Cinta Atau Hutang Budi

Cinta Atau Hutang Budi
*Part 43 Tes


__ADS_3

"Tuan Sean, kemungkinan dan mukjizat itu ada. Sebagai sesama manusia, kita wajib meyakininya. Jika prediksi dokter, itu masih tidak akurat. Tapi, kemungkinan benar memang cukup besar."


Penjelasan itu langsung membuat Sean memasang wajah bingung seketika. Tapi, si dokter tidak akan membiarkan Sean kebingungan terlalu lama. Maka, penjelasan langsung dokter itu lanjutkan.


"Tuan Sean. Usaha dan doa tidak akan mengkhianati hasil. Keyakinan yang kita miliki, akan terkabul. Jadi, maksud saya dengan penjelasan itu adalah, tidak ada yang tidak mungkin. Tuan Sean bisa saja di prediksi oleh dokter tidak bisa memberikan keturunan. Namun, siapa yang tahu jika yang maha kuasa berkehendak lain."


"Saran saya, lakukan tes lagi. Jangan sampai anda berpikir yang bukan-bukan dulu. Karena masih banyak cara untuk membuktikan sebuah kecurigaan. Masalah harus diselesaikan dengan pikiran yang tenang."


Ucapan dokter terasa seperti sebuah pencerahan dari orang bijak saja. Sean merasa, kalau dia sedang mendapat keberuntungan. Bertemu dengan dokter, sekaligus orang bijak yang bisa membuat pikirannya jadi agak tenang.


"Terima kasih banyak dokter, Musa. Saya akan mendengarkan apa yang dokter katakan."


Dokter itu hanya tersenyum saja. Selanjutnya, Sean ingin langsung meninggalkan ruangan si dokter setelah berpamitan. Tapi, di depan pintu ruangan tersebut, Sean langsung berpas-pasan dengan Meta. Yang ternyata, Meta sudah sejak lama berada di depan ruangan tersebut.


Awalnya, setelah melakukan pemeriksaan, dia diantar oleh salah satu suster untuk mendengarkan penjelasan dari dokter Musa. Tapi, saat ingat akan kelemahan Sean, dia malah tidak ingin ikut. Dia ingin menenangkan dirinya terlebih dahulu.


Meta malah memilih menunggu di depan ruangan si dokter. Siapa sangka, ucapan Sean dan dokter tersebut bisa ia dengar dari balik pintu masuk ruangan tersebut. Alhasil, diapun merasa sakit hati, takut, juga cemas akan pikiran Sean soal kehamilannya.


"Me-- Meta. Se-- jak ... sejak kapan kamu di sini?" Sean bicara dengan nada terputus-putusan karena gugup.

__ADS_1


"Kak Sean, kamu meragukan kesetiaan ku sekarang? Anak ini adalah anak kamu, kak. Aku .... "


"Meta. Ayo masuk mobil terlebih dahulu," kata Sean dengan cepat langsung memotong perkataan Meta. Dia juga memegang tangan Meta dengan lembut.


"Kak."


"Sayang, ayo! Kita bisa bahas soal ini berdua saja, bukan?"


"Iy-- iya, baiklah."


Meta lalu mengikuti langkah Sean menuju mobil. Seperti biasa, Sean membuka pintu mobil untuk Meta. Sikap Sean masih tidak berubah. Masih sama seperti sebelumnya.


"Aku tahu. Aku percaya padamu, Met. Kamu adalah istri setia. Kabar kehamilan ini memang sangat mengejutkan buat aku. Karena aku divonis tidak bisa memberikan keturunan untuk istriku. Tapi, seperti yang dokter Musa katakan, tidak ada yang tidak mungkin. Untuk itu, kamu tidak perlu merasa cemas. Aku percaya padamu." Sean berucap dengan suara lembut. Dia juga menyentuh pelan pipi Meta.


"Sekarang, aku antar kamu pulang."


"Kak Sean mau ke mana setelah kakak antar aku pulang?"


"Ke ... aku akan bicara dengan seseorang. Kamu sedang tidak fit. Jadi, kamu istirahat saja di rumah ya."

__ADS_1


"Bisakah aku ikut? Mm ... aku ingin ... berjalan-jalan. Maksudku, aku tidak ingin sendirian di rumah, Kak."


Meta bertingkah seperti itu karena firasatnya mengatakan kalau Sean akan bertemu dengan dokter pribadi keluarga Sean. Dokter yang selama ini selalu menangani masalah kesehatan Sean. Karena itu, Meta juga ingin mengetahui apa yang akan dokter tersebut katakan soal kekurangan yang selama ini divonis pada Sean.


Sementara itu, Sean terlihat agak keberatan dengan permintaan Meta. Tapi, dia sangat tidak ingin membuat istri kesayangannya ini kecewa. Karena itu, dia memilih setuju.


Mereka pun pergi menuju rumah sakit. Tidak ada pembicaraan yang terucap dari mulut keduanya. Sepanjang perjalanan, mereka berdua diam dengan pikiran masing-masing. Hingga mobil berhenti di parkiran rumah sakit besar kota tersebut.


Seperti yang sudah Meta duga. Sean mendatangi dokter pribadi keluarganya. Dia pun langsung masuk ke dalam dengan meninggalkan Meta di luar ruangan.


Meskipun berat hati, Meta tidak bisa menolak permintaan Sean yang hanya ingin bicara empat mata dengan dokternya. Meta terpaksa duduk di salah satu kursi tunggu dari ruangan tersebut.


Sementara itu, Sean langsung membahas prihal kehamilan Meta dengan si dokter setelah ia duduk di kursi yang ada di ruangan tersebut.


Tanggapan si dokter pun cukup membuat Sean jantungan.


"Apa!? Nona ... nona muda hamil? Yang benar saja, tuan muda."


Sean langsung menatap tajam si dokter. Yang pada akhirnya, si dokter langsung mengubah ekspresinya yang terkejut menjadi pura-pura biasa-biasa saja.

__ADS_1


"Aku ingin melakukan tes lagi. Aku penasaran, apakah aku memang tidak bisa memberikan keturunan? Tapi, kehamilan Meta sungguh hal yang tidak mudah diterima oleh akal, bukan?"


__ADS_2