
Sontak, ucapan itu langsung membuat si perempuan memasang wajah terkejut. Dengan mata yang melebar, dia melihat ke arah Meta.
"Rumah ... sakit jiwa? Mama ... mama Mas Jaka berada di sana? Kok ... kok bisa?"
Pertanyaan itu tentu langsung membuat Meta mengangkat satu alisnya. Dia merasa sedikit tidak mengerti dengan si perempuan yang ada di hadapannya saat ini. Karena status perempuan ini sekarang sedang dia pertanyakan dalam hati.
"Mm ... mbak kenal dengan keluarga, kak Jaka? Maaf, maksudku, mbak ini siapanya kak Jaka ya? Karena setahu aku, kak Jaka tidak punya saudara jauh lagi sekarang." Meta berucap dengan hati-hati agar tidak menyingung perasaan si perempuan.
Namun, baru juga si perempuan ingin mengangkat bibir untuk menjawab, ponsel Meta tiba-tiba berdering. Perhatian keduanya pun teralihkan dengan bunyi ponsel tersebut.
"Maaf, aku angkat panggilan dulu, mbak." Meta berucap sambil sibuk dengan ponselnya.
"Iya, silahkan." Perempuan itu bicara dengan nada lembut.
Meta pun langsung menggeser layar ponselnya. Panggilan dari si pemilik butik pun tersambung seketika.
__ADS_1
Kurang dari tiga menit panggilan berlangsung. Hingga akhirnya, Meta mengakhiri panggilan itu sambil tersenyum lebar.
"Maaf, mbak. Saya harus pergi sekarang. Jika mbak ingin menunggu kak Jaka pulang, mungkin akan memakan waktu yang cukup lama. Tapi, jika mbak ingin segera bertemu dengan kak Jaka kalo ada urusan mendadak, mbak mungkin bisa nyusul kak Jaka ke butik La Tulip."
"Butik?" Perempuan itu terlihat semakin bingung sekarang.
Meta yang tahu akan kebingungan itu, tentu langsung menjelaskan alamatnya. Tidak hanya itu saja, Meta yang terlahir dengan hati baik yang suka menolong orang itu juga menuliskan alamat di mana butik La Tulip berada.
"Ini alamat lengkapnya, mbak. Jika memang tidak bisa menunggu, mbak bisa datang saja." Meta berucap sambil menyerahkan ponsel si perempuan yang ia pinjam untuk menuliskan alamat.
"Iya, Mbak. Terima kasih banyak atas bantuannya." Si perempuan langsung membalas senyuman Meta dengan senyuman tak kalah manisnya.
Meta pun langsung beranjak. Karena sekarang, janji untuk bertemu dengan si pemilik butik sudah termakan waktu hampir lima menit. Untung dia direkomendasikan oleh orang terkenal. Jika tidak, mana mungkin si pemilik butik yang super sibuk itu mau menunggu keterlambatannya sekarang.
Sepanjang perjalanan, Meta tiba-tiba terus terpikirkan wajah si perempuan yang tadi sempat dia ajak bicara panjang lebar sebelum pergi. Hubungan antara Jaka dengan perempuan itupun jadi pertanyaan yang membuat Meta semakin lama semakin penasaran saja.
__ADS_1
"Ya ampun, Meta-Meta. Kamu ini gimana sih? Udah bicara panjang lebar, masa iya gak tahu siapa dia. Bagaimana kalau dia itu ... agh! Tidak-tidak. Mana mungkin kak Jaka punya mantan pacar. Pacaran aja gak pernah tuh aku dengar selama aku mengenali dia," kata Meta bicara sendiri sambil sibuk dengan jalan yang ia lalui.
Meta berusaha meyakinkan dirinya kalau perempuan yang tadi itu tidak ada hubungan spesial dengan Jaka sebelumnya. Tapi sayang, usaha itu ternyata tidak semudah yang ia bayangkan. Karena semakin keras dia berusaha meyakinkan diri, maka semakin keras pula perasaannya merasakan ada sesuatu yang tidak beres dengan si perempuan.
"Ya Tuhan. Agh! Bagaimana kalau perempuan yang tadi itu benar-benar perempuan spesial yang datang dari masa lalunya kak Jaka? Apa yang harus aku lakukan kalau iya, Tuhan?"
Meta benar-benar pusing karena pikirannya sendiri. Sampai pada akhirnya dia berniat untuk menanyakan siapa si perempuan pada Jesika, adik angkat Jaka yang selama ini hidup bersama Jaka.
"Mungkin, aku harus bertanya soal perempuan yang tadi pada kak Jesi. Barang kali aja dia tahu."
"Agh! Ya sudahlah. Fokus dengan apa yang ada di depan mata saja sekarang, Met. Jangan mikir hal yang tidak-tidak dulu. Berpikirlah yang positif agar hatimu tidak bimbang." Meta bicara pada dirinya sendiri lagi.
Sambil menaikkan napas dalam-dalam, Meta berusaha membuang rasa was-was yang kini menghantuinya. Terasa berat, tapi dia harus bisa melakukan hal itu. Meyakinkan kalau Jaka memang sudah ditakdirkan menjadi miliknya.
Sampai pada akhirnya, mobil yang ia kendarai tiba juga di depan butik La Tulip. Butik ternama yang sangat ia dambakan. Karena butik ini biasanya melayani baju tempahan artis terkenal. Jadi, dia sangat bahagia saat dia bisa memakai gaun pengantin yang berasal dari butik ini.
__ADS_1
Setelah melihat butik La Tulip, juga cincin yang ada di tangan kirinya, Meta akhirnya bisa membuat perasaan bimbang yang bersarang dalam hatinya. Sekarang, dengan langkah penuh semangat, dia masuk ke dalam butik. Senyum lebar tak lupa dia perlihatkan sambil dia berjalan dengan langkah besar.