
Sementara itu, Jaka yang melihat Nika menangis, tiba-tiba langsung menarik Nika ke dalam pelukannya. Entah kenapa, rasanya, itu sangat menyakitkan buat Meta sekarang.
"Maafkan aku, Nika. Maaf. Aku sungguh sangat minta maaf padamu." Jaka berucap lirih sambil memeluk Nika dengan erat juga penuh kasih sayang.
"Tolong jangan menangis lagi, Nika. Aku mohon." Jaka berucap lirih dengan nada yang dipenuhi rasa bersalah.
Seketika, Nika yang awalnya menikmati pelukan Jaka pun langsung mendorong Jaka menjauh dari dirinya. Pelukan itupun terlepas dengan cepat.
Nika lalu menatap Jaka dengan tatapan tajam.
"Kamu akan menikahi perempuan itu, Mas? Lalu, bagaimana dengan aku sekarang, hah? Bagaimana dengan wasiat ayah? Apa kamu ingin mengabaikannya begitu saja?"
"Maafkan aku, Nika. Tapi aku ... aku terpaksa harus menikah dengannya. Karena aku, sudah banyak berhutang budi dengan dia. Aku tidak bisa mengabaikan semua budi yang dia berikan untuk aku juga keluargaku selama ini."
Ungkapan itu sontak sangat menyakitkan hati Meta. Kini, dia baru tahu kalau pernikahan yang akan dia lakukan hanya sebatas hutang budi saja. Bukan menikah karena cinta, akibat sering bersama.
Dunia Meta kini semakin hancur. Tak bisa ia tahan air mata yang ingin jatuh melintasi kedua pipi putih nan mulus yang dia miliki.
Bibir Meta juga bergetar akibat rasa sakit yang ada dalam hatinya saat ini. Tanpa ia sadari, bibirnya perlahan bergumam kata-kata yang sebenarnya tidak ingin dia ucapkan.
"Hu-- hutang budi?" Meta berucap lirih.
__ADS_1
Ucapan itu langsung membuat Jaka dan Nika kaget. Sontak, Jaka pun langsung menoleh ke arah belakang, tempat di mana suara itu berasal.
"Meta." Jaka memanggil dengan nada kaget.
"Jadi, pernikahan yang akan kita lakukan hanya karena hutang budi saja, kak?" Meta berusaha mengigit bibir agar dia tetap sadar akan di mana dia saat ini. "Aku sungguh tidak menyangka akan hal itu," kata Meta lagi.
"Meta. Ini .... "
Meta langsung mengangkat satu tangannya. Menandakan kalau dia tidak ingin mendengarkan apa yang akan Jaka katakan padanya sekarang.
"Sudah, kak Jaka. Aku sudah mendengar semuanya. Jangan merasa bersalah. Karena aku tulus membantu kamu juga keluargamu."
"Memang, aku sangat mencintai kamu selama ini. Tapi, jika harus menikah hanya karena balas budi, aku tidak akan bersedia untuk melanjutkan pernikahan ini. Karena awalnya, aku pikir kamu ingin menikahi aku karena kamu jatuh cinta padaku setelah semua yang kita lewati bersama."
"Sekarang, sebaiknya kita akhiri saja. Aku sungguh tidak ingin terluka lebih dalam lagi. Menikahlah dengan wanita yang kamu cintai. Karena itu akan lebih baik buat kita semua."
Setelah berkata begitu, Meta langsung beranjak meninggalkan Jaka. Sementara Jaka yang merasa sangat bersalah, ingin langsung mengejar Meta. Namun, tangannya tiba-tiba di tahan oleh Nika. Karena Nika juga ingin kepastian yang sama saat ini.
"Meta!"
"Mas Jaka."
__ADS_1
"Maaf, Nika. Aku harus bicara baik-baik dengan Meta sekarang. Aku yakin, kalau .... "
"Kalau apa, Mas? Kalau kamu bukan hanya ingin menikah karena balas budi saja? Kalau begitu, bagaimana dengan aku? Berikan juga aku jawaban yang pasti agar aku tidak terus menunggu lebih lama lagi. Karena selama ini, aku sudah cukup menunggu, Mas."
"Nika ... aku .... "
"Jangan terlalu lemah jadi pria, Mas Jaka. Karena jika kamu lemah, maka kamu tidak akan bisa memutuskan jalan hidupmu sendiri sampai kapanpun."
"Baiklah kalau begitu, sekarang, aku harus mengejar Meta terlebih dahulu. Karena dia yang lebih penting untuk aku ajal bicara saat ini," ucap Jaka dengan nada tegas.
Saat kata-kata itu terucap, Nika paham dengan bagaimana posisi dirinya sekarang. Meski dengan sangat berat hati, dia lepas tangannya dari tangan Jaka secepatnya.
"Kalau begitu, pergilah sekarang juga! Aku sudah tahu apa jawabanmu untuk aku. Semoga kamu bahagia dengan pilihanmu, Mas." Nika berucap lirih.
"Selamat tinggal buat selamanya. Semoga kita tidak akan pernah bertemu lagi."
Kata-kata itu langsung menghentikan langkah Jaka. Karena tiba-tiba, dia juga merasa sakit akibat ucapan selamat tinggal yang Nika katakan barusan.
"Nika, tunggu! Jangan pergi dulu. Aku masih belum memutuskan semuanya. Jadi tolong, tunggu aku bicara dengan Meta sebentar."
"Tapi Mas, aku juga bukan perempuan yang jahat. Dan, aku tidak ingin jadi perempuan yang jahat juga egois. Jika kamu memilih gadis itu, maka aku akan terima dengan lapang dada."
__ADS_1
"Tapi aku belum memutuskan akan hal itu, Nika. Karena selama ini ... aku juga merindukan kamu. Hanya saja, aku masih belum bisa bertemu dengan kamu."