
"Bagaimana dek ? apa boleh Mas memelukmu dengan erat ?" kembali Alzan bertanya, walau sebenarnya ia sendiri begitu gugup.
Dengan pelan Olin menganggukkan kepalanya, membuat Alzan tersenyum lalu mendekat kan diri. Pertama Alzan membelai wajah sang istri dengan gerakan lembut.
"Bismillah ya Allah" gumam Alzan kemudian menarik wanita itu kedalam pelukannya.
Mata Olin terpejam menikmati begitu hangatnya pelukan sang suami, ia juga merasakan bagaimana detak jantung Alzan berdetak sangat cepat. Olin tersenyum simpul ternyata bukan hanya dia yang gugup, sang suami pun merasakan hal yang sama.
Cukup lama keduanya berpelukan, hingga akhirnya Alzan melepaskan pelukannya. Ia kembali menatap sang istri lalu mendaratkan ciuman di kening Olin.
"Mas mencintaimu dek"..
Deeeggggg.
Entah kenapa ini terasa mimpi yang Olin rasa, laki-laki tampan nan Soleh mengungkapkan perasaan nya. Andai ia bisa berdiri mungkin saja Olin sudah jingkrak-jingkrak karena saking senangnya.
"Kenapa diam ?" tanya Alzan lagi.
"Tidak mas, aku hanya bahagia mendengar ucapan mas Alzan"
"Mas yang lebih bahagia karena bisa memilikimu"
"Aku ini hanya wanita biasa mas, jauh dari kata sempurna. Kenapa bisa mas Alzan bahagia mendapatkan wanita yang banyak kekurangan seperti ku"
"Suuuuuttt" Alzan menutup bibir Olin menggunakan jari telunjuknya. "Sudah mas bilang, di dunia ini tidak ada yang sempurna jadi berhentilah bicara seperti itu"
"Maaf mas" Olin menunduk, ia merasa bersalah karena selalu mengatakan kalau dirinya tak sempurna di hadapan Alzan.
...----------------...
Sementara itu di kamar lain, Sarah terlihat cemberut kepada sang suami, membuat Aaron heran dengan sikap istrinya itu.
"Kamu kenapa lagi sayang ?" tanya Aaron, ia tak pernah marah dengan sikap Sarah, karena umur Sarah dan Olin tak jauh beda.
"Aku tuh kesal sama kamu mas, kenapa sih kamu selalu manjain Olin, harusnya aku yang harus kamu manjain" ucap Sarah menggebu.
__ADS_1
Aaron terdiam, ternyata Sarah cemburu melihat kedekatan dirinya dengan Olin. Apa dirinya harus sedikit menjauh dari Olin supaya Sarah tidak marah lagi.
"Aku tau mas sayang sama Olin, tapi gak harus di manjain kek gini juga. Apalagi sekarang Olin sudah punya suami, biar suami nya saja yang manjain dia" sambung Sarah lagi.
"Maafkan mas sayang, mungkin mas sudah terbiasa melakukan itu. Kamu paham kan selama ini mas hanya hidup berdua dengan Olin"
"Iya paham mas, tapi sekarang beda sudah ada aku yang sangat membutuhkan mas"
"Ya sudah kalau begitu mas akan merubah sikap mas, menurut kamu mas harus gimana ?"
Dengan tersenyum licik Sarah kembali berkata "Suruh Olin tinggal sama suami nya di pesantren, dan untuk sekolah biar suami nya saja yang menanggung biaya, bukankah suaminya kaya. Gak mungkin kan suaminya gak sanggup biayain Olin sekolah"
Entah apa yang ada di pikiran Aaron, karena tanpa pikir panjang, Aaron langsung menyetujui ucapan Sarah.
"Nanti mas akan bicara sama Alzan untuk membawa Olin ke pesantren, kamu puas kan sekarang ? gak marah lagi kan sama mas ?" tanya Aaron, ia membelai pipi sang istri hingga membuat Sarah tersenyum.
"Akhirnya aku bisa menyingkirkan anak manja itu, sebentar lagi aku akan menjadi ratu di rumah ini" batin Sarah.
Betul kata orang-orang kalau ibu tiri tidak ada yang baik,. seperti Sarah contohnya ia hanya menyayangi Aaron dari pada Olin.
-------------
"Duduk Al !!" pinta Aaron sambil menunjuk kursi panjang yang tersedia disana.
"Iya Pa" jawab Alzan, lantas duduk seperti yang Aaron perintahkan.
Keduanya duduk di sana. Terdengar helaan napas panjang dari Aaron membuat Alzan semakin heran.
"Di rumah ini Olin di besarkan, di beri kasih sayang yang berlimpah" ucap Aaron tiba-tiba.
"Ia diberi apapun yang dia kecuali kebebasan, karena aku sebagai papanya takut dia terkena pergaulan bebas" lanjut Aaron lagi.
Alzan masih terdiam, walau ia bertambah bingung apa yang akan Papa mertuanya itu sampaikan. Apakah hanya ingin bercerita tentang masa kecil Olin.
"Hingga saat itu perpisahan saya dan Hana membuat Olin berkecil hati, ia menganggap kami berdua tidak menyayanginya lagi. Dan apakah kamu tau sampai saat ini Olin tidak menganggap Ayah tirinya Papa"
__ADS_1
Alzan mengangguk, dalam hati ia terus bertanya-tanya, tujuan Aaron membawanya kemari.
"Dan sekarang Olin sudah menikah sama kamu, Papa harap kamu bisa menyayanginya seperti aku yang menyayanginya"
"Papa sekarang sudah menikah lagi, dan Papa berterus terang sama kamu, tapi ingat jangan sampai Olin mengerti semua ini !!. Papa ingin kamu membawa Olin tinggal sama kamu"
Sekarang Alzan pun mengerti arah tujuan pembicaraan Aaron. Secara tidak sadar Aaron mengusir putrinya sendiri.
Sebenarnya tanpa di katakan oleh Aaron,memang Alzan akan membawa istrinya tinggal berdua dengannya. Karena kebetulan ia sudah membeli sebuah rumah yang baginya cukup nyaman untuk ia tinggali bersama Olin nanti.
"Mama Sarah tidak setuju Olin tinggal di rumah ini lagi, dan Papa tidak bisa membantah ucapan Mama Sarah. Dia istri Papa dan kami berdua baru saja menikah. Tapi yang paling utama Papa tidak mau rumah tangga Papa berantakan untuk yang kedua kalinya"
Alzan terhenyak mendengarnya, tidak menyangka Aaron akan melakukan itu, ia lebih memilih istri nya dari pada Olin anak kandungnya sendiri.
Untung saja Olin sudah menikah, Alzan tak bisa membayangkan jika wanita itu masih sendiri dan di usir secara halus seperti ini.
"Baik Pa, secepatnya aku akan membawa Olin pergi" jawab Alzan berusaha menyembunyikan rasa sesak di dadanya.
"Terima kasih nak, terima kasih sudah mengerti keadaan Papa"
Namun mereka berdua tak mengetahui kalau Olin mendengar semuanya. Air matanya menetes dengan deras.
Tadi ia hendak mencari sang suami, dan Sarah bilang kalau Alzan sedang bicara berdua dengan Aaron. Karena penasaran Olin akhirnya menyusul dan ia tak menyangka sang Papa akan melakukan ini.
"Tolong jaga Olin dengan baik !! seringlah berkunjung kemari" kata Aaron lagi.
"Insya Allah Pa"
"Apakah kamu akan membawa Olin ke Pesantren ?"
Alzan menggeleng "Tidak Pa, aku akan membawa Olin kerumah kami, kebetulan aku sudah membeli rumah sendiri"
Aaron menepuk pundak Alzan berkali-kali, ia tak salah memilih menantu. Dan kemungkinan Olin jatuh ke tangan yang tepat.
Aaron yakin Alzan tidak akan menyakiti putrinya, disana ia akan aman tanpa memikirkan Olin lagi, dan bisa membina rumah tangganya pada Sarah.
__ADS_1
Aaron berdiri saat ia berbalik badan, Aaron terkejut karena mendapati Olin duduk di kursi roda nya sambil menatap Aaron dengan air mata berderai.
"Papa ngusir aku" ucap Olin terbata-bata.