


Dengan cepat Meta menyerang si preman. Dia tendang bagian bawah yang paling berharga dari tubuh si preman sekuat tenaga.


Karena tendangan itu, si preman langsung meringis kesakitan. "Agh ... si-- sialan."


Preman itu berucap sambil memegang harta berharganya dengan wajah yang sangat kesakitan.


Hal tersebut membuat teman-temanya langsung mengubah wajah jadi tidak senang. Mereka yang awalnya duduk santai, kini tiba-tiba langsung bangun akibat ulah Meta barusan.

__ADS_1


__ADS_2