
Di kelas, seperti biasa Olin akan bersikap layaknya siswa yang lain. Karena sampai sekarang belum ada yang mengetahui tentang pernikahan Olin, selain Indri dan Bela tentunya.
"Lin, gimana rasanya ?" Tanya Indri seraya menarik turun kan alis sebelah kanannya.
Olin menatap Indri bingung "Rasa apa ?" Tanyanya kemudian.
"Jangan pura-pura gak ngerti deh, Lo kan udah nikah" balas Bela berbisik karena takut kedengaran yang lain.
"Kalau bicara yang jelas dong ! Gue beneran gak ngerti kalian ngomong apa"
Sesaat Indri dan Bela saling pandang, lalu keduanya kembali berkata "Malam pertama Lin" ucap keduanya serempak.
"Ma-malam pertama ?" Ucap Olin terbata-bata.
"Iya malam pertama ? Gimana rasanya ? Sakit atau enak ?" Kembali Indri memberi pertanyaan beruntun.
"Aku belum melakukan nya" jawab Olin tanpa kebohongan, karena memang begitu adanya sampai saat ini Olin belum pernah memberikan hak Alzan sebagai seorang suami.
Sontak saja kedua sahabatnya itu melongo, bagaimana bisa Olin dan Alzan belum melakukan malam pengantin baru padahal keduanya sudah lama menikah.
"Lo jahat banget sih" sentak Indri.
"Kok jahat ?" Tanya Olin bingung.
"Iya jahat lah, kenapa Lo gak ngasih Ustadz Alzan hak nya, gimana kalau dia jajan di luar"
"Astaghfirullah, jaga bicaramu In !" Balas Olin tak terima. tidak mungkin sang suami akan melakukan hal itu, walau pernikahan nya belum sampai 2 bulan tapi Olin sudah banyak mengenal Alzan.
Pria sebaik Alzan tak akan melakukan hal sebejat itu, pikir Olin .
"Iya maaf Lin !" Kata Indri merasa bersalah "tapi kenapa Lo belum memberikan hak Ustadz sebagai suami ?"
"Bagaimana caranya aku memberikan sedangkan kondisi aku seperti ini, lagian aku masih sekolah In, bagaimana kalau aku hamil ?"
"Hamil itu sudah resiko sebagai istri Lin, dan kelumpuhan Lo gak jadi alasan buat Lo gak memberi hak nya Ustadz. Dia itu suami kamu"
Olin terdiam, benar kata Indri harusnya ia memberikan hak nya Alzan sebagai suami, dirinya memang punya kewajiban untuk melayani Alzan.
------------
Jam pulang sekolah akhirnya tiba, seperti biasa Alzan sudah menunggu di luar gerbang sekolah Olin. Menunggu sang istri yang baru saja keluar kelas.
kedatangan Alzan setiap hari ke sekolah Olin membuat para siswa bertanya-tanya, apalagi ketampanan Alzan membuat para cewe hebo. tapi sayangnya tak sedikitpun Alzan menghiraukan.
Dari kejauhan matanya sudah melihat sang istri sedang berjalan kearahnya dengan di bantu kedua sahabatnya. Alzan dengan sigap berjalan mendekat untuk menggantikan Bela mendorong kursi roda Olin.
"Biar saya saja !" Ucap Alzan pada Bela.
"Tidak apa-apa Ustadz, biar saya yang bawa sampai ke mobil"
"Tidak mengapa biar saya, terima kasih sudah membantu dan menjaga istri saya"
Akhirnya Bela menyerahkan kursi roda Olin.
__ADS_1
"Aku duluan ya" ucap Olin pada kedua sahabatnya itu.
"Iya Lin, hati-hati di jalan !"
Olin menjawab dengan anggukan.
---------
Sepanjang perjalanan pulang Olin terus menatap sang suami, hingga membuat Alzan gemas karena kelakuan istrinya.
"Kenapa dek ?" Akhirnya Alzan mengajukan pertanyaan.
"Enggak papa kok, seneng aja lihat wajah mas yang tampan"
Alzan terkekeh, ia mengacak rambut Olin saking gemasnya.
"Mas"
"Hemmm"
"Nanti malam aku ingin memberikan hak mas sebagai suami"
Cittttt.
Alzan langsung menginjak rem secara mendadak saat mendengar ucapan istrinya. Sementara Olin ketakutan dan mengucapkan istighfar berkali-kali.
"Ada apa sih mas ? Kok main rem begini ?" Tanya Olin, telapak tangannya terus mengelus dadanya karena ketakutan .
"Aneh"
"Habis kamu bahas begituan saat di jalan seperti ini"
"Lah memangnya kenapa mas ? Aku kan istri kamu ?"
"Mas kan jadi tegang dek"
Mendengar hal itu Olin tersenyum, ternyata bukan hanya dirinya yang gugup jika membahas tentang malam pertama, Alzan pun sama.
"Aku serius kok mas, aku kan sudah jadi istri sah mas Alzan" kembali Olin mengatakan hal serupa.
Alzan menatap wajah istrinya "terima kasih sayang, mas bahagia mendengarnya"
----------
Sementara itu di rumah Sarah ngamuk-ngamuk Karena Hana tak memberikan sertifikat rumah yang ia inginkan.
"Dasar wanita tak tau malu, udah jadi mantan istri masih saja ingin menguasai rumah mas Aaron" gumam Sarah kemudian.
Kamar yang biasanya rapih kini sudah seperti kapal pecah. Ia marah dan melampiaskan semua nya pada barang-barang di kamar itu. Bahkan peralatan Aaron saja kena imbasnya.
Para Art yang mendengar suara barang-barang pecah menjadi heran, tapi mereka semua tak ada yang berani menegur atau pun bertanya pada Sarah.
Hingga tak di duga Aaron pulang, laki-laki itu kaget saat melihat kondisi kamarnya yang berantakan. Dan yang paling kaget lagi ia melihat sang istri sedang merokok sambil duduk di sofa.
__ADS_1
"Apa yang terjadi dek ? Dan kenapa kamu merokok seperti ini" tanya Aaron. Ia mengibaskan tangannya karena tak bisa menghirup asap rokok.
"Hentikan sayang ! Mas bisa batuk kalau menghirup asap rokok !" Ucap Aaron lagi.
Tapi Sarah tidak menghiraukan, hingga membuat Aaron kesal. Laki-laki itu lantas mengambil rokok yang ada di mulut Sarah lalu membuangnya keluar. Tak lupa Aaron membuka jendela lebar-lebar supaya asap rokoknya keluar.
"Kamu apa-apaan sih mas ? Kenapa main buang aja ?" Bentak Sarah emosi.
"Mas tidak bisa kena asap rokok dek, nanti mas batuk"
"Iya itu urusan kamu lah, kenapa aku yang repot"
Aaron terhenyak mendengar jawaban sang istri, apa yang membuat Sarah berubah.
"Kamu kenapa ? Kok berubah begini ? Biasanya kamu lembut saat bicara padaku"
Sarah tersenyum sinis "aku udah capek pura-pura baik sama kamu mas"
"Maksud kamu"
"Kamu bukan pria bodoh, jadi ku rasa aku tak perlu menjelaskan semuanya"
Sarah hendak melangkah pergi tapi di tahan oleh Aaron "kamu mau kemana ?" Tanya Aaron, ia masih sedikit sabar menjawab ucapan Sarah.
"Aku mau pergi, aku mau pisah sama kamu"
"Kenapa sayang ? Apa yang terjadi ?"
"Ya buat apa kita bersama sementara hal-hal penting kamu titipkan ke Hana"
"Hal penting apa dek ?"
Lagi dan lagi Sarah tersenyum sinis, suaminya belum juga mengerti apa yang ia bicarakan.
"Sertifikat rumah"
"Jadi masalah itu kamu marah, sayang itu bukan hal penting dek, biarin aja sertifikat itu sama Hana"
"Biarin katamu, itu hal penting mas, kalau ada apa-apa gimana ?" Jawab Sarah emosi "kalau kamu mencintai aku, kamu ambil sertifikat itu dari Hana !"
"Tidak bisa dek, lagian sertifikat itu atas nama Olin"
"Olin kan juga anak ku, jadi tidak apa-apa dong kalau aku menyimpannya juga, apa kamu tidak percaya padaku ?"
Aaron frustrasi, ia bingung harus bagaimana. Sertifikat rumah itu sudah lama bersama Hana atau lebih tepatnya saat persidangan perceraian mereka.
Ia dan Hana sepakat akan memberikan rumah setelah Olin berumur dua puluh tahun, dan tetap akan mereka lakukan tak peduli walau Olin sudah menikah saat ini.
"Gak bisa kan ? Jadi lebih baik kita cerai saja" ucap Sarah.
"Jangan dek, mas sangat mencintaimu"
"Ya kalau mas mencintai aku, ambil dong sertifikat itu, berikan padaku ! Buktikan cinta mas itu"
__ADS_1