Cinta Atau Hutang Budi

Cinta Atau Hutang Budi
*Part 44 Menunggu hasil


__ADS_3

"Aku ingin melakukan tes lagi. Aku penasaran, apakah aku memang tidak bisa memberikan keturunan? Tapi, kehamilan Meta sungguh hal yang tidak mudah diterima oleh akal, bukan?"


"Benar, tuan muda. Ini adalah hal yang baru pertama kali saya dengar. Setelah divonis, malah bisa hamil. Tapi ... maaf, tuan muda. Apakah tuan muda yakin kalau nona benar-benar .... "


"Jaga bicaramu! Jangan sembarangan bicara soal istriku. Kau tahu, aku sangat mempercayai istriku. Dia tidak akan berbuat serong."


Si dokter langsung merasa ciut nyalinya untuk membahas hal sensitif dengan Sean sekarang. Dia pun langsung membahas hal yang Sean inginkan. Yaitu, melakukan tes lagi. Membuktikan kalau anak yang ada dalam kandungan Meta memang anaknya.


"Jika ingin melakukan tes DNA, tuan muda pasti tahu syaratnya, bukan? Anak itu harus lahir terlebih dahulu. Tapi, jika ingin melakukan tes ulang pada tuan muda, maka kita harus menunggu beberapa hari untuk mendapatkan hasilnya."


"Ya, aku akan ikuti prosesnya. Lakukan dengan sebaik mungkin."


Sean langsung melakukan tes dengan cepat. Tidak sabar menunggu selama beberapa hari, dia terlihat cukup gelisah. Hal tersebut membuat Meta sangat tidak nyaman. Tapi, Sean tidak pernah sedikitpun mengubah sikapnya pada Meta. Malahan, Sean bersikap sebaliknya. Hal tersebut membuat Meta semakin merasa sedih dan takut.


"Kak Sean, aku tahu kamu sedang tidak baik-baik saja sekarang. Jangan paksakan dirimu untuk terlihat baik-baik saja di hadapanku, kak. Karena itu sangat menyakitkan buat aku."


"Lho, kenapa menyakitkan, Sayang? Apakah ada yang salah dengan sikapku saat ini? Aku rasa ... tidak ada yang berubah. Dan, percayalah, semuanya memang sedang baik-baik saja. Tidak ada hal buruk yang terjadi."

__ADS_1


"Kamu tidak bisa membohongi aku, Kak. Tepatnya, matamu tidak bisa berbohong. Kamu cemas memikirkan anak yang ada dalam kandunganku ini, bukan? Percayalah, kak Sean. Anak ini anak kamu, jadi jangan cemas."


"Sayang, aku percaya padamu. Anak itu memang anakku. Aku tidak bohong. Sebaliknya, kamu yang terlalu cemas memikirkan aku. Makanya kamu merasa aku tidak baik-baik saja sekarang."


"Aku tahu kamu, kak. Jika kamu tidak mencemaskan anak ini, atau jika kamu percaya anak ini adalah anak kamu, maka kamu akan bahagia dengan kehadirannya. Kamu akan sangat bangga sekarang. Tapi, apa yang aku lihat saat ini itu berbanding terbalik dengan kamu yang bahagia, yang selama ini aku saksikan. Kamu tidak sekalipun menyentuh anak ini. Kamu tidak sekalipun menyapa dia setelah kamu tahu, di rahimku ada anak kamu. Ini bukan kamu yang bahagia seperti sebelumnya, kak Sean. Karena itu, aku tahu apa yang kamu rasakan."


Penjelasan itu membuat Sean terdiam. Sungguh, apa yang Meta katakan itu sangat benar adanya. Sejak tahu soal Meta sedang hamil, dia sama sekali tidak peduli dengan anak yang ada dalam kandungan Meta.


Bukan dia yang tidak ingin peduli. Tapi hatinya terlalu berat. Tidak bisa ia paksakan, hatinya merasa cukup ragu saat ini dengan apa yang sedang ada di depan mata.


Sean yang menyadari kalau istrinya ingin pergi, langsung menarik tangan Meta dengan cepat. Dengan tatapan penuh rasa bersalah, Sean menatap lekat wajah Meta.


"Mau ke mana, Sayang?"


"Cari angin ke luar."


"Jangan. Kondisi kamu tidak sedang baik-baik saja. Tidak baik malam-malam berada di luar. Istirahat saja sekarang ya. Kamu butuh istirahat yang banyak sekarang soalnya."

__ADS_1


Meta lalu melepas napas kasar. "Aku merasa baik-baik saja, kak Sean. Jadi, aku ingin keluar. Kamar ini terasa cukup pengap buat aku. Untuk itu, biarkan aku keluar dari kamar ini."


"Meta."


"Kak Sean."


Sean paham dengan maksud dari panggilan tersebut. Dia pun segera melonggarkan genggaman tangannya dari tangan Meta.


Masalah yang sedang keluarga kecilnya hadapi memang agak rumit. Dia sendiri sudah berusaha sangat keras untuk memaksakan hati agar terlihat baik-baik saja di depan istri yang paling ia cintai. Karena itu, sampai detik ini dia masih bersikap manis pada Meta meskipun pada dasarnya, itu adalah terpaksa.


Meta pun keluar dari kamar setelah tangannya terbebas dari tangan Sean. Namun, Sean yang penuh perhatian itu tidak akan membiarkan sang istri keluyuran sendirian. Meski ia membiarkan Meta keluar, tapi Meta tidak keluar sendirian. Melainkan, dia ikut dengan Meta dari belakang.


.....


Beberapa hari berlalu dengan sangat lambat bagi Sean. Karena dia sangat ingin segera tahu tentang hasil tes yang ia jalani. Dengan harapan yang besar, Sean mendatangi rumah sakit secepatnya.


"Bagaimana? Apa hasilnya, Dok?" Sean bertanya langsung saat dia membuka pintu ruangan dokter itu. Tanpa berbasa-basi terlebih dahulu tentunya.

__ADS_1


__ADS_2