Cinta Atau Hutang Budi

Cinta Atau Hutang Budi
*Part 31 Kekesalan Jesi


__ADS_3

Mungkin, mama Meta tidak bisa menahan diri atas apa yang sedang terjadi. Karena sebelumnya, dia berharap cukup banyak pada Jaka. Lagipula, dia tahu, anaknya sangat mencintai Jaka selama ini.


Namun, karena itu adalah keputusan yang anak mereka ambil. Maka mama Meta mendukung sepenuhnya. Dia tahu, kebahagiaan anaknya tidak mungkin ada duanya. Jika sang anak sudah menolak dan merelakan apa yang tidak bisa ia miliki. Maka dia harus mendukung keputusan itu dengan sekuat tenaga.


....


Pembatalan pernikahan itu akhirnya sampai ke telinga Jesi dan keluarga. Karena itu, Jesi sangat kesal dengan apa yang sudah kakak angkatnya buat. Jaka dipanggil oleh Jesi ke rumah untuk bicara.


Dengan rasa bersalah, Jaka memenuhi panggilan itu. Datang pada sore hari ke kediaman Wijaya, karena Jesi tinggal di rumah tersebut.


"Apa sih yang sudah kak Jaka lakukan, hah? Kenapa bisa jadi berantakan seperti ini? Kakak ini lupa dengan apa yang sudah Meta lakukan untuk kakak selama ini. Bukan hanya sebentar, Kak. Tapi lebih dari satu setengah tahun. Kak Jaka gak mempertimbangkan soal itu?"


Jesika berucap dengan nada berapi-api. Karena dia sangat menyayangkan pembatalan pernikahan yang dia dengar dari kedua orang tua Meta melalui panggilan vidio call siang tadi.

__ADS_1


"Maaf, Jesi. Kakak gak punya pilihan lain. Mungkin, dengan begini, semuanya akan hidup dengan bahagia. Tanpa ada yang harus tersakiti."


"Ya Tuhan. Kok enteng banget kamu bicaranya, kak."


"Sayang, sudahlah. Kakak kamu tahu apa yang terbaik buat dia. Lagian, yang membatalkan pernikahan juga bukan dia, kan? Tapi, pihak perempuan." Jonathan, suami Jesi berucap dengan nada lembut sambil membelai bahu sang istri.


"Iya, Nak. Apa yang Jona katakan itu ada benarnya. Tidak perlu menyalahkan Jaka seperti itu. Karena dia tahu apa yang terbaik buat hidupnya." Papa mertua Jesi juga ikut bicara untuk menenangkan hati Jesi yang sedang terbakar api kekesalan saat ini.


"Tapi, Pa. Jesi kesal lho dengan sikap kak Jaka. Bisa-bisanya dia bikin ulah. Dia gak akan bisa menemukan gadis sebaik Meta lagi nantinya. Meta itu sangat baik. Jesi yakin kalau dia mampu menjaga kak Jaka setelah mereka menikah nanti."


"Udah ya, jangan memaksakan takdir lagi. Anggap saja ini adalah hal yang memang sudah direncanakan yang maha kuasa. Mereka tidak untuk memiliki satu sama lain. Jadi, berpikir positif saja. Jangan menyalahkan kak Jaka mu lagi sekarang."


"Apa yang Jona katakan benar, Nak. Jodoh gak bisa dipaksa, bukan? Garis takdir tidak bisa diubah. Meski Jaka sudah banyak termakan budi, mungkin tidak dengan cara pernikahan untuk membalas budi yang gadis itu berikan. Mungkin juga, ada cara lain yang pada suatu hari nanti akan terlihat," ucap papa mertua juga ikut menenangkan Jesika.

__ADS_1


Jesi terdiam. Sementara Jaka hanya bisa menundukkan kepala. Sebenarnya, dia sungguh sangat tidak nyaman sekarang. Ada banyak rasa yang kini menggumpal dalam hatinya. Yang tidak bisa ia cerna satu persatu untuk dia ungkapkan saat ini.


Karena itu, hanya satu kata maaf saja yang bisa dia ucapkan buat adik angkatnya yang sedang kesal. "Maaf."


"Maafkan kakak, Je. Kaka tidak bisa memenuhi apa yang kamu harapkan lagi sekarang. Kakak benar-benar merasa bersalah padamu."


"Ah ... sudahlah. Aku juga tidak tahu harus bicara apa. Aku memang kesal pada kak Jaka yang tidak bisa membalas budi dengan cara menikahi Meta. Aku begitu karena aku tahu, Meta sangat mencintai kakak. Dia adalah pilihan terbaik untuk dijadikan istri agar kak Jaka terjaga dengan baik. Tapi ... seperti yang suami juga papa katakan, mungkin benar kalau kak Jaka dengan Meta tidak berjodoh. Jadi, yah, tidak ada yang bisa kita lakukan lagi sekarang."


Pada akhirnya, Jesi juga ikut menyerah. Dia pun membiarkan kakak angkatnya buat menikah dengan Nika. Perempuan yang tidak ia ketahui asal usulnya. Tapi, ya mau bagaimana lagi? Yang menjalankan hidup itu Jaka, bukan dia.


Meskipun dia sayang dengan Jaka seperti kakak kandungnya sendiri. Tapi jalan hidup juga tidak bisa ia paksakan. Apa yang harus terjadi, memang tetap harus terjadi.


....

__ADS_1


Meta masih mengurung diri di dalam kamar setelah pembatal pernikahannya. Niat untuk menjenguk Sean juga ia batalkan kemarin. Karena dia masih tidak bisa bertatap muka dengan siapapun.


Bukan karena perasaan menyesal atas keputusan yang sudah dia ambil. Tapi, karena belum siap dengan pertanyaan orang luar saja. Karena pertunangannya tersebar luar, maka saat pembatalan pernikahan juga akan banyak pertanyaan yang akan menghampiri Meta nantinya.


__ADS_2