
"Setelah kejadian kecelakaan yang membuat Sean koma selama satu tahun, dia berubah total. Jadi dingin dan tidak mau tahu akan dunia yang ada di sekelilingnya. Terlebih lagi, itu soal perempuan. Dia jadi tidak ingin kenal dengan pasangan hidup."
"Tapi, saat berhadapan dengan Meta. Sean malah bertolak belakang dengan sikap sebelumnya. Dia seperti sudah kembali menjadi dirinya yang dulu. Hal itu yang bikin mata saya jadi panas karena haru. Saya merasa, Sean yang saya rindukan telah kembali."
Ucapan itu membuat kedua orang tua Meta saling bertukar pandang selama beberapa saat. Mereka yang awalnya bingung, kini langsung memberikan anggukan tanda mengerti dengan apa yang sedang terjadi.
Karena itu, mama Meta berniat untuk memberikan waktu yang luar buat Meta. Dia berharap, Sean bisa langsung mengalihkan perasaan sedih akibat kegagalan yang Meta alami beberapa waktu ini.
"Mm ... nyonya Diana. Bagaimana jika kita memberikan mereka waktu bicara dengan leluasa. Kita pergi dari depan kamar ini untuk ke kantin atau ke mana saja agar mereka berdua punya waktu yang luar buat ngobrol."
Ucapan itu membuat mama Sean langsung memberikan tatapan lekat selama beberapa saat pada mama Meta. Tapi pada akhirnya, tanpa komentar sedikitpun, dia menyetujui saran itu. Dan mereka pun langsung beranjak meninggalkan kamar Sean secepatnya.
....
"Apa!? Jadi pernikahan Meta dengan Jaka tidak akan dilaksakan? Itu karena ... Jaka sudah punya perempuan lain yang tiba-tiba datang dengan membawa surat wasiat agar Jaka menikahi perempuan tersebut?"
Mama Sean kaget bukan kepalang. Sangking kagetnya, dia sampai bangun dari duduknya dengan cepat.
__ADS_1
Sementara itu, kedua orang tua Meta malah menunjukkan wajah sedih. Karena memang, apa yang terjadi sangat membuat hati mereka sedih juga cemas.
"Ya, seperti itulah yang sedang terjadi pada Meta saat ini, Nyonya. Tapi untung saja, Meta mampu menguasai diri, dia tidak terlalu terpuruk dengan nasib buruk yang dia alami sekarang."
"Ya Tuhan, kasihan sekali dengan gadis itu. Aku ... tidak bisa berkata apa-apa selain ungkapan penyesalan ini. Semoga saja, Meta bisa mendapatkan pria yang lebih baik dari Jaka. Karena mungkin, mereka memang tidak ditakdirkan untuk bersama."
"Iya. Kami juga sudah pasrah sekarang. Karena anak kami bisa pasrah, jadi kami juga harus bisa terima dengan lapang dada."
Mereka pun terus ngobrol hingga beberapa jam kemudian. Sementara Meta yang sudah ingin meninggalkan ruangan Sean, langsung merasa bingung karena tidak menemukan orang tuanya.
Sebenarnya, dia bicara pada dirinya sendiri. Dia merasa tidak enak hati harus berada di kamar Sean semakin lama. Karena dia tahu, Sean butuh istirahat. Jika dia terus ada di kamar ini, maka selama itu juga Sean tidak akan istirahat dengan baik.
"Mm ... kamu kok kelihatannya cukup gelisah, Met. Ada apa? Udah gak sabar ingin pulang ya?"
"Eh, bukan gak sabar mau pulang, kak. Tapi ini udah larut malam. Aku gak enak kalo tetap di sini. Kak Sean butuh istirahat, sementara ada aku, mana bisa kakak istirahat dengan baik."
"Kenapa tidak bisa, Met? Ada kamu aku malah semakin nyaman untuk istirahat. Karena kamu .... "
__ADS_1
Seketika, Sean langsung menggantungkan kalimatnya karena dia sadar dengan apa yang dia ucapkan. Hal yang tidak seharusnya ia katakan, tapi malah ia katakan sekarang.
"Ee ... maaf, Meta. Mungkin karena rasa sakit yang aku alami kemarin, aku jadi sering lepas kendali ketika bicara dengan kamu. Aku minta maaf yah."
Meta lalu mengukir senyum meski terasa cukup berat. Karena saat ini, dia agak tidak nayaman akibat sikap Sean yang tiba-tiba berubah. Hal itu membuat dia merasa agak canggung.
Entah itu rasa canggung karena apa yang Sean katakan, atau rasa kecewa akibat kata-kata yang tidak Sean lanjutkan. Tapi yang pasti, suasana antara mereka berdua terasa mendadak tidak enak akibat kata-kata yang Sean ucapkan.
"Gak papa, kak Sean. Aku maklum kok. Oh iya, aku pulang dulu yah. Udah ngomong sama mama lewat chat. Mama sedang nungguin aku di bawah."
"Iya. Hati-hati, Meta. Jaga diri kamu baik-baik yah."
"Iya, kak Sean. Selamat malam," ucap Meta sambil tersenyum. Lalu, dengan langkah besar, Meta meninggalkan Sean.
Sean terus menatap punggung Meta hingga menghilang dibalik pintu dari ruangan tersebut. Saat Meta sudah tidak terlihat lagi, Sean barulah membalas ucapan selamat malam yang Meta ucapkan.
"Selamat malam, Meta. Semoga kita bisa bertemu lagi. Bukan, semoga kita ada waktu bicara berduaan seperti tadi lagi. Karena kehadiran kamu membuat aku merasa semua beban yang ada dalam hati ini lenyap semuanya dengan seketika."
__ADS_1