Cinta Dalam Ikhlas

Cinta Dalam Ikhlas
Bertemu Yuna


__ADS_3

Setiba di rumah sakit, Alzan langsung memasuki ruangan dimana Olin berada. Ia hanya menatap sekilas wajah pucat dengan mata tertutup itu. Ada rasa sedih yang teramat dalam yang Olin rasakan.


"Kakinya patah, kemungkinan setelah sadar nanti dia akan lumpuh untuk sementara, tapi kamu tenang saja Olin tidak lumpuh total dia akan bisa berjalan kembali jika menjalani trapi" jelas Hana tanpa menunggu Alzan bertanya.


"Astaghfirullah" gumam Alzan.


"Jika memang nak Alzan keberatan menerima anak kami, tidak apa-apa"


"Saya akan menerima nya Tante, apapun kondisi Olin saya akan menerimanya dengan ikhlas"


Hana tersenyum sembari menahan air matanya agar tidak jatuh lagi, rasa haru sangat Hana rasakan saat mendengar jawaban Alzan.


Mungkin Alzan adalah laki-laki yang tepat untuk menjadi suami Olin, semoga saja setelah menikah dengan Alzan nanti, sikap dan cara bicara Olin bisa berubah.


Umi dan Abi Ghofar juga sudah setuju jika Alzan akan menikah dengan Olin, mereka juga akan menerima Olin sebagai menantu bagaimanapun keadaanya nanti.


Umi Halwah mendekati ranjang pasien, disana ia mengelus kepala Olin dan mencium kening Olin.


"Cepatlah sadar nak !! Umi pingin di temanin masak sama kamu" ucap Umi Halwah.


"Lalu kapan akad nikah akan di laksanakan ?" Tanya Abi Ghofar.


"Besok pagi saja Abi, hari ini Al harus menyiapkan semuanya. Meminta izin kepada pihak rumah sakit kalau di ruangan ini akan di laksanakan akad nikah" jawab Alzan


"Kamu urus saja penghulu dan beberapa saksi, untuk rumah sakit biar saya yang menangani" sahut Aaron kemudian.


"Terima kasih Pak"


Hari ini dengan di temani Arzam, membuat Alzan sangat sibuk untuk mengurus pernikahan dadakan ini.


Namun sampai saat ini Arzam belum tau kenapa perjodohan Alzan dan Yuna batal. Ia bertanya-tanya dalam hati apa penyebab batalnya perjodohan itu.


Akan tetapi Arzam tak bisa bertanya, ia takut menyinggung Alzan sahabat sekaligus atasannya.


"Saya tidak menyangka Ustadz akan menikah dengan bocah itu" ucap Arzam terkekeh.


"Namanya jodoh Zam, kita mana ada yang tau"


"Kenapa nikahnya dadakan begini Ustadz ? Kenapa tidak menunggu dek Olin sadar dulu, biar dia ngerasain jadi ratu sehari"


Alzan tersenyum "nanti kalau dia sudah sadar, kita selenggarakan resepsi, tapi setelah Olin lulus dulu"


"Oh begitu, saya mengerti Ustadz"


Usai bertemu dengan penghulu Alzan menuju tokoh perhiasan, walau ia sudah memiliki cincin sendiri untuk di sematkan di jari manis Olin, tapi Alzan tetap membeli kalung sebagai tanda ikatan cinta mereka.


Namun saat di toko perhiasan Alzan bertemu dengan Yuna, yang kebetulan akan membeli cincin juga. Wanita itu hanya menunduk saat berpapasan dengan Alzan.


"Bagaimana pak, apa kalung itu cocok ?" Tanya salah satu karyawan yang berjaga di toko itu.

__ADS_1


"Apa ada model terbaru lagi, kalung ini akan di pakai oleh anak yang masih SMA, bisakah kamu carikan yang lebih cantik lagi" balas Alzan.


Samar-samar Yuna mendengar ucapan Alzan.


"Untuk siapa kalung itu !" Batin Yuna kemudian langsung menggeleng dengan pelan "Astaghfirullah, kenapa kamu kepo sekali Yun !"


Setelah mendapatkan kalung yang ia inginkan Alzan akan kembali pulang, tapi sebelum itu ia mendekati Yuna.


"Lagi cari apa dek Yuna ?" Tanya Alzan.


"Saya mau mencari cincin Ustadz" jawab Yuna "Ustadz sendiri hendak membeli apa ?" Tanyanya lagi seolah-olah tidak tahu kalau Alzan membeli kalung.


"Saya mencari kalung dek"


"Wah, untuk siapa Ustadz ?"


Walau ragu dan takut menyakiti perasaan Yuna, tapi Alzan tetap mengatakan kalau kalung itu untuk Olin calon istrinya.


"Apa karena wanita itu Ustadz membatalkan perjodohan kita ?, Tapi Ustadz mengkambing hitamkan Arzam sebagai alasan ?"


"Astaghfirullah, tidak dek. Saya membatalkan perjodohan ini karena tidak mau menyakiti Arzam, dia lebih pantas untuk kamu"


"Dari mana Ustadz tau kalau dia lebih pantas untuk saya ?"


"Arzam memiliki cinta yang tulus untuk kamu dek"


Yuna mengangguk dan tersenyum samar "sudah cukup, sekarang aku mengerti kenapa Ustadz membatalkan perjodohan ini. Bukan karena Arzam tapi karena Ustadz tidak menyukai saya"


Alzan menatap kepergian Yuna, ia menarik napas panjang kemudian berucap dalam hati. "Ampuni saya ya Allah karena menyakiti hamba mu"


 


Yuna berjalan dengan cepat meninggalkan mall terbesar itu, gamis nya yang panjang tak membuat langkahnya kesusahan, mungkin dia sudah terbiasa berpakaian seperti itu.


Setelah di luar gedung, kali ini Yuna bertemu dengan Arzam. Akan tetapi suasana nya berbeda jika tadi Yuna akan merasa gugup saat bertemu dengan Alzan, sekarang Arzam lah yang gugup.


"Mau kemana dek ?" Tanya Arzam.


"Pulang Zam, kamu sendiri hendak kemana ?"


"Saya mau nyusulin Ustadz Alzan kedalam"


"Oh" hanya itu jawaban Yuna setelah itu ia langsung pamit pergi.


"Hati-hati dek !" Ucap Arzam saat Yuna pamit hendak pulang.


Yuna menganggukan kepalanya, kemudian langsung berjalan meninggalkan Arzam.


 

__ADS_1


Sementara itu di sekolah, hari-hari yang Indri dan Bela lalui terasa sangat sepi. Semenjak Olin kecelakaan dan tidak sekolah keduanya sama-sama tidak semangat untuk sekolah.


"Kapan ya Olin sadar ? Udah kangen banget sama dia" ucap Indri lesu.


"Iya gue juga kangen banget sama dia"


"Nanti pulang sekolah jengukin Olin lagi yuk ! Walau dia gak bisa ngomong tapi setidaknya kita bisa kumpul"


"Gak bisa In, hari ini gue ada janji sama ibu buat bantuin dia bikin kue"


"Yaaaaa"


Indri semakin tertunduk lesu mendengar jawaban Bela. Hingga tak di duga Chiko datang.


"Lo bedua kapan kerumah sakit jengukin Olin ?" Tanya Chiko.


Indri dan Bela menatap Chiko tak suka, mereka berdua tahu kalau waktu itu Choki menyuruh kedua sahabatnya untuk mencelakai Olin..


"Gue cuman pengen lihat keadaan dia aja kok, gak ada niat jahat. Lagian gue udah move on dari Olin" jelas Chiko


"Syukur deh kalau Lo udah bisa Move on dari Olin. Lo masih beruntung Olin gak ngadu ke papa nya karena kelakuan Lo. Kalau Olin ngadu gue yakin Lo bakalan di keluarin di sekolah ini" ujar Bela


"Iya gue bakalan minta maaf sama Olin, jadi kapan kalian berdua kesana ? Gue pingin ikut ?"


"Katanya hari ini Indri mau kesana kalian bareng aja, kalau gue gak bisa soalnya mau bantuin Ibu bikin kue"


"Beneran Dri ?" Tanya Chiko.


"Please jangan panggil gue Dri !! Tapi In saja !" Gerutu Indri yang tak suka dengan panggilan Chiko.


"Lah sama aja, makanya bilang sama emak lo bikin nama yang keren dikit napa"


"Lo ngeselin banget ya, ya udah gue males barengan sama Lo buat nengokin Olin"


"Eh jangan gitu dong ! Gue kalau sendiri gak berani"


"Makanya jangan ngeselin !"


"Ok ok, gue minta maaf" Chiko mengulurkan tangannya, membuat Indri menatap sekilas kemudian berucap.


"Apaan tuh maksudnya ?" Tanya Indri heran.


"Minta maaf, kok masih nanya"


"Ikhlas gak minta maaf nya ?"


"Ikhlas In, astaga"


Indri langsung membalas jabatan tangan Chiko.

__ADS_1


"Beneran barengan ke rumah sakit" ujar Chiko


"Iya"


__ADS_2