
Meta pun memperhatikan sekeliling. Seketika, dia teringat akan telepon yang ada di meja resepsionis yang mungkin bisa ia gunakan untuk menghubungi mama dan papanya. Dia pun beranjak untuk menghampiri meja tersebut.
Tapi, baru juga beberapa langkah Meta pergi, seseorang malah sudah memanggil dia. Tentu saja hal tersebut langsung membuat langkah Meta terhenti seketika. Meta pun langsung memutar tubuh dengan cepat.
"Maaf, suster panggil saja?" tanya Meta sambil menatap bingung suster yang kini telah berada di depannya.
"Iya, mbak. Saya panggil, Mbak. Mm ... mbak ini ... mbak Meta, kan? Cewek yang datang bareng tuan muda Sean tadi."
"Iya, Sus. Saya Meta. Yang datang bareng kak Sean tadi. Maaf suster, ada apa ya? Kok kayak ada sesuatu gitu dengan saya? Apa ada hal yang harus saya lakukan?"
Tentu saja Meta merasa sedikit tegang. Secara, dia sudah menjadi penyebab Sean mengalami sakit parah seperti saat ini. Jika bukan karena dia, mana mungkin Sean berada di rumah sakit malam ini.
"Ikut saya sebentar, mbak Meta. Saya akan obati luka yang ada di bibir mbak Meta saat ini. Juga, pipi mbak yang terlihat sedikit bengkak itu harus saya obati. Ayo!"
Sontak, Meta jadi tenang. Tapi, dia merasa aneh dengan apa yang suster itu katakan. Bagaimana tidak? Kehadirannya sama sekali tidak diperhatikan sebelumnya. Tapi sekarang, suster itu malah ingin mengobati dirinya setelah beberapa waktu setelah Sean di bawa ke dalam sebuah ruangan yang berada tak jauh dari dia berdiri sekarang.
"Mm ... saya .... "
Seakan tahu apa yang Meta pikirkan, suster tersebut langsung menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.
__ADS_1
"Ini permintaan tuan muda, Mbak Meta. Dia bilang, mbak Meta harus segera diobati karena mbak Meta juga terluka."
"Oh .... " Meta hanya bisa berucap satu kata itu saja. Karena kini, pertanyaan yang ada dalam hatinya telah pun terjawab.
"Ayo, mbak! Ikut saya ke sana."
"Ee ... tapi, Sus. Saya ... saya gak papa kok. Saya baik-baik saja."
"Pipi mbak bengkak. Sudut bibir mbak juga sepertinya sedang terluka. Agar tidak terjadi infeksi yang menimbulkan masalah yang lebih besar lagi, sebaiknya mbak ikut saja saya sekarang. Lebih cepat diobati, maka lebih baik."
"Lagipula, ini permintaan tuan muda. Saya tidak bisa menolak apa yang tuan muda katakan."
Karena kata-kata itu, Meta tidak punya pilihan lain selain mengikuti apa yang si suster katakan. Dia pun pergi bersama si suster ke salah satu ruangan untuk mengobati lukanya.
Meta hanya bisa mengikuti tanpa berucap. Dia tetap diam sampai si suster datang kembali dengan beberapa macam obat untuk mengobati dirinya.
"Mbak ini beruntung lho, mbak. Dapat perhatian dari tuan muda Sean yang sekarang terkesan sangat cuek dengan perempuan manapun."
Tentu saja Meta kaget dengan apa yang si suster katakan. Tapi, belum sempat Meta menjawab apa yang baru saja suster itu ucap, si suster malah berucap lagi.
__ADS_1
"Mana dia sekarang sedang sakit parah. Dia masih sempat mengingat mbak, sampai-sampai minta salah satu dari kami untuk merawat mbak dengan baik."
"Kayaknya, dia perhatian banget sama mbak Meta ya," kata suster itu dengan nada yang Meta sendiri juga tidak mengerti apa yang sebenarnya suster itu pikirkan saat ini.
Namun, Meta tidak ingin ambil pusing dengan apa yang sedang suster itu rasakan. Karena sekarang, pikirannya tertuju pada dua kata yang baru saja si suster katakan.
"Sakit parah?"
"Iya, mbak. Tuan muda Sean sedang sakit parah sekarang. Dia sampai menggigil akibat sakit yang dia derita."
"Apa!?" Sontak, Meta langsung bagun dari duduknya karena kaget dengan apa yang sedang Sean alami.
"Kenapa bisa, kak Sean sakit parah sampai menggigil menahan sakit? Ada apa dengan dia sekarang? Apa yang terjadi?" Meta bertanya dengan panik.
Si suster tidak langsung menjawab. Dia malah memperhatikan wajah cemas Meta dengan tatapan yang sulit diartikan maksud dari tatapan itu sendiri.
"Katakan padaku! Apa yang sebenarnya terjadi pada kak Sean sekarang, suster? Dia seharusnya tidak sampai mengalami sakit parah. Karena cuma mendapat satu tendangan saja tadi."
"Apa!? Satu tendangan saja? Apa maksud mbak?"
__ADS_1
"Ceritanya panjang. Saya tidak bisa bercerita pada suster. Tapi, tolong katakan pada saya, apa yang sebenarnya terjadi pada kak Sean saat ini."
"Mbak tidak tahu? Satu pukulan yang tuan muda terima bisa merusak tubuh tuan muda. Apalagi ketika pukulan yang dia terima tepat mengenai tulang belakangnya. Itu akan sangat fatal buat tuan muda. Karena .... itu akan membangkitkan penyakit lama yang tuan muda pernah alami sebelumnya."