
"Entar malam aku datang ke rumah kamu sama ibu juga. Sudah buruan sana, kamu masuk."
"Ya mas, hati-hati."
Sampai di kantor Aisyah hanya mengalamun, dan tidak mengerjakan tugasnya.
"Bentar lagi aku akan jadi istri orang, masih di bolehin kerja apa nggak ya, pengen bahagiain ibu saja belum bisa." gumamnya.
Tok tok tok
"masuk"
"Kamu di panggil pak Fredy sekarang." kata temannya Tiara.
"Oh ya, ada apa ?"
"Mana saya tau. Ya udah ya, aku hanya disuruh menyampaikan pesan bapak itu saja."
"Oke Makasih."
Ia berasa deg-degan dengan, takut kalau ada kesalahan. Kaki berasa gemetaran saat melangkahkan kakinya menuju ruangan pak Fredy itu.
"Ah, hadapi saja semuanya dengan bismillah." katanya.
Tok tok tok
"Permisi pak!"
"Masuk."
Aisyah lebih terlihat santai saat ini.
"Silahkan duduk."
"Bapak manggil saya ada apa ya?"
__ADS_1
"Aku mau ngajak kamu makan malam di rumahku nanti malam bisa?"
"Ah maaf pak, tapi nanti malam ada acara lain."
"Apa nggak bisa gitu, kamu tunda dulu?"
"Nggak bisa pak, soalnya itu penting."
"Aku juga penting. Please, mau ya?"
"Penting gimana? apa bapak ngajak makan di rumah bapak dengan klien?"
"Nggak,"
"Terus?"
"Aku mau kamu jadi pacar bohongan aku?"
"Bapak nggak lagi sakit kan?"
"Nggak, aku sehat."
"Sejak kapan aku suka bercanda, aku orangnya selalu serius dengan ucapan ku."
Aisyah mengingat betul kalau seorang atasannya itu tidak pernah main-main dengan ucapan yang di lontarkan nya.
"Bapak tau sendiri kan, kalau saya sudah bertunangan dan mau menikah juga, kenapa mesti saya juga yang harus jadi pacar bohongan bapak?"
"Terus aku harus minta bantuan sama siapa lagi kalau bukan kamu?"
"Kan masih banyak karyawan di kantor ini selain saya pak,"
"Kalau karyawan sini orang tuaku juga udah kenal. Kecuali kamu, orang tuaku mau datang dari luar negeri. Mereka nggak mau tahu, pokoknya aku udah harus punya pasangan."
"Iya, aku mau bantuin bapak."
__ADS_1
"Tapi jangan nanti malam ya pak?"
"Terus kapan bisanya?"
"Kapan-kapan aku bisa, asal jangan nanti malam."
"Tanda tangani ini, surat perjanjian kalau kamu mau jadi pacar bohongan ku."
"Kok gitu sih,"
"Udah kamu jangan kebanyakan protes ya, lakuin semua yang aku minta,"
"Baik pak." dengan menundukkan kepalanya.
Ia segera menandatangani surat perjanjian tersebut.
"Tenang saja, aku kasih bayaran kok. Tapi ingat ya, di depan orang tuaku kamu harus bersikap romantis."
"Aku nggak bisa romantis pak,"
"Harus bisa, biar meyakinkan orang tuaku."
"Iya pak, aku tak belajar kalau gitu."
"Apa-apaan sih si bos itu, sama pacar sendiri aja nggak pernah romantis kok disuruh romantis dengan orang lain." gumamnya dalam hati.
"Bagus kalau gitu, ini ada uang sepuluh juta buat kamu."
"Ini untuk apa pak, uang segitu banyaknya? masak cuman jadi pacar bohongan bapak kasih bayaran segitu banyaknya. Gaji aku sebulan aja nggak ada segitu kok," protesnya.
"Sudah, kamu terima saja. Itu uang untuk beli baju, peralatan makeup, sama tas untuk kamu pakai di acara malam keluargaku."
"Beneran pak?"
"Bener, hari ini kamu boleh pulang cepat. Kerja setengah hari saja, terus cepat ke butik beli pakaian yang senada ya warnanya, jangan norak. Jangan sampai mengecewakan. Kamu bisa pergi dengan supir aku."
__ADS_1
"Ya pak, kalau gitu saya pamit dulu balik kerja. Mau lanjutin ngerjain tugas."
"Yasudah,"