Cinta Dalam Ikhlas

Cinta Dalam Ikhlas
Kekecewaan Yuna


__ADS_3

"Olin tunggu !!" teriak Hana saat sang putri keluar dan berlari menjauh. Bahkan ia melihat Olin mengusap wajahnya, Hana yakin kalau Olin menangis.


Sekeras apapun Hana berteriak Olin tak juga kembali, ingin menyusul tapi ini di keramaian, ia takut nanti malah bertengkar dan membuat mereka jadi tontonan.


"Mending telefon mas Aaron, biar dia yang nangani Olin" gumam Hana lagi.


Sementara itu Olin terus berlari, air mata yang terus menetes membasahi pipi. Dadanya terasa sesak seakan terhimpit benda besar. Sesekali ia berhenti mengatur napas dan mengusap wajahnya yang basah.


Ia tidak mengerti kenapa kedua orang tuanya begitu egois. Kenapa dirinya yang harus selalu mengerti kondisi Hana maupun Aaron. Kenapa tidak sedikitpun mengerti kondisinya saat ini.


Olin menghentikan mobil taksi, lalu masuk kedalam setelah taksi berhenti.


"Mau kemana neng ?" tanya sang sopir.


"Jalan aja dulu pak !! nanti saya bilang mau kemana"


Walau bingung tapi sang sopir tetap menjalankan tugasnya. Ia menekan pedal gas kemudian mobil melaju dengan perlahan.


Mata Olin menatap sekitar, ketika ia melewati sebuah danau dimana ia di lamar oleh Alzan dulu, langsung menyuruh sopir menghentikan mobilnya.


"Berhenti disini Pak !!" pinta Olin.


"Baik Neng"


Setelah membayar taksi, Olin langsung keluar. Ia menatap danau yang tenang itu. Sesekali ia tersenyum, namun air mata terus meluncur membasahi pipinya.


"Entah bagaimana cerita kita nanti, aku sendiri tidak tahu. Papa dan Mama ku begitu egois" gumam Olin


"Mereka tidak mengerti bagaimana tertekannya aku ! Selama ini mereka selalu ingin aku yang mengerti mereka" ia kembali terisak, mere mas dadanya yang kian terasa sesak.


Rasanya ia ingin mengakhiri hidupnya sekarang, Olin pikir tak ada gunanya ia hidup seperti ini.


"Aku akan disini, menunggu siapa tau Ustadz Alzan datang" gumamnya penuh harap. Bukan ingin berduaan hanya saja Olin ingin menyampaikan kalau kedua orang tuanya belum menyetujui tentang rencana mereka yang ingin menikah.


Alzan tentu tidak akan mau kalau di ajak kawin lari.


...----------------...


Sementara itu Abi Ghofar mendatangi rumah Yuna bersama Alzan dan istrinya. Kali ini mereka datang bertiga tanpa adanya Arzam.

__ADS_1


Semalam Abi Ghofar sudah sepakat dengan sang istri untuk membatalkan prihal perjodohan ini, semoga saja Kyai Hairun menerima keputusan mereka, walau tentunya mereka akan kecewa.


"Assalamualaikum" seru Abi Ghofar setelah berdiri di hadapan Kyai Hairun.


"Waalaikumsalam" balas Kyai Hairun, keduanya langsung berjabat tangan dan saling berpelukan.


Alzan paham kalau Abi Ghofar dan Kyai Hairun sudah menjalin persahabatan sejak lama. Ia sendiri tidak tega jika harus mengecewakan salah satunya, namun Alzan tidak ingin membuat Arzam terluka, dan terlebih lagi ia menaruh rasa suka pada Olin.


"Mari masuk !!" ajak Umi Fadilah.


Kini mereka semua sudah duduk di ruang tamu, di atas meja ada teh hangat beserta gorengan yang baru di antar oleh Art. Terlihat Yuna duduk di samping Umi Fadilah.


"Kedatangan kami kesini ingin menyampaikan permohonan maaf yang sebesar-besarnya pada Mas Hairun sekeluarga" ucap Abi Ghofar mengawali pembicaraan.


"Ada apa ini dek ? seperti penting saja" balas Kyai Hairun. Memang umur Kyai Hairun lebih tua dari Abi Ghofar.


"Ini soal perjodohan antara Alzan dan Yuna" Abi Ghofar menghentikan ucapannya, ia menarik napas panjang sambil menatap raut wajah Kyai Hairun.


"Ada apa dengan perjodohan mereka ?, Apa akan di laksanakan secepatnya ?" tanya Kyai Hairun.


Sementara Yuna sudah gemetar, ia sudah berpikiran yang tidak-tidak. Sejak hari dimana Olin mengutarakan perasaanya pada Alzan, sejak saat itu Yuna berpikir kalau ia dan Alzan tidak akan berjodoh.


"Kamu saja yang bicara nak !! Abi tidak sanggup" bisik Abi Ghofar di telinga Alzan.


"Baik Abi" balas Alzan, walau ia tahu akan mengecewakan semua orang terutama Yuna, tapi Alzan tetap harus menyampaikan semuanya. Dari pada terus di tahan dan membuat Yuna akan semakin berharap lebih.


"Sebelumnya saya minta maaf pada Kyai Hairun dan Umi Fadilah. Maaf karena saya akan mengecewakan kalian. Saya tidak bisa menikah dengan Yuna" ucap Alzan dengan tarikan napas yang panjang, seperti ada kelegaan yang ia rasakan setelah mengatakan semua itu.


"Kenapa Al ? apa ada yang kurang dengan putri saya ?" tanya Kyai Hairun cukup terkejut.


"Semua orang tentu punya kekurangan, begitupun dengan saya. Karena kesempurnaan hanyalah milik Allah. Tapi ada hal lain yang membuat saya tidak bisa menikahi Yuna".


Saat itu juga Yuna langsung meneteskan air matanya, ia menunduk tak berani menatap semua orang. Berarti apa yang ia pikirkan selama ini ternyata benar kalau Alzan tidak akan menikahinya.


Tapi kenapa ?.


Apa karena wanita waktu itu ?


Atau ada hal lain.

__ADS_1


"Hal lain apa Al !! tolong beri tahu kami ! biar kami tau" kembali Kyai Hairun bertanya.


"Ada seseorang yang menyukai Yuna dengan segenap jiwa dan raganya. Saya tidak mau menyakitinya jika saya tetap melakukan pernikahan ini" balas Alzan lagi.


"Siapa orang itu ?"


"Arzam sahabat dekat saya"


Yuna kaget, ia tidak percaya kalau Arzam menyukai dirinya. Ia pikir pertemuannya selama ini dengan Arzam hanyalah pertemuan biasa.


"Permisi saya mau kekamar dulu" ucap Yuna yang akhirnya memilih pergi, ia butuh waktu untuk sendiri.


"Tunggu dek !" kata Alzan membuat langka kaki Yuna berhenti. Tapi tak sedikitpun ia membalikkan tubuhnya.


"Ada apa Ustadz ?"


"Saya tau adek kecewa, tolong maafkan saya dek !! maaf sudah membuatmu menangis"


Yuna mengangguk "Biarkan Allah yang menghapus air mata ini Ustadz, permisi saya mau sendiri"


Alzan menatap punggung Yuna yang perlahan menjauh. Ia berharap semoga Yuna tidak membencinya karena memutuskan perjodohan ini.


Jujur Alzan tidak bisa menikahi Yuna. Bukan hanya karena Arzam tapi sampai saat ini ia tak memiliki rasa cinta terhadap Yuna.


"Kami terima keputusan nak Alzan, semoga kalian berdua sama-sama mendapatkan jodoh yang terbaik" ucap Kyai Hairun kembali.


"Maafkan Alzan sekali lagi mas, karena mengecewakan putri mas" balas Abi Ghofar.


"Tidak mengapa, kita ini hanya manusia biasa. Yang tak luput dari salah"


Akan tetapi berbeda dengan Umi Fadilah. Raut wajah wanita paruh baya itu langsung berubah sejak dimana Alzan memutuskan perjodohan ini.


Bahkan saat keluarga Alzan berpamitan, Umi Fadilah enggan mengantarkan kedepan pintu seperti biasa.


"Maafkan Alzan Mi !!" gumam Alzan yang tau kalau Umi nya sedih karena tindakan Umi Fadilah tadi.


"Kami pamit mas, jangan lupa berkunjung ke pesantren" ucap Abi Ghofar.


"Insya Allah kalau nanti ada waktu"

__ADS_1


__ADS_2