
Pagi itu, Aaron akan berangkat ke restoran tempat dimana ia ketemuan dengan Hana, sebelum pergi tentu saja ia berpamitan pada Sarah.
"Jangan lama-lama" ucap Sarah sebelum melepas suaminya.
Aaron mengangguk sambil terkekeh, lalu berjalan menuju mobil yang sudah siap sejak tadi.
Restoran jepang menjadi pilihan nya untuk bertemu dengan Hana, rupanya walau sudah berpisah sekitar 5 tahunan, Aaron masih ingat makanan kesukaan Hana.
Ia berjalan dengan tegap, sembari melipat lengan kemejanya, ia masih seperti pria yang belum memiliki anak.
"Maaf datang terlambat" ucap Aaron sambil menarik kursi lalu duduk disana.
Hana hanya mengangguk, kemudian menggeser jus jeruk kearah laki-laki yang statusnya sudah menjadi mantan suaminya.
"Mas mau bicara apa ? Katanya ada hal penting ?" Tanya Hana serius, walau sudah menjadi mantan istri ia tak canggung saat bicara dengan Aaron.
"Ini soal Olin"
"Kenapa dengan Olin ? Apa dia bikin masalah lagi ?"
"Bukan, tapi dia ingin menikah"
"Apa ?" Bola mata Hana melebar seketika saat mendengar ucapan Aaron. Bagaimana mungkin Olin akan menikah di usianya yang masih sangat mudah, bahkan putrinya itu belum lulus SMA.
"Apa yang kamu katakan mas ? Jangan bercanda !!"
"Siapa yang bercanda, semalam Olin menemuiku dan mengatakan kalau ingin menikah, dan katanya calon suaminya adalah seorang Ustadz"
Lagi-lagi Hana di buat terkejut, ia ingat waktu itu Olin pernah bercerita kalau sedang jatuh cinta dengan seorang pria, tak disangka oleh Hana kalau putri pertamanya itu benar-benar akan di persunting seseorang.
"Lalu, apa mas setuju dengan permintaan Olin ?" Tanya Hana lagi.
"Aku belum menyetujuinya, makanya aku ingin bertemu denganmu dulu, sebagai orang tua kandung Olin kita harus memberi keputusan yang tepat" jawab Aaron.
Hana meraih gelas yang ada di hadapannya, kemudian meminum dengan pelan. Obrolan kali ini berhasil membuatnya haus.
"Kalau menurut kamu bagaimana ? Apa kita restui saja keinginan Olin ?" Kali ini Aaron yang bertanya.
"Aku bingung mas, bagiku Olin masih terlalu kecil untuk menikah. Aku takut dia belum siap menjadi seorang istri dan aku juga takut apa yang terjadi dengan kita dulu di alami Olin"
"Pemikiran mu sama denganku, bukan hanya itu, aku juga belum puas melihat dia tumbuh menjadi remaja yang cantik"
__ADS_1
Kedua orang itu terdiam beberapa saat, baik Aaron maupun Hana sama-sama bingung apa yang harus mereka putuskan.
Keinginan Olin kali ini bukanlah hal yang mudah.
"Beri aku izin untuk menemui Olin nanti, dan membawanya kerumah untuk menginap satu malam" ucap Hana akhirnya kembali membuka suara "aku akan bicara dengannya baik-baik, semoga saja Olin berubah pikiran"
"Iya, akan aku izinkan"
Setelah mengobrol panjang lebar Aaron pamit lebih dulu, selain karena istrinya sudah bertanya terus lewat SMS, Aaron juga sedang banyak kerjaan.
Hana menatap pria yang berstatus sebagai mantan suaminya itu, setelah Aaron tak terlihat lagi di matanya, Hana menarik napas panjang.
"Olin-Olin, kali ini permintaan mu bikin mama pusing nak" gumam Hana.
-----------------
Sementara itu disekolah Olin sedang duduk termenung bersama Indri dan juga Bela. Ia penasaran bagaimana keputusan kedua orang tuanya.
Rasanya Olin ingin segera pulang, supaya bisa secepatnya bertanya pada sang Papa tentang keputusan yang di ambil, sangat berharap Aaron maupun Hana menyetujui keinginannya untuk menikah dengan Alzan.
"Lo kenapa dari tadi diam terus ? apa ada masalah ?" tanya Indri bingung, pasalnya sejak tiba di sekolah Olin lebih banyak diam.
Menggeleng dengan pelan, Olin kemudian berkata "Tidak apa-apa" ucapnya.
"Iya"
Jawaban Olin selalu singkat dan padat, membuat Indri maupun Bela paham kalau Olin sedang ada masalah. keduanya akan menunggu sampai Olin mau bercerita sendiri.
-----------
Tak terasa waktu berlalu juga, jam pulang sekolah sudah tiba. Saat bel pulang sudah di bunyikan, Olin dengan cepat memakai tas dan langsung berlalu.
Lagi-lagi tingkah Olin membuat kedua sahabatnya bingung.
"Dia kenapa Bel ?" tanya Indri pada Bela.
Bela mengangkat kedua bahunya "Aku juga bingung sama sikap Olin, dari tadi dia diam terus" balas Bela.
"Ya udah yuk pulang, entar kalau sudah waktunya Olin pasti cerita" lanjut Bela lagi sambil mengajak Indri pulang.
Indri mengangguk, keduanya keluar kelas dimana anak-anak yang lain mengikuti.
__ADS_1
Sementara itu Olin baru saja sampai di gerbang sekolah, ia pikir Pak Tio sudah di depan untuk menjemputnya, tapi ternyata Olin salah karena disana ada Hana yang sudah tersenyum manis kearahnya.
"Mama" ucap Olin.
"Hai sayang, yuk pulang" ajak Hana kemudian.
"Kok mama yang jemput si ? kenapa bukan pak Tio ?"
"Mama mau bicara sama kamu sayang, mama udah izin kok sama Papa"
Olin terdiam sejenak, mungkinkah sang mama akan membicarakan prihal keinginannya yang ingin menikah ?. Kalau memang begitu ia harus ikut.
"Iya Ma" balas Olin kemudian melangkahkan kakinya menuju mobil Hana.
Sepanjang perjalanan Olin terus melirik Hana, ia bingung kenapa Hana belum juga membuka pembicaraan. Hingga akhirnya Olin memutuskan untuk bertanya dahulu.
"Katanya Mama mau bicara ? ayo katakan !" ucap Olin tak sabaran.
"Di rumah saja nak"
"Aku gak mau ikut kerumah Mama" sentak Olin dengan cepat, ia ingat kalau Irwan tak menyukainya.
Hana menoleh sekilas lalu kemudian kembali fokus menyetir "Kenapa memangnya ?" tanya Hana heran.
"Pokoknya aku gak mau kerumah Mama, kalau mama mau bicara disini aja ! atau cari restoran" balas Olin tanpa sedikitpun menceritakan kejadian malam itu.
"Ya sudah mama cari tempat berhenti dulu" akhirnya Hana mengalah, ia mencari tempat yang bisa berhenti dan tentunya aman.
Setelah menemukannya Hana langsung menghentikan mobilnya, ia menarik napas panjang sebelum memulai pembicaraan.
"Tadi Papa udah nemuin Mama, katanya Olin mau nikah ?" ucap Hana
"Iya Ma, itu memang keinginan Olin. Lalu keputusan Papa dan Mama apa ? kalian setuju kan kalau Olin nikah ?"
"Maaf sayang mama belum bisa setuju, kamu masih terlalu kecil untuk menikah sekarang ! kamu harus menggapai cita-cita kamu" jelas Hana membuat Olin kaget.
"Olin masih akan sekolah Ma, Olin tetap akan menjadi dokter sesuai keinginan Papa dan Mama. Calon suami Olin itu Ustadz dan sudah Mapan Ma"
"Iya mama tau, mama kenal sama Ustadz Alzan yang kamu ceritakan malam itu nak, tapi umur kamu belum pas untuk menikah, tolong ngertiin Mama !!"
"Kapan sih Olin gak ngertiin Mama ? selama ini Olin selalu ngertiin kondisi Mama, dari mama cerai sampai meninggalkan Olin sama Papa. Semua itu selalu Olin ngertiin, dan sekarang Mama juga minta di ngertiin ?" jelas Olin dengan dada bergemuruh.
__ADS_1
"Mama egois" sambungnya lagi lalu keluar dari mobil Hana