Cinta Atau Hutang Budi

Cinta Atau Hutang Budi
*Part 25 Pertanyaan mama


__ADS_3

"Mbak Meta ... yakin ingin masak?"


Mendapat pertanyaan itu, Meta malah tersenyum manis. "Tentu saja yakin, Bi Mimi."


"Tapi ... mbak. Bagaimana jika mbak katakan saja pada bibi mau makan apa. Nanti, biar bibi yang masakan makanan yang ingin mbak makan itu."


Dengan wajah khawatir, bi Mimi berucap pada Meta. Namun, wajah itu semakin membuat Meta merasa geli. Ingin dia tertawa lepas karena ulah bi Mimi yang kelihatannya begitu mencemaskan dia.


Meta pun langsung menatap wajah bi Mimi secara langsung. "Bibi tenang saja, Meta gak akan merusak dapur bibi kok."


Setelah berucap, Meta langsung mengukir senyum. Senyum yang membuat bi Mimi merasa serba salah sekarang.


"Eh, bibi gak maksud gitu kok, Mbak. Gak mikir kalau Mbak Meta bakalan ngerusak dapur. Hanya saja .... "


Belum sempat bi Mimi menyelesaikan ucapannya, mama Meta yang mendengarkan obrolan Meta dengan si ART pun langsung datang dan ikut bicara. "Lagi pada ngebahas apa sih kalian berdua? Kok kek nya heboh banget. Sampai terdengar di ruang tamu lho," kata mama Meta.


"Ini ... Buk. Mbak Meta ingin masak. Saya ... saya bilang kalau biar saya aja yang masak. Soalnya, itu udah tugas saya, Buk."

__ADS_1


Ucapan bi Mimi malah membuat mama Meta tersenyum. Sementara Meta, juga ikut memperlihatkan senyum manisnya pada sang mama.


"Bi Mimi takut aku ngerusakin dapurnya, Mah. Makanya, dia gak izinin aku masak."


"Tenang, Bi. Meta gak akan merusak dapur kita kok. Meta ini jago masak kok, Bi. Masakan Meta ini terkenal enak. Tapi, dia aja yang malas buat masak. Jadi, kalau hari ini dia ingin masak, itu tandanya ada hal yang spesial."


"Owalah, ada hal spesial ya, Bu? Apa ... ini karena ada mas Jaka di rumah kita? Mbak Meta ingin masak buat Mas Jaka ya?" Bi Mimi yang awalnya cemas, kini berubah jadi menggoda Meta.


Kini, giliran bi Mimi dan mamanya yang tersenyum. Sementara Meta, dia terlihat sedang kebingungan akibat kata-kata bi Mimi barusan.


"Lho, Mbak nggak tahu kalau mas Jaka nginap di sini tadi malam?"


"Dia bukan gak tahu, Bi. Tapi, pura-pura gak tahu di depan kita," kata mama Meta dengan nada yang menggoda.


Tapi, apa yang mamanya katakan sama sekali tidak mampu membuat Meta merasa bahagia. Tidak seperti biasanya, saat dia digoda, dia akan langsung bersemu karena malu. Tapi kali ini, Meta langsung memasang wajah kesal saat tahu Jaka nginap di rumahnya.


"Kok bisa kak Jaka nginap di sini, Ma? Siapa yang minta dia nginap di rumah kita? Orang jarak antara rumah dia dengan rumah kita itu gak jauh. Cuma bersebelahan doang. Kenapa harus nginap segala?" Meta berkata dengan nada ketus.

__ADS_1


Tentu saja sang mama dan si ART langsung memasang wajah bingung. Karena Meta sekarang, sangat jauh berbeda dari yang biasanya.


Sejak dia menghilang selama beberapa jam, dia seperti bukan dirinya yang sebelumnya lagi. Hal itu tentu sangat membingungkan buat orang-orang sekitar Meta yang tahu bagaimana sikap Meta untuk Jaka selama ini.


"Met, kamu dengan Jaka ada masalah apa sih? Kok sepertinya, mama lihat, kamu itu sangat berbeda dari sebelumnya. Kamu yang sekarang itu, seperti bukan kamu yang mama kenal."


"Iya, Mbak. Saya juga merasakan hal yang sama dengan apa yang mama mbak rasakan. Setelah mbak kembali, mbak kok terlihat seperti sangat membenci mas Jaka. Ada apa sih sebenarnya?"


"Sebenarnya ... ah, kalian akan tahu sendiri nanti. Aku akan minta kak Jaka sendiri yang menjelaskan pada kalian. Biar kalian tidak salah paham padaku, jadi, kalian harus bersabar sebentar."


Setelah berkata seperti itu, Meta ingin langsung menyibukkan diri dengan niatnya untuk memasak makanan buat Sean. Tapi, tentu saja sang mama tidak membiarkan dia melakukan hal tersebut. Dengan cepat, tangan Meta yang ingin pergi mamanya tahan.


"Kenapa tidak kamu sendiri yang menjelaskan pada mama, Met? Mama ingin tahu apa yang telah terjadi pada kalian berdua secepatnya."


"Meta, satu hal yang harus kamu ingat adalah, sebentar lagi, kamu dan Jaka akan menikah. Jika memang ada masalah kecil yang mungkin bisa kalian selesaikan dengan cara baik-baik, maka selesaikan dengan cepat, Nak. Jangan sampai merusak hal besar yang sebentar lagi akan kita laksanakan."


Meta tidak langsung menjawab. Ia tatap wajah mamanya dengan tatapan sedih. 'Haruskah aku jujur pada mama soal perempuan yang bernama Nika itu pada mama? Tapi ... aku belum tahu apa tanggapan kak Jaka sebelumnya. Bagaimana ini, ya Tuhan?' Meta berkata dalam hati sambil menatap terus wajah sang mama.

__ADS_1


__ADS_2