
"Aku bisa, kak Sean. Tapi, apa yang terjadi dengan kakak? Apa yang sedang kak Sean rasakan saat ini, kak?"
"Aku ... punggungku terasa sangat sakit. Rasanya, seperti di tusuk-tusuk. Aku tidak bisa mengemudi saat ini. Dan, jika meminta bantuan, datangnya pasti cukup lama. Jadi, aku minta kamu yang bawa mobil itu sekarang juga."
Meta lalu mengikuti apa yang Sean katakan. Dengan wajah yang masih sangat cemas, Meta lalu menjalankan mobil Sean.
Mobil berjalan dengan kecepatan sedang membelah jalan raya yang ramai. Tapi Meta sama sekali tidak bisa fokus dengan jalan yang dia lalui. Karena dia merasa, Sean semakin terlihat sangat kesakitan. Dan, usahanya untuk menahan rasa sakit itu juga terlihat semakin besar.
Keringan dingin bercucuran. Sean menggenggam erat tangannya di dada. Sepertinya, dia sungguh tidak kuat lagi.
'Kita harus ke rumah sakit sekarang juga, kak. Maaf, aku tidak bisa bertanya padamu lagi ke mana kita harus pergi. Karena saat ini, perawatan untuk kamu adalah hal yang terpenting,' kata Meta dalam hati.
Meta pun mengarahkan mobil menuju rumah sakit. Sedangkan Sean, dia tidak menghiraukan akan jalan yang sedang mereka lewati. Entah karena terlalu sakit, jadi Sean sama sekali tidak fokus dengan sekeliling. Tapi yang jelas, dia tidak berucap sedikitpun.
Beberapa saat kemudian, akhirnya, mobil yang Meta kemudi tiba juga di depan rumah sakit. Rumah sakit terkenal, yang entah kenapa dia bisa tiba di sana. Yang jelas, dia hanya mengikuti dan memilih rumah sakit terdekat yang bisa ia capai dengan segera.
__ADS_1
Meta turun, lalu bergegas membuka pintu di mana Sean berada.
"Kak Sean, Ayo!"
Sean baru sadar akan dunia sekeliling ketika ucapan itu menyentuh kupingnya. Dengan sekuat tenaga, dia berucap. "Di-- di mana ini ... Meta?"
"Di rumah sakit, kak. Maaf aku tidak bicara padamu terlebih dahulu. Kita harus memeriksa kondisi terlebih dahulu sekarang."
Sean tidak menjawab. Sementara Meta langsung sibuk membantu Sean bangun dan turun dari mobil.
Meta memapah Sean sampai ke dalam rumah sakit. Ketika tiba di dalam, Sean dan Meta langsung di sambut oleh seorang dokter yang kebetulan melihat kedatangan mereka berdua.
"Tolong ... kak Sean sepertinya sangat kesakitan. Aku tidak tahu kenapa, tapi dia bilang, tulang punggungnya terasa sangat sakit seperti di tusuk-tusuk dengan keras."
Meta menjelaskan pada si dokter seperti apa yang Sean keluhkan padanya tadi. Tapi, ekspresi dokter yang mendengar ucapan Meta barusan terlihat semakin panik saja. Yang sepertinya, dokter itu cukup tahu apa yang Sean alami saat ini.
__ADS_1
"Ya Tuhan! Ya Tuhan. Kenapa bisa begini," ucap si dokter sambil melakukan apa yang harus dia lakukan.
Dokter itupun langsung memanggil perawat, juga salah satu teman dokternya yang lain. Seketika, tim medis itupun terlihat sibuk mengurus Sean. Dan Meta, tentu saja terabaikan sekarang.
Namun, Meta maklum akan hal itu. Secara, Sean ini adalah anak keluarga nomor satu di kota ini. Yah, meskipun anak angkat, tapi tetap saja, kedudukan Sean tidak akan pernah berubah.
Keluarga Sean sama sekali tidak menganggap Sean sebagai anak angkat. Bahkan, dia di warisi setengah dari perusahaan yang keluarga itu miliki. Sama seperti bagian anak kandung dari keluarga tersebut.
Keluarga Kusuma Diningrat. Tentu saja Meta kenal dengan keluarga ini. Karena anak kandung dari keluarga ini adalah Jesika, yang tak lain adalah adik angkat dari Jaka. Calon suaminya yang sekarang, entah bagaimana kelanjutan hubungan mereka setelah kejadian tadi siang. Meta juga tidak tahu kedepannya.
Mengingat semua itu, hati Meta rasanya sedih kembali. Ingin rasanya dia pergi sekarang juga dari rumah sakit ini. Tapi, dia tidak enak untuk meninggalkan Sean di sana sendirian. Karena dia merasa berhutang budi. Sean begini akibat melawan para preman untuk menyelamatkan dirinya tadi.
"Apa yang harus aku lakukan sekarang? Apa aku harus tetap bertahan di sini? Tapi ... bagaimana jika mama ... ya Tuhan. Aku pasti sudah membuat mama cemas. Aku pergi sudah sangat lama."
Mendadak, Meta merasa sangat bersalah akibat pergi tanpa mengabari kedua orang tuanya. Meta pun berusaha mencari benda berharga yang selalu ia bawa ke manapun dia pergi.
__ADS_1
Sayang sekali, apa yang dia cari tidak dia temukan. Saat itu, dia baru ingat di mana benda itu berada. Meta pun langsung menepuk pelan jidatnya sendiri.
"Ya ampun. Aku lupa bawa barang-barang ku saat pergi. Tas, ponsel juga dompet tertinggal di meja ruangan mbak pemilik butik. Bagaimana caranya aku bisa menghubungi mama dan papa ya?"