
Saran dari karyawan itu langsung Meta terima. Dengan langkah besar, karena hatinya dipenuhi dengan rasa penasaran, Meta berjalan cepat meninggalkan si karyawan. Tentunya, setelah mengucapkan kata terima kasih atas penjelasan yang si karyawan itu berikan sebelumnya.
"Siapa sih perempuan yang memanggil kak Jaka itu? Aku jadi sangat ingin tahu," kata Meta sambil celingak-celinguk memperhatikan sekeliling.
Meta pun akhirnya melihat keberadaan Jaka. Tapi, dia masih tidak bisa melihat keberadaan orang lain di sana. Memang, Jaka seperti sedang bicara dengan seseorang, tapi sayang, Meta tidak bisa melihat orang itu karena terhalang tubuh Jaka.
Meta berniat ingin menghampiri agar tahu, siapa yang sedang Jaka ajak bicara. Dia pun berjalan dengan cepat mendekat.
Sementara itu, Jaka yang fokus dengan obrolannya tidak menyadari keberadaan Meta yang kini telah berada di belakangnya. Sedangkan orang yang Jaka ajak bicara, juga tidak bisa melihat Meta akibat terhalang tubuh Jaka.
"Aku sudah menunggu kehadiranmu selama lebih dari satu setengah tahun, Mas. Kamu bilang, kamu akan datang untuk kembali menemui aku. Tapi apa? Kamu sama sekali tidak datang padaku hingga ayah tiada."
Tiba-tiba, suasana mendadak hening. Mata keduanya pun saling beradu. Saling tatap satu sama lain selama beberapa saat.
"Mas Jaka. Aku juga tidak ingin memaksa kamu untuk menjadi suamiku. Tapi ayah, ayah sangat berharap kamu menikahi aku, Mas. Sampai-sampai, dia menulis surat wasiat ini untukmu."
__ADS_1
"Dia minta aku datang dan menyerahkan surat wasiat ini padamu," kata perempuan itu lagi sambil mengangkat tangannya yang di mana ada sebuah surat di sana.
Mendengar kata-kata itu, Meta yang ada di belakang Jaka, tentunya sangat terkejut bukan kepalang. Hatinya begitu hancur sekarang. Dunia serasa gelap seketika.
Bagaimana tidak? Dia tidak ingin berbagi suami kelak. Dia memang sangat mencintai Jaka. Tapi, jika untuk berbagi suami dengan perempuan lain, maka dia siap melepas cinta yang dia punya. Meskipun, apa yang sudah dia korbankan selama ini hampir saja dia dapatkan hasilnya.
Karena bagi Meta, lebih baik tidak bersama dari pada terluka dengan cara berbagi cinta. Karena jika terluka karena tidak bersama, itu lebih ringan rasa sakitnya dari pada bersama tapi terus-terus tersiksa. Dia bukan perempuan yang sabar, yang rela berbagi suami dengan perempuan lain.
Meta masih memilih bertahan saat kata-kata perempuan itu ia dengar. Karena meskipun sakit saat ini, tapi dia masih ingin mendengar jawaban Jaka sebagai pemutus segala permasalahan yang sedang ada saat ini. Jadi, dia berusaha tetap kuat untuk berdiri di sana.
Sementara itu, si perempuan yang ada di depan Jaka sekarang sedang menundukkan wajahnya. Lalu, dengan tangan yang ringan, Jaka langsung menyeka air mata si perempuan tersebut.
"Keluargaku ternyata hancur berantakan setelah aku kembali. Mamaku masuk rumah sakit jiwa. Adik kandungku masuk penjara karena ulahnya yang telah mencelakai adik angkat ku. Karena itu, aku tidak bisa datang menemui kamu."
Junika pun langsung menatap Jaka. Sepertinya, dia mencoba menemukan kebenaran dari apa yang Jaka katakan barusan.
__ADS_1
"Benarkah apa yang kamu katakan, Mas? Lalu ... bagaimana dengan sekarang? Aku sudah datang padamu. Apakah kamu akan membiarkan aku tetap tinggal di sisimu, Mas?"
Jaka langsung diam. Padahal, ini adalah hal yang paling Meta nantikan. Jawaban dari Jaka atas apa yang telah terjadi.
'Cepat katakan, kak Jaka! Aku sangat ingin tahu jawaban apa yang kamu punya untuk mengatasi masalah besar ini. Jangan biarkan hatiku yang hancur ini menunggu lama,' kata Meta dalam hati.
Lalu ... setelah lama terdiam, si perempuan juga sepertinya tidak sabar untuk menunggu lebih lama lagi. Akhirnya, dia memanggil Jaka untuk memaksa Jaka memberikan jawaban atas apa yang dia katakan.
"Mas Jaka. Tolong katakan apa yang harus aku lakukan sekarang? Haruskah aku kembali lagi? Atau .... "
"Nika, maaf. Sekarang, aku ... aku akan menikah dengan seorang perempuan yang selama ini sudah banyak membantuku juga keluargaku. Aku .... "
"Ap-- apa, Mas? Kamu ... kamu akan menikah?" Saat itu, air mata dari nika tidak bisa ia bendung lagi. Dengan derasnya air mata itu jatuh melintasi pipi.
Nika sepertinya sangat kecewa dan terluka. Sampai, suara tangisannya terdengar oleh Meta yang ada di belakang Jaka.
__ADS_1
Sementara itu, Jaka yang melihat Nika menangis, tiba-tiba langsung menarik Nika ke dalam pelukannya. Entah kenapa, rasanya, itu sangat menyakitkan buat Meta sekarang.
"Maafkan aku, Nika. Maaf. Aku sungguh sangat minta maaf padamu." Jaka berucap lirih sambil memeluk Nika dengan erat juga penuh kasih sayang.