
Malam itu Sarah tidak bisa tidur, ia terus kepikiran dengan sertifikat rumah yang bersama Hana.
Aaron tak sedikitpun memberikan alasan kenapa bisa surat berharga ada bersama Hana. Bukankah mereka sudah lama berpisah.
"Besok aku harus menemui Hana, enak saja dia yang pegang surat-surat itu, sementara aku gak, kan aku istri sah nya mas Aaron" batin Sarah.
Bergerak ke kiri dan ke kanan, membuat tidur nyenyak Aaron sedikit terganggu, laki-laki itu membuka matanya lalu bertanya pada sang istri.
"Kamu belum tidur dek ?"
Sarah menoleh karena memang posisinya saat ini membelakangi Aaron.
"Belum mas"
"Kenapa ?" tanya Aaron lagi.
"Gak bisa tidur aja"
"Ya kan pasti ada sebabnya"
Sarah mendelik, rasanya ia ingin sekali menjawab bahwa penyebab kegelisahannya saat ini adalah sertifikat yang bersama Hana. Tapi Sarah tidak ingin menunjukan rasa kecewanya pada Aaron.
"Gak ada apa-apa mas, memang aku belum mengantuk" balas Sarah berusaha senyum.
"Apa kamu lapar ?"
"Enggak kok mas, kalau lapar aku pasti sudah makan sejak tadi"
Aaron mendekat, ia meraih kepala sang istri lalu meletakkan di atas lengannya.
"Mas akan menceritakan sesuatu, supaya kamu bisa tidur"
"Mendongeng maksudnya ?"
"Ya bisa di bilang begitu"
Sarah terkekeh, tapi ia tetap mendengarkan apa yang di ceritakan sang suami. Tak ada yang menarik baginya karena Aaron menceritakan perjalanan nya sewaktu kuliah.
Tapi tak sedikitpun Sarah memotong ataupun bilang tak suka sama cerita Aaron. Sampai akhirnya ia mulai mengantuk, mungkin cerita Aaron memberikan efek yang baik untuknya.
Perlahan matanya mulai menutup, dan tak berapa lama Sarah terbuai dalam mimpi.
Mendengar dengkuran halus dari sang istri, membuat Aaron menyudahi ceritanya, ia tersenyum saat melihat istri cantiknya sudah tertidur.
__ADS_1
*******
Sementara itu Alzan masih memeriksa pekerjaannya. Semenjak menikah dengan Olin ia kerap melakukan pekerjaan di luar kantor.
Sementara perusahaan terkadang ia serahkan pada Arzam yang begitu ia percaya selama ini..
Olin menggeliat, ia menepuk-nepuk kasur sampingnya. Menyadari tidak ada sang suami Olin langsung membuka mata.
"Mas" panggil Olin dengan suara serak.
"Hemmmm" jawab Alzan yang masih fokus menatap layar laptopnya.
"Kok belum tidur ?"
"Dikit lagi dek, ini udah mau selesai"
Olin menyadari kalau sang suami sibuk karena dirinya, seandainya ia bisa berjalan mungkin Alzan tidak akan sibuk dan meninggalkan pekerjaannya selama ini.
"Maafin aku ya mas, aku janji akan cepat sembuh, supaya mas gak sibuk lagi" batin Olin merasa sedih.
Olin menatap wajah tampan suaminya, apalagi saat Alzan memakai kaca mata sungguh semakin tampan menurut Olin. Jari jemari Alzan begitu lihai menari di atas papan keyboard.
"Kamu mau apa dek ?" tanya Alzan tanpa menoleh sedikitpun.
Alzan menghentikan aktivitas nya, ia menatap sang istri lalu tersenyum "tidur aja dek ! Kamu besok harus sekolah" titah Alzan.
"Tadi udah mas cek semua, dan gak ada PR yang harus kamu kerjakan. Buku untuk pelajaran besok sudah mas susun di tas"
Entah harus dengan cara apa Olin mengungkapkan rasa bahagianya. Alzan begitu sempurna memperlakukannya sebagai seorang istri.
Namun perlakuan Alzan tentu membuat Olin terkadang berkecil hati, seharusnya ia yang memperlakukan Alzan seperti itu, tapi nyatanya bukan untuk menyiapkan pakaian kerja Alzan, untuk sekedar pindah tiduran saja ia tak mampu.
------------
Keesokan paginya seperti biasa Alzan menyiapkan pakaian sekolah untuk istrinya, membantu istrinya memakai pakaian dan terkadang membantu menguncir rambut Olin.
Setelah selesai Alzan membawa Olin ke meja makan, disana semua orang telah berkumpul. Sejak Olin di dudukan di kursi oleh Alzan, mata Afina tak teralih menatap Olin.
"Kamu ini sudah punya istri bukannya di layanin malah sibuk ngelayanin istri' ucap Afina dengan ketus.
" Astagfirullah, Fina jaga bicara kamu" sahut Abi yang tidak suka dengan bicara anak pertamanya itu.
Afina mendelik tak suka, ia bukannya membenci Olin, hanya saja menurut Afina adiknya tak pantas mendapatkan wanita seperti Olin. Apalagi Olin masih sangat mudah.
__ADS_1
Sementara Alzan laki-laki dewasa dan sudah mapan, Afina sangat setuju jika Alzan menikah dengan Yuna, pertama ia sangat mengenal Yuna.
"Harusnya kamu nikah sama Yuna dek, dia seumuran sama kamu dan juga dia sudah menyelesaikan studi S2 nya" kembali Afina berucap dimana membuat perasaan Olin bertambah sakit.
"Afina, selesaikan sarapanmu, berhenti mengomentari kehidupan adikmu ! Alzan sudah dewasa dia berhak memilih kepada siapa dia akan berumah tangga" ujar Umi.
"Abi sama Umi tuh terlalu manjain Alzan, makanya dia gak bisa nentuin mana yang baik dan buruk untuk hidupnya"
"Aku bisa kak, Olin pilihanku dia adalah wanita terbaik yang akan menemani aku sampai tua" ucap Alzan membela sang istri, ia merasa tak enak hati mendengar istrinya di jelek-jelekan.
Sementara Olin hanya tertunduk dengan air mata menggenang di pelupuk matanya, rasa lapar yang tadi terasa kini hilang entah kemana. Berganti dengan rasa sesak yang sulit di jelaskan.
"Alzan ajak istrimu sarapan di luar" perintah Abi saat melihat Olin hanya menunduk.
"Baik Abi" jawab Alzan.
Walau merasa sakit Olin tetap menyalami semua orang, ia pamit hendak sekolah. Saat ia berpamitan pada Afina lagi-lagi Olin menerima ucapan pedas.
"Belajar yang rajin, kamu harus jadi orang sukses seperti adikku" ucap Afina tanpa memikirkan bagaimana perasaan Olin.
"Baik kak" jawab Olin lirih.
Alzan langsung mendorong kursi roda istrinya, membawa Olin menjauh dari orang yang menyakitinya. Berulang kali Alzan beristighfar supaya ia tak emosi karena ucapan Afina kakaknya.
Sementara itu setelah kepergian Alzan dan Olin, Abi langsung berdiri membuat semua orang menatap ke arahnya.
"Abi mau kemana ?" tanya Umi.
"Mau keruang kerja, Abi sudah kenyang" jawab Abi.
"Afina setelah sarapan temui Abi di ruang kerja !" pintanya pada Afina.
"Baik Abi" jawab Afina.
Abi berjalan meninggalkan semuanya, ia mengelus dada karena merasa malu dengan kelakuan putrinya itu, ia tahu mungkin yang di lakukan Afina sebagai bentuk kasih sayangnya pada Alzan.
Tidak berapa lama setelah ia duduk di kursi ruangan tersebut, Afina dan Umi menyusul sementara Ramzi suami Afina menunggu di ruang tamu.
"Ada apa Bi ?" tanya Afina.
Sebelum menjawab Abi menarik napas panjang "Abi kecewa sama Fina, kenapa bisa tutur kata Fina tak mencerminkan seorang muslimah. Padahal selama ini Abi dan Umi mengajari Fina cara bicara yang sopan" tutur Abi dengan suara lembut.
Afina menunduk hingga ia merasakan Umi mengelus punggungnya "Olin itu pilihan Alzan, dan mungkin dia wanita yang di takdirkan oleh Allah untuk menjadi istri Alzan, masa kita gak mau nerimanya" ujar Umi.
__ADS_1