Cinta Atau Hutang Budi

Cinta Atau Hutang Budi
*Part 7 Di butik


__ADS_3

Kedatangannya sudah di tunggu oleh pemilik butik. Meski terlambat cukup lama, si pemilik butik masih tetap senyum saat melihat wajah Meta.


"Maafkan saya karena terlambat cukup lama, Mbak. Saya ada hal mendadak yang membuat perjalan saya terhambat tadi." Meta berujar dengan nada penuh sesal.


"Gak papa, mbak Meta. Santai aja. Saya juga kebetulan gak ada kerjaan hari ini. Jadi, terlambat beberapa puluh menit juga gak akan menghabiskan waktu saya dengan percuma. Karena memang, saya sedang bersantai sekarang." Si pemilik butik berucap dengan ramah.


Keramahan itu membuat Meta lupa akan apa yang sebelumnya dia pikirkan. Karena ternyata, si pemilik butik cukup bersahabat, dan jauh dari kata sombong sebagai orang besar. Tidak sama dengan apa yang Meta pikirkan sebelumnya.


"Oh ya, di mana calon mempelai anda, mbak Meta? Apa dia gak akan datang? Bukankah, dia juga akan memilih pakaiannya hari ini?" Si pemilik butik bertanya sambil memastikan, kalau orang yang dia tanya benar-benar tidak ada di tempat tersebut.


"Datang kok, Mbak. Tapi ... mungkin dia akan sedikit terlambat. Karena dia ada urusan penting sekarang soalnya."


"Oh, iya deh kalo gitu. Mbak Meta aja yang pilih-pilih dulu mau gaun pernikahan yang seperti apa."


"Nih, lihat-lihat aja mana yang cocok." Si pemilik langsung menyerahkan album besar yang isinya semua foto gaun-gaun pernikahan yang mewah, juga sangat amat cantik menurut Meta. Terbukti, baru melihat sekilas aja, dia sudah mendadak dibuat bingung karena semua yang ada di foto itu gaunnya cantik-cantik semua.


"Jika mbak tidak puas lihat-lihat dari gambar, maka kita bisa lihat gaun jadinya secara langsung. Atau ... apa mbak Meta punya ide gaun pernikahan yang mbak ingin saja bikinkan? Jika ia, katakan saja bagaimana bentuk dari garis besarnya. Biar saja bikin sketsa gaunnya sekarang juga."


Ucapan itu membuat Meta langsung mengangkat wajahnya seketika.

__ADS_1


"Eh, gak perlu ko, Mbak. Mm ... maksud saya, saya gak punya ide gaun apapun. Karena gaun yang saya lihat sekarang aja pada bagus-bagus semua. Saya jadi bingung mau pilih yang mana," ucap Meta sambil tersenyum nyengir kuda.


Si pemilik butik membalas senyum Meta.


"Sejujurnya, saya ngerti kok apa yang mbak Meta rasakan saat ini. Karena dulu, sebelum menikah dengan suami saya, saya juga mengalami hal yang sama kek mbak Meta saat ini."


"Jadi, kalau bisa saya sarankan, mbak Meta minta pendapat dari calon suami mbak saja. Karena biasanya, pilihan dari calon suami yang ingin menikah itu bagus dan yang pastinya, tidak akan ada penyesalan di kemudian hari."


Meta tersenyum malu. "Benar juga apa yang mbak katakan. Ya udah deh, saya tunggu kak Jaka datang aja. Mm ... bentar ya mbak. Saya hubungi dia dulu. Mau nanya, udah sampai mana."


"Silahkan."


"Dia udah tiba, mbak. Tinggal masuk aja." Meta berucap dengan wajah bahagia.


"Oh, iya deh. Kita tunggu. Oh ya, sambil nunggu, lihat lagi aja gaunnya," kata si pemilik butik dengan ramah.


Lebih dari lima menit pun berlalu setelah panggilan itu berakhir. Tapi, Jaka belum juga kelihatan batang hidungnya. Hal tersebut tentu membuat Meta jadi tidak enak hati.


"Udah lebih lima menit, kok kak Jaka belum tiba juga. Ke mana dia perginya? Bukankah dia tadi bilang kalo dia udah tiba di depan butik?"

__ADS_1


Meta bicara kecil pada dirinya sendiri.


Lalu, karena rasa tidak tenang. Meta memutuskan untuk menjemput Jaka ke depan. Setelah berpamitan dengan pemilik butik, Meta langsung berjalan cepat menuruni anak tangga untuk tiba ke lantau dasar butik tersebut.


Dengan mata yang lincah menyapu semua sudut ruangan yang ada di lantai dasar, Meta seperti sedang mencari barang hilang saja. Tapi sayangnya, dia tidak menemukan apa yang dia cari.


Untung saja dia masih ingat untuk bertanya dengan salah satu karyawan di sana. Beruntung, satu karyawan itu paham dengan ciri-ciri pria yang Meta sebutkan.


"Tadi, ada pria yang masuk ke dalam sini, mbak. Ciri-cirinya sama persis dengan apa yang mbak katakan barusan. Tapi, baru aja masuk, dia keluar lagi karena ada seorang perempuan yang memanggil namanya."


Sontak, penuturan itu membuat hati Meta mendadak tidak nyaman. Entah perasaan apa, tapi tiba-tiba saja, rasa itu membuat hatinya tidak enak.


"Perempuan?"


"Iya, mbak."


"Mm ... kalo boleh tahu, mereka pergi ke mana ya? Apa mbak nya melihat?"


"Nggak tahu deh, mbak. Saya gak liat. Tapi, sepertinya, mereka keluar. Coba aja cari di luar dulu mbak. Kali aja masih ada," ucap karyawan itu.

__ADS_1


__ADS_2