Cinta Dalam Ikhlas

Cinta Dalam Ikhlas
Ketemu Afina


__ADS_3

"Bukankah cinta pertama anak perempuan itu adalah Ayahnya ?"


Benar sekali apa yang di katakan Alzan, tapi itu tidak berlaku untuk Olin. Dirinya sudah terlanjur kecewa dengan sang Papa.


Dulu mungkin Aaron adalah cintanya, tapi semenjak kedatangan Sarah dan menjelma sebagai mama tirinya, membuat Olin kehilangan banyak kasih sayang Aaron.


"Sayang" panggil Alzan dengan lembut.


"Ya sudah kalau kamu belum setuju mas akan bicara lagi dengan Umi, maafin mas ya ! Karena udah bikin kamu sedih"


Setetes air mata yang terlanjur keluar langsung Olin hapus, ia menatap sang suami lalu tersenyum.


"Beri aku waktu untuk memaafkan kesalahan Papa" kata Olin kemudian.


"Iya sayang , tapi mas mohon jangan terlalu lama marah sama Papa ! Karena itu gak baik"


Olin menjawab dengan anggukan, hingga tak berapa lama mereka tiba di pesantren. Alzan langsung memarkirkan mobilnya di tempat biasa.


Setelah itu seperti biasa Alzan mengeluarkan kursi roda lalu membantu istrinya turun, mata Olin langsung menatap kearah seorang wanita yang baru saja keluar dari rumah.


"Siapa dia mas ?" bisik Olin di telinga sang suami.


Alzan menoleh lalu tersenyum kearah wania berkerudung itu.


"Itu kak Afina, kakak ku nomor satu" jawab Alzan.


Mendengar hal itu entah kenapa Olin merasa deg-degkan, apalagi saat menatap wajah Afina yang terlihat tak bersahabat.


"Assalamualaikum kak, kapan datang ?" ucap Alzan sekaligus mencium punggung tangan sang Kakak.


Begitu pun dengan Olin yang juga mencium punggung tangan Afina.


"Istrinya Alzan ya ?" tanya Afina pada Olin


"Betul kak"


"Saya Afina, kakak nya Alzan nomor satu"


Olin menjawab dengan anggukan, mungkin memang sifat dan sikapnya Afina memang begitu.


Kini mereka kumpul di ruang tamu, disana juga ada suaminya Afina.


"Ajak ganti baju dulu nak !" ucap Umi kepada Alzan.


"Baik Umi"


Alzan langsung membawa istrinya ke kamar.


"Mas" panggil Olin.


"Iya sayang" jawab Alzan.


"Sepertinya Kak Afina gak suka sama aku" Olin menundukkan kepalanya, membuat Alzan berjongkok untuk melihat wajah sang istri.


Alzan mengerti bagaimana perasaan Olin, sifat sang kakak tadi baginya pasti akan menyinggung sang istri.

__ADS_1


"Kak Afina memang begitu dek, dia sedikit judes dan cara bicara sedikit ketus. Tapi dia baik kok. Kamu belum kenal aja sama dia" jelas Alzan berusaha membuat istrinya nyaman kembali.


"Dia gak akan lama kesini, paling cuman semalam. Karena Mas Ramzi (suaminya Afina) kerja" sambung Alzan lagi.


Olin berusaha mengerti, mungkin memang dirinya belum mengenal kakak sang suami. Maklum menikah saja baru beberapa minggu.


"Ya sudah kamu ganti baju dulu ! Terus kita kembali keruang tamu, kamu juga belum makan siang kan ?"


"Makan siang nya nanti aja mas, Olin belum lapar, tadi di sekolah udah makan di kantin"


"Yang mana nyamannya kamu aja dek, asal jangan kelaparan"


Alzan berdiri lalu mengambilkan pakaian untuk sang istri, karena kemaren Olin hanya membawa beberapa lembar pakaian, jadi tadi pagi Alzan meminta tolong pada Arzam untuk membelikan istrinya pakaian ganti.


"Coba yang ini, semoga kamu suka sama modelnya, soalnya mas gak ngerti pakaian cewek"


"Harusnya mas gak usah beliin aku baju dulu, pakai aja yang aku bawa kemaren"


"Kamu itu istrinya mas, jadi sudah seharusnya mas membelikan pakaian untukmu"


Lagi lagi Olin terharu, suaminya memang luar biasa, begitu mengerti kondisi dan apa yang Olin butuhkan.


Setelah ganti pakaian dan Olin sholat Dzuhur karena Alzan sudah sholat di kantor tadi, mereka berdua kembali keruang tamu.


"Makan siang dulu nak ! Tadi Umi udah masak untuk Olin" pinta Umi dengan tulus.


"Nanti saja Mi, Olin masih kenyang tadi makan di sekolah"


Umi tersenyum ia mengelus rambut Olin dengan lembut, ia tak akan membedakan Olin dengan anak-anaknya. Karena menurut Umi menantu itu juga titipan dari Allah untuk menjaga anak-anaknya kelak.


"Sudah Abi, tadi kenalan di luar"


"Alhamdulillah kalau begitu, kalau ini suaminya" tunjuk Abi pada laki-laki tampan tapi tak setampan Alzan "namanya Ramzi"


Olin mengangguk tanda mengerti.


********


Sementara itu di rumah Aaron, sejak tadi Sarah terus mencari sertifikat rumah di ruang kerja sang suami. Ia ingin rumah itu menjadi atas nama dirinya bukan atas nama Olin.


"Dimana sih mas Aaron nyimpan sertifikat itu" gumam Sarah yang mulai kesal karena apa yang ia cari tak kunjung ketemu.


"Pokoknya bagaimana pun caranya, rumah ini harus atas namaku."


Ia kembali mencari kesemua lemari dan berkas yang ada disana. Dan di saat ia sibuk mencari tiba-tiba pintu ruangan terbuka membuat Sarah terlonjak kaget.


"Astaga" ucap Sarah.


"Sayang kamu sedang apa disini ?" tanya Aaron menatap istrinya penuh kecurigaan.


"Hemmm, anu mas.. Emmm" Sarah terlihat gugup menjawab pertanyaan sang suami.


"Anu apa sayang ? Kok kamu gugup begini ?"


"Gak kok mas" Sarah mengelak, ia harus bersikap biasa saja supaya sang suami tidak curiga.

__ADS_1


"Aku sedang membersihkan ruan kerja mas, biar gak ada debu dan mas nyaman kerja disini" jawab Sarah berbohong.


"Kan ada bibi, kenapa harus kamu dek"


"Lah memangnya kenapa mas ? Aku gak boleh gitu masuk ruang kerja kamu.?"


"Bukan begitu sayang, mas takut kamu kecapean"


"Buktinya kan enggak, aku malah senang bisa bantuin kamu walau hanya bersih-bersih"


Aaron mendekat, ia meraih kedua tangan istrinya. Di ciumnya kedua tangan itu dengan penuh kasih sayang. Membuat Sarah tersenyum.


"Kamu gak perlu begini, cukup layani aku di atas ranjang saja sudah membuat mas bahagia" bisik Aaron di telinga Sarah, bahkan ia sengaja menggigit telinga Sarah supaya menimbulkan sensasi yang aneh.


"Ah mas bisa aja" jawab Sarah seraya memukul dada sang suami dengan gerakan lembut.


Keduanya tertawa bersama. Sarah tau kalau suaminya itu sangat menyayanginya dan pasti akan melakukan apa saja supaya dirinya bahagia.


Jadi meminta sertifikat rumah pasti akan Aaron turuti.


"Mas"


"Hemmm"


"Aku boleh gak minta sesuatu ?"


"Apa sayang ? Katakan ! Akan mas turuti semuanya"


Sarah tersenyum bahagia, ia akan terus memanfaatkan Aaron yang cinta mati padanya.


"Aku mau minta sertifikat rumah ini" ucap Sarah dan langsung membuat Aaron terkejut.


"Untuk apa sayang ?" tanya Aaron heran.


"Ya enggak buat apa-apa mas, maksud aku biar aku saja yang nyimpan. Kan aku istri kamu biar aman aja"


"Sayang minta yang lain saja ya ! Jangan yang itu"


"Gak mau aku maunya sertifikat rumah"


Kening Aaron mengkerut, ia benar-benar bingung kenapa istrinya menanyakan sertifikat rumah.


"Kok diam ? Ayo mas katakan padaku dimana sertifikat itu ?" Sarah ngotot ia bahkan mengguncang lengan Aaron agar laki-laki itu mengatakan dimana sertifikat rumah yang ia inginkan"


"Maaf sayang mas gak bisa ngasih sertifikat rumah ini"


"Kenapa ? Apa kamu tidak percaya sama aku ?"


"Bukan begitu dek, karena sertifikat rumah ini tidak bersama mas ?"


"Terus sama siapa ?" tanya Sarah.


"Sama Hana"


"Apa ?" pekik Sarah kaget, bagaimana bisa Hana yang menyimpan sertifikat rumah ini, dia kan sudah menjadi mantan istri Aaron.

__ADS_1


__ADS_2