Cinta Atau Hutang Budi

Cinta Atau Hutang Budi
*Part 38 Lebih baik dicintai


__ADS_3

Di sisi lain, Sean semakin gencar mendekati Meta. Saat ini, tidak hanya bertemu di luar saja. Sean juga sering bertamu ke rumah Meta.


Gerak-gerik Sean disadari oleh kedua orang tua Meta. Dan, mereka begitu bahagia dan sangat berharap, kalau Sean bisa bersama dengan Meta. Karena Sean terlihat sangat kemah lembut dalam memperlakukan Meta.


Yah, terlepas dari masa lalu Sean yang saat ini adalah seorang duda. Semua itu adalah hal istimewa yang Sean punya. Berlatar belakang keluarga yang baik. Pekerjaan yang baik pula. Masa depan Meta pasti akan terjamin.


Dan yang paling istimewanya adalah, Sean begitu lembut, penuh perhatian, dan berlimpah kasih sayang dalam memperlakukan Meta. Hal itu yang membuat orang tua Meta begitu berharap Meta bisa bersama dengan Sean. Karena setelah kegagalan pernikahan yang Meta alami, mereka sangat takut anak mereka dikecewakan lagi.


"Met, dicintai lebih baik dari pada mencintai, Nak. Karena contohnya sudah ada. Mama pikir, selama ini kamu sudah puas merasakan yang namanya mencintai, bukan? Hingga pada akhirnya, kamu terpaksa menerima apa itu dikecewakan."


"Iya, Nak. Cinta juga akan datang secara perlahan. Tuan muda Sean itu terlihat sangat baik lho, Met. Dia sepertinya sangat ingin memiliki kamu sebagai istrinya." Papa Meta pula membenarkan apa yang sebelumnya dikatakan oleh sang istri.

__ADS_1


Meta yang sedang memegang sendok dan berniat untuk memasukkan makanan ke dalam mulut, tiba-tiba membatu akibat ucapan kedua orang tuanya. Ucapan itu membuat otaknya berpikir keras.


'Yah, selama ini kak Sean memang cukup baik padaku. Dia juga pernah bilang, kalau suatu hari, dia ingin punya istri lagi. Dia ingin mengisi kembali kekosongan hatinya setelah perpisahan waktu itu. Tapi .... ' Meta sibuk dengan pikirannya sendiri.


Selama ini, dia memang sadar dengan perlakuan Sean yang begitu berlebihan terhadapnya. Tapi, dia tidak ingin menanggapi hal tersebut. Karena hatinya memang tidak ada Sean sedikitpun di dalamnya. Alias, dia masih belum merasakan kalau dia juga mencintai Sean. Karena sejauh ini, masih ada Jaka walau hanya sedikit saja.


Yah, tidak mudah untuk melupakan cinta. Apalagi cinta pertama yang selama ini sangat ia harapkan untuk ia miliki. Meskipun harapan besar itu membuat dia merasakan kekecewaan yang cukup besar pula. Tapi, untuk menyingkirkan Jaka seutuhnya. Tentu ia membutuhkan waktu yang cukup lama.


Ucapan sang mama membuat Meta membulatkan mata. Seketika ia ingat akan hutang budinya yang besar. Jika bukan karena Sean, maka dia mungkin tidak akan hidup seperti saat ini. Entah hidup atau mati, yang jelas, tidak akan hidup seperti sekarang.


"Aku ... tahu kalah aku berhutang budi pada kak Sean, Ma. Tapi, aku saat ini masih bingung dengan apa yang harus aku lakukan. Apakah aku harus bersikap berlawanan dengan hati kecilku?" Meta bertanya dengan wajah yang benar-benar memperlihatkan kebingungan.

__ADS_1


Melihat hal itu, papanya lalu menyentuh pelan bahu anak gadisnya. "Kami tidak ingin memaksa kamu berbuat apa yang tidak kamu sukai, Meta. Tapi, ingat satu hal. Apa yang sudah kamu lalui selama ini, sebaiknya bisa kamu jadikan pelajaran berharga, Nak. Jangan sampai kamu salah langkah lagi."


"Iya, Met. Mama sama papa tetap akan mendukung apapun yang kamu pilih. Tapi ingatlah, jangan pilih hal yang salah. Jangan buat orang lain kecewa, Nak. Karena kamu sudah tahu, dikecewakan itu sungguh sakit rasanya. Jadi, mama harap kamu tahu apa yang kamu pilih."


Meta tidak menjawab. Dia tahu apa yang sebenarnya diinginkan oleh kedua orang tuanya saat ini. Meskipun mereka tidak memaksa, tapi mereka menginginkan hal tersebut dengan sangat. Dan, hutang budi yang besar membuat Meta tidak punya pilihan.


'Baiklah. Jika Tuhan mengizinkan, maka aku akan bersama kak Sean. Meski tidak ada rasa cinta yang hadir diantara aku dengannya, tapi mungkin, hidup dengan orang yang mencintai itu lebih baik dari pada hidup dengan orang yang kita cintai, tapi tidak mau membalas rasa cinta kita.'


'Mama dan papa benar. Aku tahu bagaimana rasanya disakiti, dikecewakan, dan dicampakkan. Maka dari itu, aku tidak boleh membuat orang lain merasakan apa yang aku rasakan. Apalagi orang itu adalah, kak Sean.'


Dan, pada akhirnya, makan malam berakhir keluarga langsung selesai tanpa menunggu Meta menyelesaikan makanannya terlebih dahulu. Karena sekarang, dia sibuk dengan pikirannya sendiri.

__ADS_1


__ADS_2