
Hal tersebut membuat teman-temanya langsung mengubah wajah jadi tidak senang. Mereka yang awalnya duduk santai, kini tiba-tiba langsung bangun akibat ulah Meta barusan.
Sementara itu, Meta yang mendapatkan kesempatan emas untuk kabur. Tentu tidak akan menyia-nyiakan kesempatan itu. Sekuat tenaga dia berlari meninggalkan si preman yang sedang kesakitan.
"Kurang ajar! Kejar dia sekarang juga! Jangan biarkan dia kabur!" Salah satu preman berucap dengan nada tinggi penuh dengan amarah.
Meta berlari dengan di kejar oleh tiga orang preman. Sementara yang satu sepertinya sedang mengurus temannya yang sedang kesakitan.
"Sial! Perempuan kurang ajar! Jika dia tertangkap, aku yang akan menyiksa dia terlebih dahulu dengan sangat kasar. Biar dia tahu bagaimana rasanya barang berharga yang sudah ia sakiti ini," kata preman di sela-sela kesakitan nya sekarang.
"Hoi! Jangan kabur lo perempuan! Lo gak akan lolos dari kita malam ini," kata salah satu preman yang paling depan sambil terus mengejar Meta.
"Tolong ...! Tolong aku ... tolong!" Meta berteriak sekencang mungkin sambil terus memaksa langkah agar tetap melaju dengan kencang.
Sekarang, Meta tak ubah orang yang sedang dikejar anjing saja. Larinya paling cepat dari biasa.
"Tidak ada gunanya kamu berteriak. Karena di sini, tidak akan ada yang menolong kamu."
"Cepat, Bro! Tangkap dia sekarang juga! Jangan asik bicara saja."
"Sia! Kamu gak lihat aku juga sedang mengejar sekarang."
__ADS_1
"Jangan malah bertengkar kalian berdua. Percepat saja lari kalian agar kita bisa menangkap perempuan itu," kata yang lain pula.
"Dasar perempuan kurang ajar. Makan apa sih dia ini? Kenapa larinya cepat banget ya?"
"Bukan larinya yang cepat. Tapi kamu nya yang lambat," kata yang paling belakang langsung maju ke depan.
Terus berlari membuat Meta merasa sangat lelah. Tenaga yang dia punya seakan terkuras habis seketika. Sedikit saja lagi, dia bisa keluar dari gang itu. Dan, harapan untuk selamat dari kejaran para preman pun kini telah ada di depan mata.
Dan ... sayang sekali, baru juga ingin mencapai gang untuk keluar. Tangan Meta tiba-tiba berhasil di raih oleh salah satu preman yang mengejarnya. Dia pun tertangkap akibat kelelahan.
"Lepaskan! Lepaskan aku!" Meta langsung berontak untuk menyelamatkan diri.
"Dasar menyusahkan saja. Kamu seharusnya tidak perlu kabur karena itu tidak akan ada gunanya." Salah satu preman yang sedang mengilas tangan Meta berucap dengan kesal. Dengan kesal pula, dia mengilas tangan Meta sampai Meta merasa sangat sakit.
"Tolong ...! Tolong selamatkan aku! Tolong ...!'
Meta terus berusaha meski dia tahu, kalau usahanya mungkin akan sia-sia saja. Karena bukan hanya gang yang sepi, tapi jalan besar yang ada di depannya juga sama.
Plak! Sebuah tamparan mendarat di wajah Meta. Dengan tatapan kejam, preman itu melihat wajah Meta yang baru saja dia tampar.
"Diam! Jangan berteriak karena itu tidak akan ada hasilnya. Lo hanya bikin kuping gue sakit saja. Paham!?"
__ADS_1
"Kalian bajingan! Lepaskan aku, Bajingan semuanya."
Meta berusaha membalas apa yang preman itu katakan. Meski mulutnya terasa sakit untuk dia buka akibat tamparan yang terlalu keras dari preman tersebut. Karena sangking kerasnya tamparan itu, sudut bibir Meta kini terlihat mengeluarkan darah meski hanya sedikit.
"Lepas! Lepas! Lepas!"
"Berisik aku bilang! Diam dan ikut saja. Jika tidak, aku akan menampar kamu sampai tidak sadarkan diri. Paham!?"
"Bawa dia cepat! Aku sudah mulai kehilangan kesabaran sekarang. Bisa-bisa, aku langsung membunuh perempuan ini jika dia terus berontak," kata preman itu pada kedua temannya yang kini sedang menahan tangan Meta.
"Baik." Kedua temannya langsung menjawab serentak. Sambil menyeret tubuh Meta untuk meninggalkan tempat tersebut tentunya.
Sementara Meta, dia tidak ingin tunduk dengan keadaan juga para preman tersebut. Mungkin, mati di sini akan lebih baik dari pada dijadikan mainan bejat para preman liar yang bajingan ini. Itulah yang ada dalam pikiran Meta sekarang. Sampai-sampai, dia terus berteriak meminta pertolongan dan berontak sekuat tenaga agar bisa terbebas dari cengkraman erat yang sama sekali tidak mungkin akan berhasil dia lepaskan.
"Lepaskan aku! Lepaskan aku!"
"Tolong ...! Tolong aku! Ada yang menculik aku! Tolong ...! Siapapun yang mendengar aku, tolong ...! Tolong aku ...!"
"Diam! Sialan!" Preman itu berucap dengan tangan yang langsung ia angkat.
Tapi, tangan itu tidak langsung menyentuh kulit Meta lagi kali ini. Karena tangan itu tiba-tiba tertahan di udara tanpa bisa melakukan apa yang pemiliknya inginkan.
__ADS_1
"Kalian terlihat sangat tidak tahu aturan, Teman. Bisa-bisanya kalian menyakiti perempuan yang lemah ini."
Seketika, suara itu langsung membuat semua mata terfokus ke arah si pemilik. Yang paling terkejut karena suara itu tentunya Meta. Karena dia cukup kenal siapa pemilik dari suara tersebut.