
Sekarang Olin sedang duduk sambil menatap kedua sahabatnya. Ia merasa seperti telah melakukan kesalahan besar dan akan di sidang. Begitu mengerikan.
Karena sejak tadi Indri maupun Bela terus menatap Olin, meminta penjelasan kenapa pagi ini Alzan bisa mengantar Olin ke sekolah.
Dan bukan hanya itu saja, tutur kata Alzan begitu lembut pada Olin. Layaknya sepasang suami istri yang baru saja menikah.
"Lo gak mau jelasin apa-apa ke kita ?" Sentak Indri
Olin meringis berusaha menghilangkan rasa gugup yang kian melanda..
"Lo sama Ustadz Alzan ada apa-apa kan ?" Kata Bela menimpali.
"Iyalah pasti ada apa-apa. Kalau enggak ngapain Ustadz Alzan nganterin Olin sekolah. Mereka kan bukan saudara"
"Iya-iya gue jelasin, tapi kalian jangan bilang sama siapa-siapa ya !!" Ucap Olin setengah berbisik. Ia bahkan melirik kekiri dan kekanan untuk memastikan bahwa yang lainnya tak mendengar apa yang akan ia katakan.
"Lo kaya gak kenal kita aja, emang kapan rahasia Lo kita bocorin" ujar Bela kemudian.
"Gak usah kencang-kencang ngomongnya" cibir Olin kearah Bela.
"Ok-ok gue diem, ya udah Lo cerita semuanya. kita berdua janji gak akan ngasih tau yang lain" Bela kembali berbicara.
Dan dari sana Olin menceritakan semuanya, ia dan Alzan menikah saat dirinya masih dalam keadaan koma. Tak ada sedikitpun yang Olin tutupi dari kedua sahabatnya itu.
Tentu saja mendengar cerita Olin, kedua sahabatnya berteriak histeris, membuat Olin mencibir dan kesal dengan tingkah kedua sahabatnya itu.
"Udah gue bilangin diam, mala kek gini" ucap Olin
"Lo beruntung banget Lin, dari koma terus pas sadar udah jadi istri Ustadz Alzan. gue jadi iri kan" kata Indri tak menghiraukan kekesalan Olin.
"Pelanin dikit ngomongnya !! entar ada yang dengar. Kata Papa jangan sampai ada yang tau soal ini sebelum aku lulus SMA"
"Tenang Lin, rahasia Lo aman sama kita"
Tak berapa lama guru mata pelajaran memasuki kelas, membuat Olin, Indri dan Bela terdiam seketika. Ketiga nya sama-sama Fokus mendengar kan penjelasan sang guru, apalagi sebentar lagi mereka akan menghadapi ujian.
*****
Waktu istirahat tiba, Indri membantu mendorong kursi roda Olin, Mereka akan makan di kantin sambil melanjutkan obrolan yang menggantung tadi.
Namun langkah ketiganya langsung terhenti saat Chiko menghadang. Olin mengernyit dan menatap Chiko tak suka.
"Udah sembuh Lin ?" tanya Chiko mengabaikan tatapan tak suka dari Olin.
__ADS_1
"Kalau gue udah sekolah ya berarti udah sembuh, Lo gak buta kan ?"
"Mulut Lo gak berubah ya, masih aja ngegas kalau ngomong"
"Ya terserah gue dong, mulut-mulut gue"
Chiko berusaha sabar menghadapi ucapan Olin yang begitu kasar. Memang sampai saat ini Olin tak tahu kalau Chiko menjenguk nya saat ia masih dalam keadaan koma.
"Dasar cewek kasar, gue sumpahin gak bakal ada yang mau sama Lo" ucap Chiko lalu pergi meninggalkan Olin.
Olin tak lagi menjawab, ia justru terkekeh lucu mendengar sumpah Chiko. karena baginya sumpah itu tak akan berlaku untuknya. Ia kan sudah menikah dengan Alzan, itu berarti ada yang mau sama dia.
"Udah yuk lanjut ke kantin" ajak Olin pada kedua temannya
Indri kembali mendorong kursi roda Olin, sepanjang perjalanan menuju kantin banyak yang mengucapkan kata 'cepat sembuh Lin' dan itu membuat Olin bahagia.
*********
Waktu berlalu begitu cepat, setelah menunggu setengah hari lewat, akhirnya bel pulang sekolah di bunyikan..
Saat Indri akan membantu mendorong kursi roda Olin, tiba-tiba Alzan datang hingga membuat Indri mengurungkan niatnya.
"Biar saya saja" ucap Alzan dengan lembut.
Alzan tersenyum "Insya Allah saya tidak akan telat menjemput Olin"
"Oh,so sweet" serempak Indri dan Bela mengatakan hal itu, membuat wajah Olin tersipu malu.
Apalagi saat Alzan mendorong kursi roda milik Olin, rasanya Indri dan Bela ingin berada di posisi Olin saat ini.
"Olin beruntung banget tau gak" ucap Bela masih menatap sepasang suami istri yang saat ini sudah menjauh dari mereka.
"He.em. Aku kok pingin nikah juga"
"Mau nikah sama siapa Lo ? cowok aja gak punya"
"Makanya itu, kira-kira ada gak ya yang kaya Ustadz Alzan di dunia ini, kalau ada gue pingin satu"
Bela mencebikkan bibirnya, bukan hanya Indri yang menginginkan suami seperti Alzan, dirinya pun ingin. Bela sudah lama mengenal Ustadz Alzan, pria tampan dan hampir mendekati kata sempurna.
"Coba dulu aku bilang sama Ustadz Alzan kalau aku suka dia, mungkin sekarang aku yang ada di posisi Olin" batin Bela.
******
__ADS_1
Sementara itu saat di perjalanan pulang, Alzan ingin mengatakan pada sang istri bahwa kedua kakaknya akan pulang kerumah hari ini. Sekaligus ingin menyampaikan prihal nikah ulang yang tadi Umi katakan.
"Hemm, dek" ucap Alzan
Olin menoleh lalu menjawab "Iya mas, ada apa ?"
"Mas mau bilang kalau hari ini kedua kakak mas akan pulang, mereka katanya mau ketemu sama kamu. Dan satu lagi--"
"Apa itu mas ? katakan saja !"
"Umi minta kita nikah ulang, secara agama dan negara. Kan waktu di rumah sakit itu kita nikahnya secara agama saja belum secara negara"
Olin terdiam beberapa saat, untuk kedua kakak sang suami ia tak mempermasalahkan, tapi nikah ulang itu yang menjadi pikiran Olin.
"Apa tidak bisa di tunda ya mas nikah ulang nya ?" tanya Olin ragu.
"Kenapa harus di tunda dek ?"
"Hem itu mas---"
Entah bagaimana cara nya Olin menjelaskan, ia bukannya tidak ingin menikah secara resmi dengan sang suami. Hanya saja saat ini hubungan nya dengan Aaron tak begitu baik.
Olin masih marah dengan sang Papa, dan untuk sementara ia belum ingin bertemu Aaron dulu, sampai kondisi hatinya kembali baik.
"Dek" panggil Alzan.
"Mas tau kan kalau aku marah sama Papa, untuk sementara aku belum ingin bertemu Papa. Nah jika kita melakukan nikah ulang sekarang aku pasti ketemu sama Papa mas"
"Perbanyak istighfar sayang ! kamu boleh marah sama Papa, tapi jangan menjauhinya !! walau bagaimana pun dia adalah Papa kamu, laki-laki yang merawat kamu dari kecil sampai sebesar ini"
"Tapi Papa gak sayang sama aku mas"
"Kata siapa ? Papa itu sayang banget sama kamu dek, mungkin cara Papa yang salah, dia juga ada alasan sayang sehingga berbuat seperti ini"
Tapi Olin menggeleng, ia kesal karena sang suami membela sang Papa. Padahal Alzan tau betul bagaimana ia di usir secara halus oleh sang Papa.
"Bukankah bagi anak perempuan cinta pertamanya adalah Ayah ?" ucap Alzan lagi
***********
...LIKE DAN KOMEN...
...ADD FAVORIT...
__ADS_1
...RATE BINTANG LIMA ...