
Malam itu Alzan menemui Abi nya yang sedang berada di ruang keluarga. Ia duduk di sofa sembari menatap Abi Ghofar yang sedang membaca Al-Quran.
Sesekali ia menghela napas panjang, berharap dengan sangat apa yang akan ia sampaikan nanti akan di pahami oleh Abi Ghofar.
"Ada apa Al ?" Tanya Abi Ghofar seakan tau kalau putra nya itu akan menyampaikan hal penting.
"Al mau bicara hal penting Abi"
Abi Ghofar menutup Al-Quran, kemudian meletakkan nya di atas meja. Ia berdehem sebentar kemudian menatap Alzan dengan seksama.
"Ada apa ?, Apa ini mengenai perjodohan mu dengan Yuna ?" Tanya Abi Ghofar, ia memang belum mengetahui prihal Arzam yang menyukai Yuna.
"Iya Abi" jawab Alzan
"Apa kamu bersedia menerima perjodohan ini ?"
"Maafkan Al Abi, bukan Al tak mau menerima perjodohan ini, tapi jika Al menikahi Yuna, itu berarti Al akan menyakiti Arzam"
"Maksud kamu ?"
"Arzam mencintai Yuna Abi, dan sepertinya sudah lama. Apa setidaknya Arzam saja yang Abi jodohkan dengan Yuna. Karena jujur Al tidak tega jika menyakiti Arzam"
Mendengar hal itu Abi Ghofar terkejut, ia tak menyangka kalau Arzam menyukai Yuna.
"Astaghfirullah" Abi Ghofar mengelus dada "benarkah begitu Al ?"
"Iya Abi"
"Ya Allah, Abi hampir saja menyakiti Arzam. Tolong sampaikan maaf Abi padanya"
"Nanti akan Al sampaikan Bi, tapi ada hal lain juga yang mau Al katakan"
"Katakan Al !! Abi akan mendengarkan semuanya"
"Al akan tetap menikah, dengan wanita pilihan Al sendiri. Memang dia tidak seperti Yuna, tapi Al yakin dia wanita yang baik"
Kening Abi Ghofar mengkerut, ia tatap wajah Alzan dengan seksama "siapa nama wanita itu nak ? Apa Abi pernah bertemu"
"Pernah Bi, namanya Olin. Dia wanita yang Al tolong beberapa waktu lalu"
Abi Ghofar berpikir dengan keras, mungkin karena sudah tua ia lupa dengan pertemuannya dengan Olin. Tapi dengan keras Abi Ghofar mengingat semuanya, hingga akhirnya Abi Ghofar ingat pada sosok Olin.
__ADS_1
"Wanita itu ? Iya Abi ingat. Tapi bukankah dia masih terlalu mudah untukmu Al"
"Betul Abi, dia masih SMA. Tapi Al sudah berjanji akan melamarnya Bi. Tolong lamar kan dia untuk Al" pinta Alzan dengan sungguh-sungguh
"Jika memang itu keputusan kami Abi akan melamar gadis itu, semoga kelak dia akan menjadi istri yang baik dan Solehah untuk kamu"
"Aamiin"
Setelah mengatakan keinginannya Alzan kembali kekamar. Ia duduk di tepi ranjang sembari berpikir.
Pertemuannya dengan Olin tadi membuatnya begitu kasihan dengan nasib Olin. Wanita yang baru tumbuh remaja itu tertekan karena keegoisan kedua orang tuanya.
Alzan tak bisa membayangkan bagaimana cara Olin menghadapi hari-harinya. Pasti akan sangat sulit bagi Olin.
"Aku berjanji akan membahagiakan kamu, aku akan menyayangimu dengan ikhlas" gumam Alzan begitu mantap.
----------------
Begitupun dengan Olin, malam ini ia akan mengatakan pada sang Papa kalau Alzan akan melamarnya. Tapi Olin takut Aaron tidak akan merestui semuanya, mengingat betapa kerasnya sikap Aaron selama ini.
Dengan mengumpulkan keberanian, ia ayunkan kakinya menuju ruang kerja Aaron. Karena kata Bi Yatri kalau Aaron dan istri barunya sedang berada di ruang kerja.
Tok-tok-tok.
"Ada apa nak ?" Tanya Aaron sambil menatap Olin.
"Aku mau ngomong sama Papa" jawab Olin, ia menarik kursi di hadapan Aaron kemudian duduk disana.
"Ngomong apa ? Katakan sayang ! Papa akan mendengarnya" ucap Aaron.
Olin melirik sebentar ke arah Sarah yang masih saja duduk di pangkuan Aaron, bahkan wanita itu tak sedikitpun punya niat untuk pindah.
"Olin mau nikah Pa" ucap Olin langsung.
Mendengar hal itu Aaron tersedak air liurnya sendiri, ia terkejut apa yang baru saja putrinya katakan.
"Nikah ?" Tanya Aaron memastikan.
"Iya Pa"
"Sama siapa nak ? Perasaan kamu gak pernah bawa laki-laki kerumah"
__ADS_1
"Memang tidak pernah Pa, namanya Alzan dia seorang Ustadz Pa. Dia mapan jadi Papa tidak perlu khawatir dengan masa depanku" jelas Olin membanggakan Alzan di hadapan Aaron.
"Tapi kamu masih sekolah sayang, dan Papa ingin kamu kuliah kedokteran"
"Aku masih bisa tetap sekolah Pa, nikahnya diam-diam dulu, nanti kalau udah lulus baru selenggarakan resepsi"
Aaron menatap wajah putrinya, ada rasa tak terima jika Olin akan menikah secepat ini.
"Papa belum setuju sayang, Rasanya Papa belum puas melihat kamu tumbuh menjadi remaja cantik seperti ini. Nanti saja ya nikahnya kalau udah lulus kuliah"
"Enggak mau Pa, Olin mau nya sekarang. Lagian kalau Olin nikah gak akan ada lagi yang ganggu keharmonisan Papa sama istri baru Papa"
"Tapi nak---"
"Sayang izinkan saja kalau Olin mau nikah, mungkin memang jodohnya udah sampai. Nanti kalau di larang Olin malah berbuat yang enggak-enggak" sahut Sarah yang membela Olin, tapi tak sedikitpun membuat Olin bahagia.
"Kasih Papa waktu, papa juga mau rundingan sama mama kamu nak !"
Olin mengangguk tanda setuju, beginilah nasib jika kedua orang tua sudah berpisah. Sulit untuk mendapat keputusan langsung.
"Kalau begitu Olin kekamar lagi Pa, Olin harap keputusan Papa bisa membuat Olin bahagia" kata Olin sambil berdiri dari duduknya. Ia melangkahkan kakinya untuk keluar ruangan, tapi baru saja di ambang pintu Aaron kembali memanggil.
"Ada apa Pa ?" Tanya Olin heran.
"Kalau kamu nikah itu berarti kamu akan ninggalin Papa ?" Ucap Aaron dengan suara serak.
"Iya Pa, Olin akan ikut suami. Tapi Papa tenang saja Olin akan sering-sering berkunjung kerumah ini"
Ada rasa sedih di hati Olin saat menjawab ucapan Aaron. Begitupun dengan Aaron.
Ia merasa waktu begitu cepat mempertemukan putrinya dengan jodohnya. Padahal Aaron masih menginginkan melihat Olin lulus SMA sampai lulus kuliah.
Aaron menatap punggung Olin yang sudah menjauh. Ia menarik napas panjang hingga tak terasa ada setetes air mata yang membasahi pipinya.
"Aku sudah tua karena akan segera memiliki menantu" gumam Aaron tapi masih di dengar oleh Sarah.
"Semua orang akan menikah Mas, begitupun dengan Olin. Tapi percayalah walau Olin sudah menikah sampai kapanpun dia akan tetap menjadi putri kecilnya mas"
"Tapi mas belum sanggup berbagi dek, jika selama ini Olin akan menomor satukan aku, beda kalau dia sudah menikah. Pasti Olin akan lebih sayang sama suaminya dari pada sama aku"
Sarah mengelus punggung suaminya, ia merasakan kesedihan Aaron, wajar kalau Aaron begitu karena akan berpisah dengan Olin.
__ADS_1
"Semoga aku segera hamil, supaya mas Aaron tidak sedih lagi, dan semoga anakku nanti laki-laki" batin Sarah.