
Setiba di rumah sakit, Hana langsung menangis kencang. Ia tak sanggup melihat putrinya terbaring tak berdaya seperti ini.
Irwan mengelus punggung sang istri, menguatkan nya supaya bisa sabar menghadapi ujian ini.
"Olin, ini mama nak !! maafkan mama sayang" gumam Hana dengan isakan tangis.
Sementara Aaron dan Sarah hanya menatap Hana tanpa ekspresi, di wajah Sarah tampak sekali kalau wanita itu tak suka dengan kedatangan Hana.
Hana mendongak, menatap wajah Aaron dengan tajam. Ia bejalan mendekati mantan suaminya itu.
"Apa pelakunya sudah di tangkap ?" tanya Hana
"Sudah, dia sudah di amankan oleh polisi" jawab Aaron, ia memalingkan wajahnya karena tak berani menatap wajah Hana.
"Ini salah kamu, kalau saja saat aku mengatakan kalau Olin kabur kamu langsung mencarinya, Olin tidak akan seperti ini" bentak Hana
Mendengar hal itu tentu saja Aaron terhenyak, ia disalahkan atas kejadian ini, padahal di sisi lain Hana juga salah karena membiarkan Olin pergi begitu saja.
"Apa maksud kamu ini salahku ?, kamu juga salah karena membiarkan Olin pergi" balas Aaron dengan bentakan juga.
"Aku udah bilang mas, susul Olin cepat. Tapi kamu bilang biarkan dia sendiri dulu"
"Kenapa kamu terus menyalahkan aku, Olin itu pergi sama siapa, harusnya kamu bertanggung jawab, kamu memang bukan Mama yang baik untuk Olin"
"Terus apa kamu sudah menjadi Papa yang baik untuk Olin ?" tanya Hana, sorot matanya yang tajam seolah menunjukan betapa ia membenci mantan suaminya itu. "Kamu menikah tanpa memberi tahu nya dulu, kamu pikir itu sosok Papa yang baik"
"Hei jangan ikut campur urusan pribadi ku, kamu gak lebih dari sekedar mantan istri"
"Iya aku paham posisiku, tapi ingat aku mama nya Olin, dan setelah Olin sadar nanti dia akan tinggal bersama ku"
Irwan yang mendengar hal itu menjadi kalang kabut, dia bukannya tidak suka jika Olin tinggal bersamanya, hanya saja mengingat bagaimana sikap Olin selama ini membuat Irwan harus berpikir keras jika Olin tinggal di rumahnya
Apalagi Olin tidak pernah menganggap Adit sebagai adik, itu juga alasan lain untuk Irwan. Ia kasihan dengan Adit yang sangat ingin di anggap adik oleh Olin tapi di abaikan.
"Tidak boleh" balas Aaron "Saat persidangan perceraian kita, pengadilan sudah memutuskan kalau hak asuh anak jatuh ketangan ku"
"Dasar egois"
"Kamu yang egois"
Pertengkaran di ruangan itu terus terjadi, membuat Irwan langsung menengahi. Ia mendekat kearah sang istri lalu berkata.
"Kita kesini untuk melihat keadaan Olin, bukan untuk bertengkar" ucap Irwan.
__ADS_1
"Istri kamu yang duluan ngajakin bertengkar" sahut Aaron.
Hana kembali menatap Aaron dengan tajam, tapi kali ini ia tak membalas ucapan Aaron, Hana memilih diam dan kembali mendekati ranjang Olin.
Ia duduk disana dan menggenggam tangan Olin, air matanya kembali menetes dengan deras.
1 minggu kemudian....
Sampai saat ini Olin belum juga sadarkan diri, wanita itu koma karena kecelakaan yang menimpahnya.
Tentu saja keadaan Olin membuat Aaron dan Hana khawatir, hingga akhirnya hari ini Aaron akan mendatangi Alzan, ia akan meminta laki-laki yang Olin suka itu datang.
Berharap setelah kedatangan Alzan, keadaan Olin akan membaik.
"Aku pergi dulu" ucap Aaron pada sang istri.
Sarah menganggukan kepalanya, lalu menatap kepergian sang suami yang akan ke pesantren.
Setiba di pesantren Aaron langsung di antar oleh beberapa santri kerumah utama pesantren, disana ia di sambut oleh Umi Halwah yang kebetulan sedang menyapu teras rumah.
"Saya Aaron Ustadzah, Papanya Olin" ucap Aaron memperkenalkan diri.
Aaron mengangguk, ia berjalan duluan dan di persilahkan duduk di sofa ruang tamu.
"Saya panggilkan suami dan anak saya dulu" ucap Umi Halwah.
"Silahkan Ustadzah" jawab Aaron.
Sepeninggal Umi Halwah, mata Aaron menatap sekitar, suasana rumah yang rapih dan sangat bersih. Sangat nyaman siapa saja yang ingin menempati.
Tidak berapa lama Alzan dan Abi Ghofar datang, dengan sigap Aaron berdiri dan berjabat tangan dengan mereka.
"Saya Aaron, papa nya Olin" kembali Aaron memperkenalkan diri.
Mendengar nama Olin, entah kenapa jantung Alzan berdetak sangat kencang, sudah seminggu ini ia tak punya kabar dari wanita yang sudah ia lamar waktu itu.
"Mari silahkan duduk lagi" ucap Abi Ghofar cukup sopan.
Aaron duduk dan berhadapan dengan Alzan, mata Aaron memperhatikan sosok Alzan yang sangat tampan, pantas saja jika putrinya sangat menginginkan menikah dengan Alzan.
"Jadi kamu yang bernama Alzan ?" tanya Aaron.
__ADS_1
"Betul pak, saya Alzan"
"Apa benar kamu sudah melamar anak saya Caroline ?"
"Betul pak, saya memang sudah melamar anak bapak secara pribadi, hanya saja saya belum menemui bapak dan istrinya ?" jawab Alzan dengan tutur kata yang lembut.
Aaron menundukan kepalanya, raut kesedihan langsung bisa di lihat oleh Abi Ghofar dan Alzan.
"Ada apa pak ? apa ada masalah ?" tanya Abi Ghofar.
"Putri saya" jawab Aaron terbata-bata "Putri saya koma sekarang, karena kecelakaan seminggu yang lalu"
Mendengar hal itu Alzan langsung terkejut, mungkin karena inilah perasaanya tidak enak dari kemaren kemaren.
"Astaghfirullah, kecelakaan kenapa Pak ?" kembali Abi Ghofar bertanya.
"Di tabrak mobil, tapi pelakunya sudah di amankan polisi"..
"Kalau begitu kami sekeluarga akan kerumah sakit, untuk melihat keadaan Olin"
Aaron bahagia mendengarnya, tapi kedatangannya kesini bukan cuman itu, ia ingin menyampaikan sesuatu pada Alzan dan kedua orang tuanya.
"Saya ada permintaan nak Alzan, apa nak Alzan bisa menuruti keinginan saya ?"
"Katakan pak ! insya Allah jika saya mampu saya akan menuruti keinginan bapak"
"Mau kah nak Alzan menikahi putri saya, walau keadaannya sedang koma seperti ini ?, saya sangat menyesal karena kecelakan Olin itu karena saya dan mantan istrinya tidak menyetujui keinginan Olin"
Alzan langsung menatap kearah Abi nya, meminta persetujuan atas apa yang Aaron katakan.
"Terserah kamu saja Al, jika memang ini yang terbaik maka lakukan lah !!" ucap Abi Ghofar.
"Baik lah kalau begitu saya akan menikahi Olin, walau keadannya seperti ini"
"Terima kasih nak Alzan, semoga saja Olin segera sadar"
Setelah mengatakan itu Alzan dan yang lainnya langsung berangkat kerumah sakit. Ia akan menikahi Olin.
Didalam kamar Alzan mengambil sebuah kotak yang sudah ia siapkan. Di dalam sana ada cincin berlian yang sangat cantik.
Cincin itu sudah lama ia beli, jauh sebelum ia akan di jodohkan dengan Yuna. Cincin yang ia beli dengan hasil keringatnya sendiri waktu bekerja saat masih kuliah dulu.
"Aku akan menikahiku wanita ku, cepatlah sadar supaya kita bisa merasakan kebahagiaan bersama"
__ADS_1