
"Mau apa mbak cari mas Aaron ?" tanya Sarah
"Bukan urusanmu" jawab Hana dengan nada ketus.
"Jelas dong ini urusanku, mas Aaron itu suami sah aku, sedangkan mbak hanya mantan" balas Sarah lagi sambil menekankan kata mantan pada Hana.
Mendengar hal itu Hana kesal, ia menatap Sarah dengan tajam. Rasanya ia ingin mencabik-cabik mulut wanita itu kalau saja ia lupa apa tujuannya datang kerumah tersebut.
"Cepetan katakan, dimana suami kamu" pinta Hana tak sabaran.
Sebelum Sarah menjawab, suara Aaron sudah terdengar.
"Ada apa kamu mencariku malam-malam begini ?" suara barinton Aaron terdengar sangat jelas.
Serempak Sarah dan Hana menoleh kebelakang, Sarah langsung mendekati suaminya dan bergelayut manja di lengan Aaron, seolah memperlihatkan pada Hana kalau Aaron sudah menemukan wanita yang pas.
Melihat tingkah Sarah, membuat Hana ingin muntah, baginya tingkah Sarah terlalu berlebihan dan masih kekanak-kanakan.
"Aku kesini mau tanya, kenapa kamu usir Olin dari rumah ini ?" tanya Hana berusaha meredam emosi.
"Dia kan sudah punya suami, jadi sebaiknya Olin ikut suaminya" sahut Sarah sebelum Aaron menjawab.
"Diam kamu !! saya tidak bicara sama kamu, saya bicara sama Papa nya Olin" bentak Hana sambil menunjuk wajah Sarah.
Sarah terdiam, ia menatap wajah Aaron mencari pembelaan, namun Aaron bersikap biasa saja dan justru berucap.
"Kamu tunggu di kamar, mas mau bicara berdua sama Hana" pinta Aaron Ke sang istri.
Hana tersenyum kearah Sarah, yang saat ini tengah memasang wajah kesal. Ia menghentak-hentakan kakinya bak anak kecil yang minta di belikan mainan. Tapi lagi-lagi Aaron tak peduli.
Sarah meninggalkan Aaron dan Hana dengan perasaan berkecamuk. Apalagi saat melihat senyuman menjengkelkan dari Hana.
"Ayo jawab ! kenapa kamu usir Olin ?" kembali Hana bertanya setelah memastikan kalau Sarah sudah tidak ada di tempat.
"Aku tidak mengusirnya, aku cuman meminta Alzan membawanya kerumah mereka"
"Itu sama saja" teriak Hana frustasi. Bisa-bisanya Aaron yang ia kenal pintar menjadi bodoh seperti ini.
"Hana please, ngertiin kondisi aku !!. Aku baru saja membina rumah tangga dengan Sarah, dan dia ingin Olin ikut suaminya. Aku tidak ingin rumah tangga yang baru saja aku bina hancur berantakan" jelas Aaron tanpa ada satupun yang ia tutupi.
__ADS_1
Hana menggelengkan kepalanya, mendengar cerita mantan suaminya itu. Ternyata pikiran Aaron sudah di racuni oleh Sarah.
"Kamu lupa ya kalau rumah ini atas nama Olin. Ingat rumah ini kita beli sama-sama, di sini juga ada uang aku, jadi aku harap Olin kembali kerumah ini"
Aaron tersentak, memang benar apa yang di katakan oleh Hana, kalau rumah yang ia tempati saat ini juga ada hasil kerja keras Hana saat mereka masih bersama.
"Sebenarnya yang harus pergi dari rumah ini bukan Olin tapi kamu sama istri kamu" bentak Hana
Aaron hanya bisa diam, ia merasa kalau dirinya salah. Hanya saja ia tak berani menolak permintaan Sarah. Ia trauma dengan perpisahan nya dan Hana dulu.
Namun tanpa keduanya duga kalau Sarah mendengar semuanya, ia cukup kaget saat mendengar kalau rumah itu atas nama Olin.
"Percuma dong gue usir Olin, toh kapanpun nanti rumah ini akan tetap menjadi miliknya" batin Sarah kesal.
Ia marah kenapa suaminya tak menceritakan semuanya selama ini, jika saja ia mengetahui dari awal, mungkin Sarah akan meminta Olin untuk menyerahkan rumah ini padanya.
-----------------
Sementara itu Olin baru saja menyelesaikan sholat Maghrib bersama Umi Halwah. Ia duduk melamun dengan air mata berderai. Membuat Umi heran dan langsung bertanya.
"Ada apa nak ? kenapa kamu menangis ?" tanya Umi dengan lembut.
"Pasti ada apa-apa, tapi mungkin saat ini kamu belum mau cerita sama Umi" Balas Umi lagi, ia menggenggam tangan Olin dengan lembut "Tidak apa-apa Umi mengerti, nanti jika sudah saatnya jangan sungkan cerita sama Umi, dari pada di pendam sendiri"
Olin menatap wajah mertua nya, entah kapan Hana akan bersikap seperti ini, ia menginginkan hal itu.
"Terima kasih Umi mau menerima Olin sebagai menantu, padahal Umi tau sendiri kalau Olin banyak kekurangan"
"Tidak ada manusia yang sempurna. Kamu Allah kirimkan untuk menjadi istri anak Umi, dan mana mungkin Umi bisa menolak apa yang sudah Allah tetap kan"
Ucapan demi ucapan Umi begitu menyentuh hati, Olin begitu bersyukur memiliki mertua yang begitu baik padanya.
Tidak berapa lama Alzan datang.
"Dek ayo kekamar, kamu harus istirahat bukannya besok kamu mau sekolah" ucap Alzan.
"Eh iya Umi lupa kalau besok Olin sekolah" sahut Umi "Pakaiannya berikan pada bibi nak, biar di setrika dulu" pinta Umi lagi.
"Tidak usah Umi, biar Al yang nyetrika"
__ADS_1
Entah bagaiman caranya Olin mengungkapkan rasa syukur ini, memiliki suami dan mertua yang sangat baik. Tentu saja di luar sana ada banyak wanita yang menginginkan berada di posisinya.
"Sini mas gendong" ucap Alzan.
"Iya mas, terima kasih "
"Sama-sama dek"
Umi tersenyum melihat keromantisan anak dan menantunya itu, dalam hati ia berkata "Semoga menjadi keluarga yang Sakinah mawadah warahmah anakku"
Alzan membawa istrinya Kedalam kamar, setiba di kamar ia membaringkan istrinya di atas kasur dengan pelan.
Kemudian ia berjalan menuju lemari untuk berganti pakaian. Dan gerak-gerik Alzan terus di pantau oleh Olin. Ia melirik kakinya yang tak bisa di gerakkan sama sekali.
Seandainya ia bisa berjalan, mungkin ia akan membantu menyiapkan pakaian suaminya. Dan ia tak perlu di gendong saat naik turun tangga.
"Kenapa ngelihatin mas terus ? ganteng ya ?" ucap Alzan dengan penuh percaya diri.
Olin membalas dengan senyuman ia ingin sekali menjawab 'Kamu bukan hanya ganteng tapi sempurna' tapi pikiran itu langsung di tepis oleh Olin karena tak ingin suaminya semakin besar kepala kalau di puji.
"Kata siapa ganteng, PD amat" jawab Olin sinis
Alzan terkekeh ia mendekat karena sudah selesai berganti pakaian. Saat ini ia hanya mengenakan celana training panjang dan kaos oblong berwarna putih.
Sungguh bagi Olin sangat tampan, apalagi wangi tubuh Alzan begitu candu untuknya.
"Sini mas pijitin kakinya ! siapa tau besok bisa jalan"
"Aamiin" balas Olin cepat
Alzan memulai memijit kaki istrinya, walau tidak terasa bagi Olin, tapi tetap saja wanita itu tersenyum. Ia sangat berharap dirinya akan segera berjalan supaya sang suami tidak kerepotan terus.
"Besok apa alasan aku ya mas sama teman-teman, pasti mereka pada nanya kenapa mas nganterin aku sekolah"
"Ya jawab aja kalau kita udah nikah"
"Tapi kan kata Papa jangan ada yang tau dulu sebelum aku tamat SMA"
"Mas juga bingung dek, padahal mas tau kalau berbohong itu dosa"
__ADS_1