Cinta Dalam Ikhlas

Cinta Dalam Ikhlas
Berusaha


__ADS_3

Usai menjalankan sholat isya, mendadak Olin menjadi gugup. Ia ingat dengan pembicaraan nya bersama Alzan tadi siang. Kalau malam ini ia bersedia memberikan mahkota nya pada sang suami.


"Kamu kenapa dek ? Kok gemetaran?" Tanya Alzan heran.


Dengan gerakan cepat Olin menarik tangannya yang sedang di genggam sang suami, ia tersenyum kaku sembari berkata "tidak apa-apa mas, aku baik-baik saja"


"Ya sudah kalau memang kamu baik-baik saja. Mau langsung tidur atau ada pr ?"


"Emmm, langsung tidur aja mas, aku udah ngantuk"


Jika Olin terus mengingat masalah malam pertama berbeda dengan Alzan, ia bahkan tak ingat apa yang di lakukan suami istri setelah menikah.


Seperti biasa Alzan akan membantu sang istri menuju tempat tidur, membaringkan tubuh Olin dengan pelan dan penuh kasih sayang.


Hembusan napas Alzan yang begitu terasa berhasil membuat bulu kuduk Olin merinding. Ia sudah membayangkan bagaimana jika mereka melakukannya.


"Mas"


"Iya"


"Aku udah siap kalau mas maunya malam ini"


Alzan terdiam, ia menatap wajah istrinya dalam-dalam.


"Nanti adek menyesal"


"Kenapa harus menyesal mas ? Mas kan suami Olin jadi mas berhak atas tubuh Olin"


Ucapan Olin membuat Alzan terkekeh. Ia senang istrinya mau memberikan haknya sebagai suami. Berharap nantinya mereka akan dianugerahi keturunan yang Sholeh dan Sholehah.


"Beneran sudah siap ? Gak bakalan nyesal ?" Tanya Alzan lagi.


"Iya mas, insya Allah Olin siap lahir batin"


"Masya Allah, istriku"


Dan di detik kemudian kedua di Landa kegugupan, baik Olin maupun Alzan.


Sebagai seorang Ustadz Alzan tentu memahami apa yang akan ia lakukan sebelum memulai malam pertama.


***********


Malam pertama mereka yang tertunda akhirnya selesai sudah. Wajah Olin sudah banjir dengan keringat akibat permainannya bersama sang suami.


Berulang kali Alzan mengucapkan terima kasih dan mencium kening istrinya. Ia bersyukur sekaligus bahagia karena sudah melakukan tugasnya sebagai suami.


"Mau ke kamar mandi mas," ucap Olin dengan suara serak, di tambah matanya yang sudah mengantuk.


"Sini mas bantu"


Olin tak menolak, selain ia tak bisa berjalan, organ intim nya juga terasa sangat perih.


Alzan yang sudah berpakaian lengkap lagi langsung mengangkat tubuh istrinya ke kamar mandi, membantu Olin membersihkan tubuhnya.

__ADS_1


"Mas ambil handuk dulu" ucap Alzan


Olin menganggukkan kepalanya. Sementara Alzan langsung kembali kekamar untuk mengambil handuk. Ia juga hendak menyingkirkan seprai yang mereka pakai tadi.


Senyum Alzan langsung mengembang saat melihat bercak darah yang masih sangat terang menempel disana. Ia sangat paham apa arti dari bercak darah tersebut.


"Terima kasih ya Allah telah memberikan hamba seorang istri yang bisa menjaga kehormatan nya" batin Alzan .


Setelah itu Alzan kembali ke kamar mandi untuk membantu sang istri.


"Aku kapan ya bisa jalan lagi ? Capek tau gak mas begini terus," ucap Olin saat suaminya kembali menggendongnya.


"Insya Allah secepatnya sayang, kata dokter kalau kamu rajin terapi kamu bisa cepat jalan"


"Aku juga kasian sama mas, harus gendong aku terus. Pasti berat kan ?"


"Kata siapa berat ? Kamu itu terlalu kurus sayang. Nanti perbanyak lagi makannya biar gendut" balas Alzan terus mendudukkan istrinya ke atas ranjang.


"Mau pakai baju yang mana dek ?" Tanya Alzan lagi.


"Doraemon mas"


Alzan langsung mengambilkan pakaian yang di maksud istrinya. Ia juga membantu memakaikan pada sang istri.


***********


Keesokan paginya sebelum adzan subuh berkumandang Alzan sudah siap hendak ke masjid sementara istrinya belum bangun sama sekali.


"Dek" Alzan menggoyangkan tubuh Olin dengan pelan


Alzan tersenyum, ia merasa gemas dengan kelakuan sang istri.


"Mas mau ke masjid dek, kebetulan pagi ini mas bertugas jadi imam sholat " kata Alzan lembut.


Seketika Olin langsung membuka matanya, ia menatap wajah Alzan.


"Kamu kapan bangun mas ? Kok aku gak tau"


"Gimana mau tau, kamu tidur nya aja pulas amat"


"Harusnya mas bangunin Olin tadi"


"Kan ini udah"


"Tadi mas"


Alzan tertawa pelan, kemudian mendaratkan satu kecupan di kening istrinya "sebelum wudhu cium dulu" ucapnya.


"Pipinya belum" balas Olin.


"Oh mau pipinya juga ? Sini-sini mas cium semuanya"


Olin tersenyum saat suaminya benar-benar melakukan itu, mencium kedua pipi Olin dengan gemas.

__ADS_1


Beberapa saat kemudian Adzan subuh berkumandang.


"Mas berangkat aja ke masjid !" Ucap Olin.


"Terus kamu gimana ?"


"Nanti aku bisa minta tolong sama Bibi, udah mas ke masjid aja ! Kan hari ini mas yang jadi imam"


"Ya sudah kalau gitu, biar mas panggil bibi buat bantu"


Olin menjawab dengan anggukan, sebelum sang suami pergi tak lupa Olin mencium punggung tangan sang suami.


"Assalamualaikum sayang" ucap Alzan


"Walaikumsalam mas" balas Olin.


Alzan meninggalkan istrinya di kamar sendiri. Tapi sebelum pergi ke masjid ia memanggil Bibi untuk membantu sang istri di kamar.


*******


Setelah kepergian sang suami Olin berusaha sendiri untuk ke kamar mandi, ia tidak ingin terus merepotkan orang lain termasuk suami nya. Ia ingin sembuh dan bisa berjalan lagi.


Satu percobaan gagal, dua percobaan gagal lagi dan hampir saja membuat Olin putus asa.


"Ya Allah hamba mohon bantu hamba untuk sembuh ! Hamba tidak ingin seperti ini terus, hamba ingin berjalan seperti dulu lagi " batin Olin penuh harap


Tak berapa lama pintu kamar Olin terbuka.


"Ya Allah non , kok gak nungguin bibi aja !"


"Tidak apa-apa Bi, Olin bisa kok sendiri"


"Tapi kan kaki Non masih sakit "


"Aku bisa Bi, kalau di bantu terus aku gak bakalan bisa sembuh. Aku harus bisa belajar sendiri"


Bibi hanya bisa terdiam, ia tak berani membantu Olin yang meringis kesakitan saat mencoba berdiri.


Saat Olin terjatuh barulah Bibi membantu.


"Udah ya Non ! Jangan di paksakan "


Air mata Olin menetes "aku bisa Bi, mending Bibi kerjain yang lain saja ! " Usir Olin, ia memang ingin sendiri tak peduli apa yang akan terjadi padanya.


Walau ragu Bibi tetap saja meninggalkan Olin, ia paham betul kalau Olin tak ingin di bantah.


Setelah kepergian Bibi, Olin kembali berusaha. Ia berpegangan pada dinding supaya bisa berdiri.


"Bisa Lin ! Ayo kamu pasti bisa"


Ia tersenyum saat berhasil berdiri walau masih berpegangan, ini sudah menunjukan perubahan drastis. Olin semakin yakin jika ia berusaha maka ia pasti akan cepat jalan lagi.


"Bismillah ya Allah" perlahan namun pasti Olin mulai melangkahkan kakinya, ia belum berani melepaskan tangan yang berpegangan pada dinding.

__ADS_1


" Bisa-bisa " gumamnya pelan


Rasa ngilu, sakit dan kaku Olin rasakan menjadi satu, tapi Olin tak ingin menyerah, ia ingin berjalan seperti dulu lagi.


__ADS_2