Cinta Atau Hutang Budi

Cinta Atau Hutang Budi
*Part 27 Nguping


__ADS_3

Meta kini sudah ada di taman tempat ia dan Jaka janjian. Sebenarnya, dia malah untuk datang ke tempat tersebut, tapi karena ingat akan masalah yang harus ia selesaikan, maka sebelum menjenguk Sean di rumah sakit, Meta memilih datang ke taman terlebih dahulu untuk bertemu dengan Jaka.


"Ke mana dia? Apa dia masih belum datang juga?" Meta bertanya pada dirinya sendiri sambil celingak-celinguk untuk memastikan orang yang dia cari datang atau belum.


Meta lalu menghempaskan bokongnya ke atas kursi kayu yang ada di pojokan taman. Tempat biasa mereka bertemu.


"Huh, sudah aku duga kalau kak Jaka pasti datang terlambat lagi. Seperti biasa, aku yang akan selalu menunggunya. Sementara dia .... "


Tiba-tiba, ucapan Meta tertahan ketika dia mendengar suara yang sungguh tidak asing lagi baginya. Suara itu berasal dari arah belakang Meta. Dari arah tanaman hias yang cukup rimbun yang tidak bisa ia lihat jika tidak berjalan ke depan. Karena tanaman hias itu berjejer rapi bak pagar pohon yang menjadi pembatas antara dua bagian sisi tanam tersebut.


Meta terdiam untuk mendengarkan pembicaraan dua manusia yang satunya cukup ia kenal dengan baik. Sementara yang satunya lagi, masih tidak ia hafal siapa pemilik suaranya. Karena itu suara baru, yang tak lain adalah suara perempuan.


"Mas, bagaimana? Apa perempuan itu sudah pulang? Apa dia baik-baik saja, Mas?"


"Yah, dia baik-baik saja, Nika. Kamu tidak perlu cemas. Karena dia gak papa."

__ADS_1


"Ah, syukurlah kalo dia baik-baik saja. Aku sedikit cemas saat tahu dia masih belum pulang ketika malam semakin larut. Aku takut, dia itu perempuan, Mas. Jadi .... "


"Kamu juga perempuan, Nika. Kamu juga tinggal sendirian tadi malam, bukan?"


"Iya. Aku tinggal di hotel, Mas. Sedangkan dia, gak tahu di mana dia berada."


"Yah, apa yang kamu katakan benar. Tapi sekarang, dia sudah baik-baik saja. Aku ajak dia buat bertemu di sini, tapi dia masih belum datang. Aku sudah menunggu setengah jam, tapi tidak melihat dia datang. Aku rasa, dia masih kesal padaku karena masalah yang kemarin."


"Tentu, Mas. Sebagai perempuan, aku juga merasakan hal yang sama dengan apa yang dia rasakan. Aku juga kesal padamu. Tapi, aku tahu, kamu juga berada di kedua sisi yang sulit."


"Maksudku, kamu pasti sangat bingung saat ingin mengambil keputusan. Iya, kan? Secara, kamu sudah terlalu banyak berhutang budi padanya."


Sunyi seketika setelah ucapan itu terdengar. Meta yang sedang menguping tentu merasa tidak sabar lagi untuk mendengar jawaban yang Jaka berikan. Benarkah Jaka sangat bingung ketika ingin mengambil keputusan? Atau, ini hanya pendapat si perempuan yang bernama Nika saja? Meta cukup ingin tahu apa yang akan Jaka jawaban.


'Tuhan, jika aku yang memaksa kak Jaka untuk mengambil keputusan yang tidak ia inginkan. Maka maafkanlah aku. Aku tidak akan menerima pernikahan ini. Karena aku yakin, dia hanya terpaksa, bukan karena hatinya sendiri yang menginginkan.' Meta berkata dalam hati sambil menggenggam tangannya ke arah dada.

__ADS_1


Lalu, setelah beberapa saat diam. Meta kembali bisa mendengar obrolan dari arah depan yang kini masih terhalang tumbuhan hias.


"Sejujurnya iya, Nika. Aku memang masih sangat bingung ketika mengambil keputusan waktu itu. Aku tidak tahu dengan apa yang hatiku inginkan. Aku ingin menikah dengannya, atau tidak."


Seketika, buliran bening tidak bisa Meta tahan lagi. Jika masih ragu, kenapa harus dia melanjutkan hubungan ini. Apalagi sampai kejenjang pernikahan. Karena pernikahan itu bukan mainan. Melainkan, menyatukan dua insan agar bisa membena keluarga supaya hidup bahagia bersama.


'Kalau begini, aku tidak akan menikah dengan kak Jaka lagi. Aku akan putuskan sekarang juga, kalau aku lebih baik tidak memiliki dia yang aku cintai dari pada aku memiliki dia dengan keterpaksaan hatinya. Aku tidak akan egois dalam cinta.'


Meta pun langsung menyeka air mata yang telah tumpah. Dia segera melangkah meninggalkan tempat tersebut secepat mungkin. Tujuannya sekarang adalah, bertemu secara langsung dengan Jaka. Dan, selesaikan semuanya sekarang juga.


Sementara itu, Nika dan Jaka sedang berpelukan. Nika yang cukup paham dengan keadaan Jaka saat ini, ingin memberikan yang terbaik agar dia bisa menenangkan hati Jaka.


Tapi sayang, apa yang ia lakukan memang terkesan agak berlebihan. Memberikan pelukan pada seorang calon suami orang lain. Itu adalah hal yang salah besar.


"Mas Jaka. Kamu tenang saja. Aku yakin apapun yang kamu pilih adalah hal yang paling baik buat hidupmu. Jadi, putuskan lah sesuai apa yang ada dalam hati kamu, Mas. Aku rela menerima semua keputusan kamu."

__ADS_1


__ADS_2