Cinta Dalam Ikhlas

Cinta Dalam Ikhlas
Kembali sekolah


__ADS_3

Pagi itu, dengan senyum merekah Olin terus menatap sang suami yang saat ini sedang menyetrika pakaiannya. Rasa haru bercampur bahagia terus menyeruak.


Entah dengan cara apa Olin mengungkapkan rasa syukur, karena memiliki suami seperti Alzan.


"Alhamdulillah selesai" ucap Alzan, ia menggantung rok pendek yang biasa Olin pakai ke sekolah.


Mata Olin menatap seragam sekolah yang menggantung, sangat rapih menurutnya.


"Sekarang Adek ganti pakaian dulu !" Pinta Alzan.


"Tapi mas keluar dulu !"


"Loh kenapa ?"


"Aku malu mas"


Alzan terkekeh, memang sampai saat ini ia dan Olin belum melakukan hubungan suami istri, ia tidak ingin memaksa ataupun membahasnya. Ia akan menunggu sampai Olin menyerahkan sendiri mahkota yang Olin jaga selama ini.


"Ya sudah mas turun dulu ambil sarapan kalau begitu" ujar Alzan "nih seragamnya" Alzan memberikan seragam yang tadi ia gantung kepada sang istri


Olin menganggukkan kepalanya, ia menatap kepergian sang suami. Lalu mengambil seragam yang tadi Alzan letakkan di samping tempatnya duduk.


Sementara itu, Alzan turun kebawah untuk mengambil sarapan. Ia melihat Umi sedang menata sarapan di atas meja.


"Selamat pagi Umi" ucap Alzan.


Umi menoleh lalu tersenyum "pagi nak" balasnya "mau ambil sarapan ya ?" Tanya Umi


"Iya, buat istri tercinta"


Lagi-lagi Umi tersenyum sembari menggeleng kan kepala "Oh ya Umi mau mengabarkan hari ini kedua kakak kamu pulang kesini, katanya mau ketemu sama istri kamu".


Sesaat Alzan terdiam, ia menatap Umi dengan seksama. "Syukurlah kalau begitu, Al juga udah rindu sama kan Fina dan kak Ammar"


"Karena kedua kakak kamu pulang, apa gak sebaiknya kamu dan Olin adakan nikah ulang nak ? Nikah secara agama dan negara"


"Nanti Al akan bicara dulu sama Olin Mi, Al tidak bisa mengambil keputusan sendiri"


Umi mengangguk, memang benar kata Alzan. Dirinya tak bisa mengambil keputusan sendiri. Olin harus tau apalagi Olin harus mengatakan pada kedua orang tuanya.


Setelah mengambil sarapan Alzan kembali kekamar. Ia membuka pintu kamar secara perlahan. Dan senyum Alzan langsung merekah saat melihat sang istri sudah cantik dengan seragam sekolahnya.


"Masya Allah, istriku ternyata masih belia" batin Alzan geli sendiri saat menyadari ia menikahi anak yang masih sekolah menengah atas.


"Cantiknya istriku" puji Alzan setelah berdiri di dekat sang istri, ia meletakkan sarapan di atas meja nakas.

__ADS_1


"Apa sih mas, gombal deh"


"Lah siapa yang gombal sayang ? Mas beneran kamu memang cantik"


Dan lagi-lagi kedua pipi Olin bersemu merah, ia masih malu saat sang suami melontarkan kata pujian.


"Mau sarapan sekarang ?" Tanya Alzan lagi.


"Entar dulu mas, gendong aku ke kursi roda, aku mau benerin rambut dulu"


"Siap sayang"


Dengan sigap Alzan menggendong dan mendudukkan istrinya ke atas kursi roda. Alzan juga mendorong kursi tersebut mendekat ke meja rias.


Hal pertama yang Olin lakukan adalah menyisir rambutnya, ia tak bisa menguncir rambut jadi Olin biarkan saja terurai.


Tak lupa Olin juga memberikan polesan bedak ke pipinya. Tapi saat Olin akan menyemprotkan minyak wangi ke tubuhnya langsung Alzan tahan.


"Kenapa mas ?" Kening Olin mengkerut, mata kanannya menyipit saat menatap sang suami.


"Tidak usah pakai parfum sayang, cukup saat bersama mas saja kamu wangi"


"Tapi------"


"Memakai parfum bagi seorang wanita itu di larang, Rasulullah SAW bersabda,


(HR. An-Nasa’i, Abu Daud, Tirmidzi, dan Ahmad. Syaikh Al-Albani dalam Shahihul Jami’ , no. 323. Hadits ini shahih)


Olin langsung terdiam ia mendengar kan apa yang di ucapkan sang suami, Olin hampir saja lupa kalau dirinya menikah dengan seorang Ustadz.


"Akan tetapi, untuk menghilangkan bau yang tidak sedap di badan wanita boleh memakai wangi-wangian. Dengan syarat mamakainya sesuai ketentuan. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,


"Wewangian seorang laki-laki adalah yang tidak jelas warnanya tapi tampak bau harumnya. Sedangkan wewangian perempuan adalah yang warnanya jelas namun baunya tidak begitu nampak.”


(HR. Baihaqi dalam Syu’abul Iman, no.7564)


Alzan menjelaskan semuanya dengan cara yang lembut, ia bahkan tetap tersenyum kearah sang istri yang saat itu terus menatapnya.


"Jadi Olin boleh pakai parfum jika tujuannya untuk menghilangkan bau badan ?" Tanya Olin


"Iya sayang, tapi jangan yang terlalu menyengat, nanti kita cari yang lain. Kalau yang sering Adek pakai menurut mas terlalu wangi"


"Lalu ini di buang gitu ?" Olin mengangkat botol parfum yang baru saja hendak ia pakai.


"Ya enggak dong, kamu boleh pakai parfum itu hanya di dalam rumah dan yang lebih penting hanya untuk suami" jawab Alzan

__ADS_1


"Sesuatu yang haram bisa menjadi sunnah. Bahkan diharuskan jika wanita memakai wangi-wangian untuk melayani suami, pahala semakin bertambah apabila suami ternyata menyukai itu," jelasnya lagi.


Mendengar hal itu Olin kembali meletakkan botol parfum tadi, pagi-pagi sekali ia sudah mendapatkan ilmu yang sangat bermanfaat. Selama ini tak pernah ada yang melarang nya menggunakan apapun.


*****


Setelah bersiap dan sarapan Alzan dan Olin langsung berangkat. Di perjalanan jantung Olin berdetak kencang, ia gugup karena takut nanti saat ia turun dari mobil kedua sahabatnya melihat Alzan.


"Kamu kenapa sayang ? Kok gelisah gitu ?" Tanya Alzan yang dari tadi merasakan kegelisahan sang istri.


"Aku bingung mas, gimana nanti cara menjelaskan nya sama Indri dan Bela kalau aku udah nikah sama mas"


"Jelaskan saja apa adanya dek ! Mereka pasti paham. Dari pada Adek berbohong dan mereka tau dari yang lain nanti mereka akan kecewa"


Benar juga kata Alzan, lebih baik Olin jujur saja pada Indri dan Bela kalau dirinya sudah menikah dengan Alzan, dari pada mereka berdua tau dari yang lain.


Tak berapa lama Alzan menghentikan mobilnya di depan gerbang sekolah Olin. Ia turun dulu dan mengambil kursi roda di bagasi mobil. Dan benar saja disana ada Indri dan Bela yang melihat.


"Bukankah itu Ustadz Alzan ?" Tanya Indri


"Iya, untuk apa Ustadz kesini ? Dan itu kursi roda untuk siapa ?" Bela pun balik bertanya.


Saat pintu mobil terbuka betapa kagetnya Indri dan Bela saat melihat Olin berada disana. Kedua saling pandang dengan mulut terbuka lebar.


"Olin"


"Olin"


Serempak kedua nya mengucapkan nama Olin.


"Gue gak salah lihat kan ?" Tanya Bela.


"Enggak lah, itu beneran Olin. Kenapa dia bisa sama Ustadz Alzan ?"


"Seperti nya ada sesuatu yang belum kita ketahui"


Keduanya langsung mendekati Alzan dan Olin. Dimana saat itu Alzan baru saja mendudukkan Olin ke kursi roda.


"Hai" sapa Olin tersenyum palsu.


"Hai Lin, gue kira lo belum sekolah" balas Indri.


"Iya nih, gue males di rumah terus makanya sekolah".


Sementara Bela belum membuka suara, ia masih saja memperhatikan Alzan yang sedari tadi begitu perhatian dengan Olin.

__ADS_1


"Dek ini tasnya !" Ucap Alzan


Olin menerima tas itu, lalu kembali menatap kedua sahabatnya dengan senyum kaku. Entah di mulai dari mana ia menceritakan semuanya.


__ADS_2