Cinta Atau Hutang Budi

Cinta Atau Hutang Budi
*Part 29 Serakah


__ADS_3

"Kamu ingin belajar? Bagaimana jika kamu tidak berhasil dalam belajarmu nanti, kak? Apakah pernikahan kita akan berakhir sia-sia saja?"


Jaka lagi-lagi terdiam. Karena dia masih tidak punya jawaban untuk menjawab apa yang Meta tanyakan barusan. Sementara Meta, dia yang sudah membulatkan tekat untuk menyerah, kini langsung mengangkat bibir untuk bicara lagi.


"Kak Jaka, aku sudah berikan kamu waktu untuk belajar selama lebih dari satu setengah tahun. Tapi nyatanya, waktu itu masih belum cukup buat kamu ternyata. Oleh karena itu, aku tidak akan bertahan lagi, Kak. Maafkan aku, sekarang aku memilih menyerah."


"Oh ya, Kak. Di samping kamu juga sudah ada perempuan lain sekarang. Dia juga datang untuk kamu. Dengan wasiat yang orang tuanya tuliskan buat kamu. Sebaiknya, kamu nikahi saja dia. Dan, belajarlah untuk mencintainya pula. Aku yakin, kali ini, kamu pasti bisa."


Sesungguhnya, kata-kata yang terucap secara lancar itu sangat menyakitkan buat Meta. Ingin sekali dia bicara sambil menangis. Tapi, rasanya air mata sudah tidak ingin tumpah lagi.


Entah karena terlalu kecewa sampai tidak ada rasa sedih yang bisa ia rasakan lagi. Atau mungkin karena puas. Puas akan kebenaran yang bisa ia ucapkan dengan lancar tanpa ada hambatan sedikitpun. Yang jelas, dia tidak lagi menjatuhkan air matanya sekarang.


Sementara itu, Jaka yang mendengar apa yang Meta katakan barusan langsung memasang wajah yang semakin bersalah saja. Dia tahu apa maksud dari kata-kata yang Meta ucapkan barusan. Karena itu, dia merasa semakin tidak enak hati sekarang.

__ADS_1


"Bagaimana ... jika aku menikahi kalian berdua sekaligus? Bukankah pria bisa mempunya istri lebih dari satu?"


Sontak, penuturan yang Jaka ucapkan dengan wajah tenang tanpa ada rasa bersalah itu membuat Meta dan Nika sama-sama memasang wajah kaget. Mereka berdua sangat terkejut dengan apa yang baru saja Jaka katakan pada mereka.


"Apa!? Kak Jaka (Mas Jaka) ingin menikahi kami berdua sekaligus!?" Keduanya berucap serentak sambil memperlihatkan wajah yang sungguh sangat tidak percaya dengan apa yang Jaka katakan barusan.


"Hah, ha ha ha .... Kak Jaka kok jadi rakus sekarang. Kamu tidak cukup sudah membuat aku tersiksa akan penantian yang cukup lama kemarin? Sekarang, kamu ingin pula mengikat aku dengan pernikahan yang tidak masuk akal, kak? Satu suami dua istri. Kamu pikir, itu mudah untuk dijalani? Akan ada hati yang terluka. Bagaimanapun kamu berusaha bersikap adil, tidak akan ada yang meras puas." Meta bicara panjang lebar dengan nada tegas.


Setelah kata-kata itu selesai ia ucapkan, Meta pun langsung melepas napas lega. "Kita memang tidak ditakdirkan untuk bersama, kak Jaka."


Lalu, Meta langsung meninggalkan Jaka dan Nika. Sementara itu, Nika terlihat cukup merasa tidak nyaman dengan apa yang baru saja terjadi. Selain karena ucapan Jaka yang siap menikahi mereka berdua, sikap rela yang Meta perlihatkan sungguh luar biasa. Dia sendiri saja sepertinya tidak akan sanggup melakukan hal tersebut.


"Mas Jaka .... Aku .... "

__ADS_1


"Keputusan sudah diambil, Nik. Aku akan menikahi kamu secepatnya. Sekarang, ikut aku bertemu orang tua Meta. Aku akan jelaskan semuanya pada kedua orang tua Meta siang ini juga."


"Tapi ... Mas Jaka. Aku .... "


"Junika, kamu bawa wasiat dari orang tua kamu, bukan? Jadi, alasan itu sudah cukup untuk aku membatalkan pernikahan ku dengan Meta. Sekarang, kamu mau bantu aku atau tidak?"


Nika hanya terdiam dengan mata yang menatap lekat Jaka. Sebenarnya, ada rasa yang semakin tidak nyaman saja dalam hati Nika saat ini. Soal Jaka yang sebenarnya entah cinta atau tidak dengan dirinya. Lalu, soal Jaka yang begitu mudah memutuskan hubungan antara dirinya dengan Meta.


Sungguh, Jaka sepertinya bukan lelaki yang tepat untuk dia jadikan suami. Tidak sama dengan apa yang dia bayangkan sebelumnya. Saat Jaka masih tinggal bersamanya waktu itu, Jaka terasa sangat manis sebagai pria. Jadi, dia mengutarakan isi hatinya pada sang ayah ketika masih hidup.


Lalu, saat sang ayah ingin pergi untuk selama-lamanya, sang ayah pun langsung menyampaikan wasiat itu. Di saksikan beberapa orang warga kampung yang kebetulan berada di kediaman mereka, sang ayah menulis wasiat itu dengan tangannya sendiri.


Dan sekarang, Jaka yang dia harapkan sungguh tidak sama dengan sebelumnya. Bagaimana dengan wasiat yang ayahnya berikan jika ia ingin membatalkan niat buat menikah dengan Jaka saat ini?

__ADS_1


__ADS_2