
Setelah obrolan itu, Meta sepertinya sedang berusaha keras untuk memantapkan hati untuk menerima Sean. Meskipun dengan status duda yang Sean sadang, juga dengan kekurangan Sean yang tidak bisa memberikan ia anak. Meta tetap sudah memantapkan hati untuk menerima Sean. Jika Sean melamarnya, maka dia akan langsung menerima.
Terlepas dari pikiran lamaran dari Sean, Meta terus menerima ajakan Sean. Saat Sean menawarkan makan malam bersama, dengan cepat Meta akan menyetujuinya. Hal itu membuat Sean bahagia. Dengan keputusan yang bulat, dia pun berniat melamar Meta malam itu.
Sean lalu membooking rumah makan khas yang bertemakan cinta. Rumah makan ternama yang tidak pernah sepi pelanggan itu, Sean booking dengan harga yang cukup fantastis. Dia pun langsung membawa Meta ke rumah makan tersebut.
"Ini ... kak Sean. Kok seperti ada yang salah ya di sini." Meta berucap dengan nada bingung. Matanya pun sibuk memperhatikan sekeliling rumah makan tersebut.
"Ada yang salah? Apa?" tanya Sean pura-pura tidak tahu.
"Ini rumah makan terkenal. Kok malam ini bisa sesepi ini sih?"
"Itu ... ya karena malam ini adalah malam paling membahagiakan buat kita, Met. Terutama ... aku. Mungkin sih, jika tidak salah perkiraan."
Meta lalu melirik Sean dengan lirikan bingung.
"Maksudnya apa lagi itu?"
__ADS_1
"Mm ... rahasia. Lihat aja nanti. Kamu akan tahu dengan sendirinya."
Meta tidak ingin bertanya lagi. Kakinya terus melangkah beriringan dengan Sean memasuki rumah makan yang terlihat sangat romantis itu semakin jauh ke dalam.
Semakin lama, terasa semakin romantis saja. Lampu terang yang biasanya hidup. Kini malah berganti dengan lilin yang terpasang di sepanjang kiri dan kanan jalan menuju tempat spesial dari rumah makan tersebut.
Dan, ketika tiba di tempat utama. Mata Meta langsung terfokus pada balon yang terpasang. Karena semua balon tertulis dengan namanya. Hal itu langsung membuat Meta merasa sangat terpesona dengan keindahan malam di suasana rumah makan khas ini.
"Kak Sean. Ini .... " Meta langsung menggantungkan kalimatnya. Karena ketika ia berbalik ke belakang untuk melihat Sean, Sean malah sedang dalam keadaan posisi berjongkok dengan mengangkat cincin di tangannya.
"Meta. Aku melamar mu sekarang. Maukah kamu menikah denganku?"
Lamaran yang terbilang cukup langsung. Tanpa ada kata-kata romantis terlebih dahulu itu cukup membuat Meta syok. Namun, perlahan ia ingat kalau ini adalah hal yang paling indah dalam hidupnya. Dilamar oleh seorang pria dengan di saksikan oleh ribuan lilin. Cukup luar biasa rasanya.
"Kak ... Se-- Sean. Aku .... " Meta masih tidak tahu harus bicara apa. Maka dari itu, dia langsung menjedakan kata-kata yang ingin ia ucap.
"Aku memang bukan pria yang romantis, Meta. Tapi, aku sudah berusaha keras untuk mendapatkan hatimu. Meski aku tahu, tidak mudah untukmu menggantikan orang yang kamu cintai dengan aku. Tapi aku sangat ingin mencoba keberuntungan yang mungkin bisa berpihak padaku."
__ADS_1
"Meta, aku sungguh sangat tertarik padamu sejak dari pandangan pertama. Aku sangat sadar, kalau aku mencintai kamu. Meski aku juga sadar, aku dan kamu itu punya status yang berbeda. Tapi aku tidak bisa memaksa hati untuk berhenti mengharapkan kamu."
"Maukah kamu menikah denganku, Meta? Meskipun dengan kekurangan yang aku miliki. Maukah kamu menjadi pelengkap hidupku. Menemani aku hingga aku tua nanti."
Meta terharu dengan ucapan Sean barusan. Meski agak sedikit berat karena masih merasa ragu dengan tekat yang sudah dia bulatkan, Meta pun langsung menganggukkan kepalanya dengan gerakan pelan. Mata Meta juga sedang berkaca-kata. Tidak tahu apa yang ia rasakan saat ini. Tapi satu hal yang ia ketahui, dia harus menerima lamaran ini meski dia tidak merasakan adanya rasa cinta.
'Ini adalah pilihan terbaik, Meta. Orang tua kamu benar, dicintai lebih baik dari pada mencintai. Karena dengan dicintai, kamu akan mendapatkan semua yang ingin kamu dapatkan selama ini.' Meta bicara dalam hati untuk menguatkan diri dengan apa yang sudah dia pilih.
Sementara itu, Sean yang mendapat jawaban meski tidak dengan kata-kata, tapi dia sudah tahu kalau Meta langsung menerima lamarannya dengan satu anggukkan pasti. Karena itu, hati Sean sangat bahagia.
Tanpa menunggu tangannya menyematkan cincin ke jari Meta, Sean langsung saja bangun dari jongkoknya. Dia pun langsung memeluk tubuh Meta dengan perasaan sangat bahagia.
"Benarkah kamu menerima lamaran ku, Met?" Sean bertanya setelah ia memeluk tubuh Meta dengan erat.
"Ya, kak Sean. Lamaran mu yang romantis ini, mana bisa aku tolak. Tentu saja ... aku ... terima." Karena menjawab dengan suara gugup, Meta bicara dengan suara yang agak tercekat-cekat.
Tapi, jawaban itu malah membuat Sean semakin berbahagia. Dia pun terus mendekap hangat tubuh orang yang dia cintai saat ini.
__ADS_1