
"Papa ngusir Olin ?" Kembali wanita cantik itu bertanya, dadanya terasa sangat sesak dan linangan air mata terus saja keluar.
"Bukan itu maksud Papa nak" ucap Aaron frustrasi. Ia mengusap wajahnya dengan kasar dan berjalan mendekati Olin.
Olin tersenyum samar. "Gak usah jelasin apa-apa Pa !! Olin udah mengerti semuanya. Hari ini juga Olin akan keluar dari rumah ini"
"Jangan hari ini sayang, kamu baru saja keluar dari rumah sakit"
Namun Olin tak lagi menjawab, ia menatap sang suami lalu berkata "Mas bawa aku ke kamar lagi, kita harus pergi Mas" ucap Olin pada Alzan.
"Iya sayang" balas Alzan.
"Permisi Pa" ucapnya pada Aaron yang diam seribu bahasa.
Alzan mendorong kursi roda sang istri, ia membawanya ke kamar.
"Hiks-hiks-hiks" Olin menangis tersedu-sedu. Ia tak kuat menahan beban ini.
"Istighfar sayang ! Ada mas disini"
"Aku gak ngerti sama jalan pikiran Papa mas ! Kenapa dia tega ngusir aku demi istri barunya"
"Sabar ya, doakan Papa semoga beliau sehat selalu walaupun gak ada kita disini"
Olin menyandarkan kepalanya di dada bidang sang suami, mencari tempat ternyaman untuk menumpahkan rasa sesak di dadanya.
Kehadiran Alzan begitu berharga di hidup Olin, entah apa jadinya jika ia belum menikah dengan Alzan dan di usir oleh Papanya sendiri.
Mungkin saja Olin akan luntang-lantung dijalanan tak tentu arah. Mencari tempat yang sekiranya nyaman untuknya.
"Kamu ikut mas ya !! Insya Allah di rumah baru kita nanti Allah akan memberikan kebahagiaan untuk kita dan anak-anak kita kelak"
"Iya mas, bawa aku pergi jauh ! Kemanapun Mas mau aku akan ikut. Papa sudah tak mengharapkan aku lagi, dan jika aku kerumah Mama itu sama saja. Mereka kedua orang tua yang egois"
Alzan tak menimpali, ia harus mengerti kondisi Aaron yang masih baru menjalani rumah tangga. Perpisahan yang Aaron alami mungkin di jadikan pelajaran oleh laki-laki itu.
"Bawa saja pakaian sekolah kamu dek ! Nanti untuk pakaian sehari-hari biar mas yang beli" ucap Alzan.
"Iya mas" jawab Olin lirih.
------------
Mendengar kalau Aaron sudah mengatakan pada Alzan untuk membawa Olin, menjadi kebahagiaan teramat besar bagi Sarah.
__ADS_1
Usahanya selama ini tidak sia-sia untuk menjadi ratu di kehidupan Aaron. Punya banyak uang, rumah mewah dan punya mobil pribadi.
"Akhirnya aku jadi orang kaya" gumam Sarah, ia merebahkan tubuhnya di atas ranjang yang kasur nya sangat empuk. Menatap langit-langit kamar sembari tersenyum sendiri.
"Setelah Olin pergi aku harus program hamil, biar Mas Aaron benar-benar lupa dengan anaknya. Dan hanya menyayangi anak yang akan aku lahirkan"
Beberapa saat kemudian Aaron masuk ke kamar, membuat Sarah langsung duduk dan berpura-pura tidak tau apa-apa.
"Kenapa mas ? Kok wajahnya di tekuk gitu ?" Tanya Sarah dengan nada lembut.
"Mas rasanya menyesal telah mengusir Olin, mas ngerasa udah jadi Papa yang jahat banget sama dia"
Sarah mencibir mendengar ucapan Aaron, ia lantas mendekat dan memeluk tubuh sang suami.
"Mas ngerasa seperti itu karena mas belum pernah pisah sama Olin. Percaya deh sama aku lama-lama mas akan terbiasa. Aku janji bakalan cepat ngasih kamu anak biar kamu gak sedih lagi"
Aaron tersenyum kearah istrinya. Ia mencium pipi Sarah sebagai bentuk kasih sayang.
"Katanya mereka akan pergi hari ini juga sayang" ucap Aaron memberi tahu.
"Loh kenapa dadakan ? Kenapa gak besok aja ? Kan Olin baru pulang dari rumah sakit ?" Tanya Sarah pura-pura terkejut, padahal di hatinya ia kesenangan kalau Olin langsung pergi hari ini juga.
"Mas udah mencegah sayang, tapi Olin tetap ingin pergi hari ini"
"Ya sudah kalau itu menjadi keputusan Olin, lagian dia sudah memiliki suami, pasti suaminya bisa memberikan tempat tinggal yang nyaman untuk Olin"
-------------
Kembali kekamar Olin....
Setelah selesai beres-beres. Alzan langsung membawa barang-barang keluar barulah ia membantu sang istri.
Bi Yatri yang melihat Olin hendak pergi langsung mendekat, wanita paruh baya itu duduk sambil menangis di hadapan Olin.
"Jangan pergi Non ! Kalau Non pergi Bibi gimana ?" Ucap Bi Yatri.
"Iya Bibi disini aja kerja sama Papa, Olin harus pergi ikut suami"
Bi Yatri mendongak menatap wajah Alzan "Den bawa Bibi juga sekalian, Bibi kerja disini untuk mengurus Non Olin, kalau Non Olin udah gak tinggal disini Bibi gak punya kerjaan"
Alzan membalas dengan senyuman, ia ingin membawa Bi Yatri supaya bisa mengurus istrinya saat ia tinggal kerja. Tapi Alzan tak berani nanti Aaron marah dan menganggapnya terlalu lancang.
"Bi, di rumah ini banyak kok kerjaan. lagian Papa pasti akan menyuruh bibi bekerja yang lain" ucap Olin, ia tersenyum tulus kearah Bi Yatri.
__ADS_1
"Tapi Bibi mau ikut non Olin" balas Bi Yatri bersih keras supaya bisa ikut dengan Olin dan Alzan.
Tidak berapa lama Aaron dan Sarah mendekat, Olin langsung memalingkan wajahnya saat Aaron menatanya. Ia enggan melihat wajah sang Papa.
"Ada apa ini Bi ?" Tanya Aaron.
"Saya mau ikut Non Olin tuan, disini kan saya bekerja untuk ngurus non Olin, kalau non Olin tidak tinggal disini lagi lalu pekerjaan saya apa ?" Jawab Bi Yatri.
"Coba bibi bicara sama Alzan, kalau dia mengizinkan bibi kerja sama dia, saya tidak apa-apa kalau bibi mau ikut"
Mendengar hal itu Bi Yatri tersenyum, ia langsung menatap Alzan.
"Bawa saya juga ya den !!" Ucapnya memohon.
"Iya Bi, mulai hari ini bibi kerja sama saya"
"Alhamdulillah"
Bi Yatri begitu bahagia akhirnya bisa ikut dengan Olin, jujur saja semenjak ada Sarah ia merasa tak nyaman lagi bekerja di rumah itu. Sarah terlalu banyak omong dan apapun yang ia dan pembantu lainnya kerjakan pasti ada saja yang salah.
Sarah tersenyum sinis saat banyak orang yang menyayangi Olin.
"Apa sih hebatnya Olin, sampai Bi Yatri sedih banget di tinggal" batin Sarah.
Kini mereka sudah berada di teras rumah, Alzan masih memasukan barang-barang istrinya di bantu oleh BI Yatri. Tak banyak yang di bawah sehingga membuat Aaron heran, pasalnya ia tahu sendiri kalau barang-barang Olin begitu banyak.
Aaron berjalan mendekati Olin, ia duduk untuk mensejajarkan tubuhnya dengan sang putri.
"Kamu jaga diri baik-baik ya nak ! Kabari Papa kalau ada apa-apa." Ucap Aaron lirih. Ia sebenarnya tak tega melakukan semua ini, tapi karena ingin mempertahankan rumah tangganya dengan Sarah, Aaron terpaksa.
"Iya, Papa juga jaga diri baik-baik di sini. Jangan khawatirkan Olin, karena Olin akan baik-baik saja"
Aaron mengangguk, sambil menyusut air matanya. Ia berdiri dari duduknya.
"Kami pergi Pa" ucap Alzan berpamitan.
"Iya, titip Olin , jaga dia dengan baik"
"Insya Allah, Alzan akan menjaga Olin dengan baik".
"Papa percaya sama kamu"
Alzan mencium punggung tangan Aaron begitupun dengan Olin yang melakukan hal yang sama.
__ADS_1
Aaron menatap kepergian putrinya, dadanya terasa sesak melihat Olin di gendong dan di dudukan di mobil. Tak sedikitpun Olin menoleh walau sekilas kearah Aaron.
Padahal tanpa Aaron tau, Olin tak mau menoleh karena menyembunyikan air matanya, ia tidak ingin sang Papa tau kalau dirinya terluka saat pergi.