
Meta yang hanya menerima setiap permainan Sean, pada akhirnya ikut ambil andil. Meski dia belum pernah melakukan hal tersebut sebelumnya, tapi respon dari tubuhnya sendiri tidak bisa ia cegah. Sambil menutup matanya rapat-rapat, Meta menikmati malah bahagia itu bersama sang suami.
Malam semakin larut. Sean yang sudah berpengalaman melakukan hal terindah bersama Meta dengan sebaik mungkin.
Menikmati hubungan yang sudah lama tidak ia rasakan bersama istri tercinta. Sean memperlakukan Meta dengan selembut mungkin.
Malam itu, Sean menghabiskan waktu hampir semalaman untuk membahagiakan Meta. Sampai, mereka bangun kesiangan karena habis berbahagia dengan malam pertama pernikahan mereka.
.....
Setelah malam itu, hubungan romantis rumah tangga Sean dan Meta semakin terjalin dengan indah. Selalu ada kemesraan di antara mereka berdua.
Sean yang sangat romantis, selalu berusaha membuat Meta merasa paling bahagia menjadi seorang istri. Sedangkan Meta, sepertinya, dia sudah menemukan benih cinta dalam hatinya saat ini.
Hingga, beberapa bulan pun berjalan dengan sangat luar biasa. Sampai kabar yang paling membahagiakan datang. Yaitu, Meta hamil.
Karena kehamilan itu, pertanyaan besar pun terdengar. Bagaimana tidak? Kehamilan itu membuat kesetiaan Meta tiba-tiba dipertanyakan. Karena sebelumnya, Sean tidak bisa memberikan keturunan.
__ADS_1
"A-- apa? Meta hamil?" Sean dengan nada terkejut berucap saat dokter menjelaskan kalau istrinya saat ini tidak sakit apa-apa. Melainkan, bawaan karena sedang dalam tahap hamil muda.
"Iya. Istri anda sedang hamil muda saat ini. Usia kehamilan baru menginjak enam minggu." Dokter menjelaskan dengan seksama.
Hal tersebut semakin membuat Sean tak karuan. Karena yang dia tahu, dirinya tidak bisa memberikan anak untuk Meta.
"Tidak mungkin. Istri saya tidak mungkin hamil sekarang, Dok. Karena .... " Sean langsung menggantungkan kalimatnya. Karena dia tidak tahu harus bicara apa saat ini.
"Lho, kenapa tidak mungkin? Pemeriksaan kami tidak mungkin salah, Tuan Sean. Karena kami sudah melakukan serangkaian tes sebelum berita ini saya sampaikan pada anda. Dan, USG juga sudah kami lakukan. Calon bayi anda sedang berkembang dengan baik saat ini."
"Ba-- baiklah kalau gitu. Saya percaya kalau istri saya sedang hamil saat ini. Tapi, saya mohon satu hal pada dokter. Tolong, rahasiakan kehamilan ini pada siapapun. Termasuk, pada Meta yang masih melakukan tes di dalam sana. Apakah bisa?"
Dokter itu langsung memasang wajah bingung.
"Maksud anda, saya harus merahasiakan pada istri anda?"
"Iy-- iya." Sean berucap sambil mengangguk pelan.
__ADS_1
"Maaf, bukan saya tidak ingin melakukan apa yang anda katakan, tuan Sean. Tapi, istri anda sudah tahu duluan soal kabar kehamilan ini. Karena pemeriksaan itu dia lakukan sebelumnya, bukan?"
Ucapan itu langsung membuat Sean menepuk jidatnya pelan. Karena terlalu panik, ia jadi terlihat agak bodoh dengan meminta dokter merahasiakan apa yang tidak bisa dirahasiakan. Karena tentu saja, orang yang punya badan tahu duluan dari pada orang lain.
Sean yang diam tanpa bicara membuat dokter menatap bingung selama beberapa saat. Mungkin, karena prihatin, si dokter pun langsung berucap. "Sebenarnya, apa yang anda cemaskan, tuan Sean? Saya merasa ada yang anda pikirkan. Tidak seperti calon orang tua pada umumnya. Mereka pasti sangat bahagia jika tahu bahwa istrinya sedang hamil. Tapi anda ... berbeda dari yang lainnya. Anda malah terlihat cemas, bahkan kecewa saat ini."
"Mm ... itu ... itu adalah rahasia keluarga saya. Jadi, maaf, saya tidak bisa bicara dengan dokter saat ini."
Dokter tersebut semakin menatap kearah Sean dengan tatapan lekat. "Baiklah. Kalau itu yang tuan Sean katakan, maka saya tidak akan bertanya lagi. Tapi, jika ada keluhan lainnya, anda bisa katakan langsung pada saya."
Sean terdiam. Namun, hatinya berkata dengan cepat, 'keluhan? Mungkinkah .... ' Lalu, benak Sean dengan cepat memikirkan sesuatu.
"Dokter, saya ingin tanya sesuatu. Apakah ... pria yang tidak normal, maksudku, pria yang awalnya tidak bisa punya keturunan bisa diobati?" Sean berkata dengan wajah ragu. Tapi, ucapan itu terucap denhan lancar karena saat ini, yang ia pikirkan hanyalah anak dalam kandungan Meta. Karena itu, rasa malunya seakan tidak ada lagi.
Dokter terlihat cukup kaget. Namun, sebagai seseorang yang sudah terdidik dengan mental kuat, dokter tersebut masih menampilkan sikap tenang ketika pertanyaan yang cukup mengejutkan itu Sean ucapkan.
"Tuan Sean, kemungkinan dan mukjizat itu ada. Sebagai sesama manusia, kita wajib meyakininya. Jika prediksi dokter, itu masih tidak akurat. Tapi, kemungkinan benar memang cukup besar."
__ADS_1