Cinta Atau Hutang Budi

Cinta Atau Hutang Budi
*Part 36 Coklat


__ADS_3

Ucapan itu langsung membuat Jesi sadar akan satu hal. Yaitu, Sean yang masih belum tahu, kalau Meta dan Jaka tidak jadi menikah.


"Mm ... kak Sean masih belum tahu kabar besar yah? Yang menikah hari ini bukan Meta. Tapi, calon istri kak Jaka yang lain. Yang aku juga tidak ingat siapa namanya."


"Apa!? Meta gak jadi nikah? Kamu yang benar aja, Jesi! Jangan bercanda. Ini gak lucu tau."


"Ya aku emang gak bercanda, kakak ku. Kenyataannya emang begitu. Kak Jaka tidak menikahi Meta. Melainkan, menikah dengan perempuan lain datang datang beberapa waktu yang lalu."


Saat mendengar ucapan itu, entah kenapa Sean tiba-tiba merasa bahagia. Hal yang tidak seharusnya ia rasakan. Karena saat ini, Meta pasti sedang berduka. Jika dia bahagia atas kegagalan yang Meta alami, maka itu namanya, dia berbahagia atas kesedihan orang lain.


Namun, rasa bahagia itu datang sendiri dalam hati Sean. Tidak bisa ia tutupi karena kegagalan pernikahan yang Meta alami membuat Sean merasa punya cahaya baru untuk hatinya.


"Kalau benar apa yang kamu katakan, maka aku akan datang ke pesta pernikahan Jaka hari ini, Je."


"Hah? Kak Sean gak salah ngomong? Bukannya tadi kakak bilang sedang tidak enak badan, bukan? Lah sekarang, kok malah begitu bersemangat sih?"


"Itu ... mm ... ng-- nggak kok. Kamu aja yang salah perkiraan. Ah, ya sudah, kaka siap-siap dulu."

__ADS_1


Panggilan lewat vidio call itupun langsung berakhir. Jesi terdiam sejenak setelah panggilan itu terputus. Lalu, dia pun mengukir senyum lebar yang penuh harap.


"Aku rasa, kali ini akan berhasil." Jesi bergumam sambil senyum. Jona yang melihat hal tersebut langsung menatap penuh pertanyaan.


"Berhasil? Apa, sayang?"


"Mm ... menyatukan dua insan yang saling membutuhkan juga saling melengkapi satu sama lain, Sayang. Aku harap, kali ini aku berhasil. Semoga saja tidak ada kata gagal lagi." Jesi dengan penuh semangat berucap sambil terus mempertahankan senyum manis di bibirnya.


"Mm ... apa maksud kamu, kali ini kamu akan menjadi mak comblang buat Meta dan Sean, Sayang?"


"Yah." Jesi berucap sambil memberikan anggukan pelan.


"Iya, Mas. Aku juga berharap begitu."


....


Tiba di tempat acara, mereka langsung mengambil posisi untuk duduk. Yah, resepsi agak sedikit tidak sama dengan apa yang Jesi harapkan. Karena Jaka saat ini sedang bersanding dengan perempuan yang sama sekali tidak ia kenali siapa.

__ADS_1


Sementara itu, Sean sibuk berusaha menemukan Meta. Karena menurut yang Jesi katakan, Meta pasti akan datang. Karena pernikahan itu, sudah Meta restui sebelumnya.


Meski itu terdengar tidak masuk akal. Tapi jika dilihat dari sikap Meta yang penuh kesabaran itu, maka dia pasti akan menunjukkan wajahnya.


Setelah usaha pencarian yang cukup lama, Sean akhirnya tahu kalau Meta ternyata sudah pulang. Itu ia dengar dari pembicaraan beberapa orang yang berada tak jauh darinya. Dan dari mereka pula, Sean tahu kalau Meta ternyata pergi menyendiri ke taman yang tak jauh dari tempat resepsi pernikahan itu diadakan.


"Semoga kamu baik-baik aja, Met. Aku gak ingin kamu bersedih hanya karena seorang pria yang tidak ingin memiliki kamu." Sean bicara pada dirinya sendiri.


Lalu, setelah masuk ke area taman, Sean langsung bisa melihat Meta yang duduk termenung di atas salah satu kursi yang ada di taman tersebut. Dengan langkah pelan penuh semangat, Sean pun langsung berjalan untuk menghampiri Meta.


"Ini," ucap Sean sambil mengulur sayu buah coklat yang berbentuk bola ke arah Meta.


Sontak, Meta yang awalnya tidak sadar akan keberadaan Sean, tentu saja agak sedikit kaget. Dia pun langsung melihat ke arah Sean, tanpa mengambil coklat yang Sean berikan terlebih dahulu.


"Kak Sean. Kok, kak Sean bisa ada di sini sih? Pestanya di sana lho," ucap Meta berusaha terlihat baik-baik saja. Padahal sebenarnya, dia sedang sangat sakit akibat cinta yang tidak terbalaskan.


"Aku tahu pestanya di sana. Tapi aku bukan ingin mendatangi pesta. Melainkan, ingin menghiburmu. Nih, ambil dan makanlah. Karena katanya, makan makanan yang manis bisa membuat hatimu merasa lebih baik."

__ADS_1


"Ha-- hatiku ... hatiku baik-baik saja, kak. Nggak perlu cemas," ucap Meta mulai gugup.


Namun, sekuat tenaga ia tetap berusaha menyembunyikan apa yang ia rasakan saat ini. Coklat yang ada di tangan Sean, masih belum ia ambil. Karena terlalu berat tangan Meta untuk bergerak.


__ADS_2