Cinta Atau Hutang Budi

Cinta Atau Hutang Budi
*Part 37 Setelah menikah


__ADS_3

Namun, sekuat tenaga ia tetap berusaha menyembunyikan apa yang ia rasakan saat ini. Coklat yang ada di tangan Sean, masih belum ia ambil. Karena terlalu berat tangan Meta untuk bergerak.


Sean yang cukup peka akan keadaan tentu tahu apa yang Meta rasakan saat ini. Dia pun tetap menyodorkan coklat tersebut sampai tangan berat Meta terangkat, lalu mengambil coklat tersebut dengan gerakan pelan.


"Nah, gitu dong. Ambil, dan makanlah. Karena aku yakin, jika kamu makan coklat itu, maka mood mu pasti sedikit lebih baik." Sean berucap sambil tersenyum. Lalu, dia mengambil posisi duduk di samping Meta meski dengan jarak yang cukup jauh.


Meta yang melihat senyum manis Sean, ikut tersenyum juga pada akhirnya. Dia lihat coklat yang kini ada di tangannya sambil terus tersenyum. Lalu, dia buka coklat itu dengan gerakan pelan. Kemudian, memasukkannya ke dalam mulut dengan cepat.


"Gimana rasanya?" Sean langsung bertanya setelah melihat Meta memakan coklat tersebut.


"Lumayan." Meta menjawab tanya menoleh ke arah Sean lagi. Karena saat ini, pandangannya terfokus ke arah depan.


"Lumayan? Ah, lumayan pun gak papa. Yang penting kamu menikmati rasa manisnya. Mm ... jika ingin lagi, aku masih punya banyak. Nih," ucap Sean sambil mengeluarkan toples yang sedari tadi ia sembunyikan di baju jasnya yang dia lepaskan.


Mata Meta pun membulat saat melihat satu toples besar coklat bulat berbentuk bola yang Sean letakkan di sampingnya. "Ya ampun, kamu bawa coklat sebanyak ini, kak. Untuk aku?" tanya Meta dengan nada tak percaya.


"Nggak. Aku bawa untuk aku buat souvernir pernikahan Jaka. Lah, iya aku bawa untuk kamu, Met. Ini gak banyak. Karena jika kamu suka, perusahaan coklatnya yang akan aku berikan untuk kamu. Biar kamu leluasa menikmati manisnya hidup tanpa mikir yang pahit-pahit lagi."

__ADS_1


Sontak, ucapan itu langsung membuat Meta terkekeh pelan. Sungguh, Sean yang orang bilang dingin setelah mengalami kecelakaan, tapi bisa begitu hangat saat bicara dengannya. Hal itu membuat Meta berpikir ulang, kalau apa yang orang katakan itu, mungkin tidak benar.


Karena Sean yang dia kenal malah berbanding terbalik. Mana bisa menghiburnya lagi.


"Kak Sean bisa aja." Meta berucap sambil tersenyum.


Melihat Meta senyum, Sean jadi merasa lega.


"Nah, gitu dong. Kamu itu manis kalau tersenyum seperti itu."


Meta dan Sean pun terus ngobrol. Mereka bicara banyak hal sampai tidak sadar kalau mereka sedang diperhatikan oleh beberapa orang dari kejauhan. Orang yang tak lain adalah anggota keluarga Sean sendiri.


Mendengar ucapan itu, Jesi langsung menoleh. "Mama ingin Meta jadi menantu mama? Gitu maksudnya, Ma?"


"Iya, Je. Mama ingin lihat kakak kamu terus bahagia seperti ini. Karena mama selalu rindu dengan sikap hangat yang kakak kamu tunjukkan. Tapi, dia hanya akan bersikap hangat saat bersama Meta. Jika dengan perempuan lain, maka dia akan jadi manusia dingin kembali. Karena itu, mama inginkan Meta untuk mendampingi Sean."


"Ah, apa kita jodohkan saja mereka, Je? Mm ... kita lamar Meta pada orang tuanya. Dengan begitu, otomatis dia akan menikah dengan Sean, bukan?" Mama Sean bicara dengan wajah yang penuh harap.

__ADS_1


Namun, Jesi yang mendengar niat itu langsung memasang wajah tidak setuju. "Nggak, Ma. Mama gak boleh menjodohkan kak Sean dengan Meta secara langsung."


"Maksud kamu?"


"Mama gak boleh melamar Meta secara langsung sebelum Meta sendiri menyatakan sinyal setuju. Karena jika kita paksakan, itu tidak akan baik, Ma. Kak Sean juga yang akan menderita nantinya. Karena belum tentu Meta setuju untuk menikah dengan kak Sean."


"Tapi, Je .... "


"Ma. Biarkan kak Sean berusaha sendiri mendapatkan hati Meta. Aku yakin, dengan usaha kak Sean yang tulus, cepat atau lambat, hati Meta juga akan luluh dengan sendirinya. Karena hubungan yang tanpa dipaksakan, itu akan berjalan dengan mulus. Dari pada dipaksa, bukannya bisa bersama. Malahan, mereka akan jadi berjauhan nantinya."


Ucapan Jesi langsung dibenarkan oleh benak sang mama. Sang mama tidak menjawab dengan kata-kata, tapi hanya memberikan anggukan pelan tanda setuju.


....


Resepsi telah usai. Tapi, Jaka yang masih berada dalam dilema terlihat tidak seperti pengantin baru yang bahagia. Dia lebih terlihat seperti orang yang cukup menderita setelah menjalankan pernikahan yang sangat dipaksakan.


Jaka juga tidak mengadakan bulan madu dengan istrinya. Setelah menikah, mereka malah masih terlihat seperti orang asing saja. Meski sudah tinggal di satu atap yang sama, Jaka masih sering tidak menganggap ada Nika. Hal yang membuat Nika merasa cukup tersiksa dan sangat merasa menyesal karena telah memilih menikah dengan Jaka.

__ADS_1


Mana malam pertama di antara mereka belum pernah terjadi sekalipun. Usia pernikahan sudah satu minggu, tapi Jaka masih belum menyentuh Nika sama sekali.


__ADS_2