
Pada akhirnya, Nika memutuskan untuk tetap menjalani wasiat yang ayahnya berikan. Diapun mengikuti Jaka menuju kediaman Meta.
Ketika mereka tiba di depan pintu masuk, ternyata, mereka berdua sudah ditunggu oleh kedua orang tua Meta di ruang tamu. Dengan perasaan gugup, Jaka menyapa kedua orang tua Meta.
"Om, Tante. Ada yang ingin saya bicarakan."
"Kami sudah menunggu kamu sejak tadi. Om sampai izin gak masuk kerja karena kamu ingin bicara penting. Jadi, mari kita langsung bicara saja sekarang. Tidak perlu berbasa-basi lagi," ucap papa Meta dengan nada tegas.
Jaka semakin deg-degan aja dengan ucapan dari papa Meta barusan. Ada rasa takut, juga rasa bersalah yang kini bersarang dalam hatinya.
"Mm ... sebelum itu izinkan saya memanggil seseorang yang sekarang ada di luar pintu rumah ini, Om, Tante." Jaka bicara dengan suara pelan.
"Oh, ya silahkan. Kami juga sudah tahu kalau kamu datang dengan orang yang ingin kamu perkenalkan dengan kami. Karena sebelumnya, Meta sudah mengatakan sedikit tentang kamu dengan orang itu sebelumnya."
Ternyata, Meta sudah bicara lebih dulu pada kedua orang tuanya. Meski tidak detail, tapi setidaknya, kedua orang tua Meta sudah cukup tahu masalah yang akan merela bahas sekarang.
Dan sepertinya, kedua orang tua Meta cukup bisa menguasai diri. Itu terlihat dari raut wajah mereka yang cukup santai dalam menghadapi Jaka yang sekarang bikin ulah. Yang kalau dipikir-pikir, seharusnya, ulah Jaka itu membuat mereka marah besar.
__ADS_1
Jaka pun izin untuk memanggil Nika. Sementara itu, papa Meta langsung meminta bi Mimi untuk memanggil Meta buat sama-sama bicara dengan mereka di ruang tamu.
"Panggil Meta sekarang juga, Bi! Saatnya kita membahas masalah besar."
"Baik, Pak."
Beberapa saat kemudian, Jaka muncul dengan Nika. Wajah Nika terasa besar akibat malu saat berhadapan dengan kedua orang tua Meta. Sungguh, dia sangat tidak percaya sekarang, kalau dia sudah menjadi penyebab berantakannya sebuah pernikahan yang hanya tinggal menghitung hari saja lagi.
"Ini ... Nika, Om. Pasti sebelumnya, Meta sudah mengatakan siapa dia pada Om dan tante, bukan?" Jaka berucap dengan suara berat akibat rasa bersalah.
Nika yang datang dari desa tentu tidak lupa akan sopan santun yang selama ini orang tuanya ajarkan. Meski terasa sangat berat karena takut akan penolakan, Nika juga tetap memaksakan diri untuk menyapa kedua orang tua Meta yang kini ada dihadapannya.
Dengan menguatkan mental, Nika langsung maju untuk menyalami kedua orang tua Meta secara bergantian. "Tante, Om, saya Junika. Gadis desa yang pernah menolong mas Jaka beberapa waktu yang lalu."
Ternyata, tanggapan yang kedua orang tua Meta berikan sangat jauh berbeda dengan apa yang Nika bayangkan. Kedua orang tua Meta menyambut uluran tangan Nika dengan hangat.
Yah, inilah orang tua Meta yang sebenarnya. Mereka bukan orang tua yang langsung menunjukkan apa yang mereka rasakan. Meski tidak suka dengan orang tersebut, tapi mereka masih bisa bersikap ramah dan baik.
__ADS_1
"Yah, aku juga sudah tahu sedikit tentang kamu dari Meta. Silahkan duduk, kita akan bicara sekarang juga." Papa Meta berucap setelah menyambut uluran tangan Nika.
"Terima kasih, Om." Nika berucap dengan nada agak tenang.
Dan, ia pun memilih duduk di samping Jaka. Setelah mereka duduk beberapa waktu, Meta pun muncul dengan wajah tenang.
Sesaat lamanya, Jaka memperhatikan wajah itu dengan tatapan lekat. Tergambar kehangatan yang selama ini diberikan dari wajah tersebut. Hati Jaka tiba-tiba merasa ada yang tidak nyaman sekarang.
Namun, perhatian Jaka langsung teralihkan dengan suara dari papa Meta. Mereka pun langsung membahas prihal masalah pernikahan yang sedang terancam batal akibat masalah yang Jaka timbulkan.
"Apa kita harus membatalkan pernikahan ini sekarang?" Jaka berucap dengan nada yang tidak yakin.
"Yah, sepertinya begitu. Karena tidak ada cara lain selain membatalkan pernikahan kamu dengan Meta. Karena Meta tidak bisa melanjutkan pernikahan ini lagi jika kamu tidak mencintainya," ucap papa Meta dengan nada tenang seperti tanpa beban.
"Lagipula, kamu harus menjalankan wasiat, bukan? Karena itu, Meta juga tidak ingin mempertahankan hubungan kalian lagi. Dan Meta juga berbesar hati untuk menggantikan dia dengan gadis yang ada di sebelah kamu sebagai calon istri kamu, Jaka." Mama Meta berucap dengan nada yang agak tinggi.
Mungkin, mama Meta tidak bisa menahan diri atas apa yang sedang terjadi. Karena sebelumnya, dia berharap cukup banyak pada Jaka. Lagipula, dia tahu, anaknya sangat mencintai Jaka selama ini.
__ADS_1