Cinta Dalam Ikhlas

Cinta Dalam Ikhlas
Bertemu Umi Fadilah


__ADS_3

Hari-hari berikutnya Olin sudah di perbolehkan pulang. Keadaannya sudah membaik hanya kakinya saja yang belum sembuh. Dengan rajin terapi kata dokter kaki Olin bisa kembali seperti semula.


Alzan mendorong kursi roda yang di duduki sang istri, berjalan dengan pelan menyusuri koridor rumah sakit. Setelah tiba di lobi Alzan berkata.


"Kamu tunggu bentar disini, mas ambil mobil dulu" ucap Alzan sangat lembut.


"Baik mas"


Sebelum pergi tak lupa Alzan tersenyum kearah istrinya. Lalu berlalu dari hadapan Olin..


Olin menatap kepergian Alzan sambil tersenyum, sampai saat ini ia masih tak percaya kalau Alzan sudah menjadi suaminya.


Namun beberapa saat kemudian mata Olin menangkap sosok Yuna yang baru keluar dari mobil. Wanita itu begitu cantik menggunakan gamis Syar'i lengkap dengan hijabnya.


"Assalamualaikum mbak Yuna" sapa Olin saat Yuna sudah di dekatnya.


Yuna menatap wajah Olin kemudian berkata "waalaikumsalam" balas Yuna


"Siapa yang sakit mbak ?" Kembali Olin bertanya, ia ingin akrab pada Yuna supaya nanti bisa belajar bagaimana menjadi wanita Solehah.


"Teman saya ? Kamu mau pulang ?"


"Iya mbak, ini lagi nungguin mas Alzan" dan dengan gerakan cepat Olin menutup mulutnya, seharusnya ia tidak usah mengatakan hal serupa. Olin takut Yuna akan salah paham.


Yuna menoleh ke belakang, berbarengan dengan itu mobil Alzan berhenti. Laki-laki itu turun dari mobil kemudian berjalan sedikit cepat menghampiri sang istri.


"Assalamualaikum dek Yuna, sedang apa disini ?" Tanya Alzan cukup ramah.


"Waalaikumsalam, saya hendak melihat teman saya yang saat ini sedang di rawat Ustadz" jawab Yuna kemudian kembali berkata "Ustadz sendiri sedang apa disini ? Kenapa Ustadz yang menjemput Adek ini ?" Tanyanya penuh selidik. Karena memang Yuna belum mengerti pernikahan Alzan dengan Olin.


"Ya Allah apa yang harus aku jawab ? Aku tidak ingin berbohong, tapi aku sudah berjanji pada mertua ku untuk merahasiakan pernikahan ku dengan Olin" batin Alzan bingung.


Olin yang menyadari kebingungan sang suami, langsung menyahut.


"Papa dan Mamaku sedang ada urusan mbak, kebetulan tadi ada mas Alzan makanya aku minta di anterin" jawab Olin


Masih dengan kebingungan nya Yuna menatap wajah Olin "sejak kapan kamu memanggil Ustadz Alzan dengan sebutan Mas ?"


"Emmm, aku yang memintanya dek, karena aku rasa panggilan Ustadz terlalu mencolok" sahut Alzan kembali.


Walau masih bingung, Yuna tak ingin kembali bertanya. Ia yakin kalau Alzan dan Olin sedang berbohong. Tapi Yuna tidak ingin kepo hingga membuat perasaannya sakit.


"Ya sudah kalau begitu saya permisi, hati-hati pulang nya ?" Ujar Yuna.


"Iya mbak, salam buat temannya"


"Assalamualaikum"

__ADS_1


"Waalaikumsalam" jawab Olin dan Alzan serempak.


Selepas kepergian Yuna, Alzan langsung membantu sang istri untuk masuk kedalam mobil. Pertama ia menggendong Olin dan mendudukkannya di kursi depan, barulah ia memasukan kursi roda ke dalam bagasi mobil.


Tanpa mereka ketahui kalau tindakan Alzan di lihat oleh Yuna. Ternyata wanita itu belum pergi namun mengintip di kaca rumah sakit.


"Kenapa Ustadz Alzan menggendong wanita itu, padahal mereka belum halal" batin Yuna.


"Sepertinya aku harus menanyakan semua ini kepada Arzam, aku yakin dia mengetahui rahasia antara Ustadz Alzan dengan wanita itu"


--------------


Sementara itu di perjalanan Alzan terus mengajak Olin bercanda, ia melakukan itu supaya Olin tidak sedih karena kedua orang tuanya tidak bisa menjemput saat ia sudah di perbolehkan pulang.


Aaron beralasan sedang ada meeting di perusahaan, sementara Hana beralasan sedang menghadiri arisan yang selalu ia ikuti.


"Mau makan dulu gak dek ? Siapa tau kamu kangen makanan di luar ?" Tanya Alzan


"Boleh kalau mas Alzan gak kerja hari ini" jawab Olin tersenyum senang.


"Ya sudah rumah makan mana yang menjadi favorit kamu ?"


"Rumah makan Padang mas"


"Alhamdulillah ternyata selera kita sama" Alzan terkekeh dan di balas oleh Olin dengan tawa...


Alzan mencari rumah makan Padang yang cukup terkenal, karena ia yakin kalau disana makanannya enak. Sebenarnya Alzan tidak terlalu suka berburu kuliner makanya ia tidak tau mana rumah makan yang enak.


"Sini mau ?" Tanya Alzan menunjuk rumah makan Padang yang cukup ramai.


"Iya mas, aku mau" jawab Olin.


"Sebentar Mas ambil kursi roda dulu, atau apa perlu mas gendong aja sampai dalam"


"Enggak mau lah, malu sama orang mas"


Alzan tertawa, kemudian keluar untuk mengambil kursi roda di bagasi mobil. Setelah itu barulah ia membuka pintu mobil dimana Olin berada dan kembali menggendong Olin untuk ia dudukan di kursi roda.


Alzan kembali mendorong kursi roda itu, memasuki rumah makan Padang dan mencari tempat duduk yang masih tersedia.


"Dekat jendela sana aja mas !" Tunjuk Olin.


"Ok sayang" jawab Alzan dan lagi-lagi membuat Olin malu setiap kali Alzan memanggil nya dengan sebutan 'sayang'


Setelah menemukan tempat duduk, Alzan langsung memesan makanan. Tak lupa menu utama yang mereka pesan adalah rendang daging.


"Tunggu bentar ya dek, lagi di siapin" ucap Alzan.

__ADS_1


"Iya mas Alzan". Jawab Olin.


Beberapa saat kemudian makanan yang tadi Alzan pesan sudah terhidang dimeja makan. Melihat berbagai menu yang menggugah selera rasanya air liur Olin ingin menetes.


"Papa kamu orang Padang ya dek ?" Tanya Alzan


Olin menggeleng "bukan mas, Papa blasteran, jawab sama Belanda"


"Kalau Mama Hana ?"


"Mama asli Palembang. Tapi udah lama mama gak kesana soalnya kakek sama nenek udah gak ada"


Alzan mengangguk-anggukan kepalanya.


"Memangnya kenapa mas ?"


"Enggak dek, kirain Mama atau Papa ada yang orang Padang, soalnya lihat cara makan kamu yang suka banget sama masakan Padang"..


"Memangnya harus orang Padang ya yang menyukai makanan ini ?"


"Ya enggak juga sih"


Tiba-tiba Olin mengangkat sendok nya dan mengarahkan kemulut Alzan.


"A.. Mas" pinta Olin supaya Alzan membuka mulut


"Malu dek" ucap Alzan


"Ngapain malu, kan kita udah suami istri"


Alzan melihat kiri kanan, setelah memastikan tidak ada yang memperhatikan mereka, barulah Alzan membuka mulut.


Saat keduanya sedang asik menikmati makan, tiba-tiba ada seseorang yang bicara.


"Saya kira Ustadz Alzan itu benar-benar Soleh dan menjaga imannya, tapi ternyata salah. Di depan umum seperti ini malah suap-suapan sama perempuan yang bukan muhrimnya " celetuk Umi Fadilah.


Alzan menghentikan makannya, meletakkan sendok keatas Piring lalu menatap kearah Umi Fadilah.


"Assalamualaikum Umi, apa kabar ?" Ucap Alzan berusaha sabar dan tetap bersikap sopan pada Umi Fadilah.


"Gak udah syok alim deh jadi orang, dasar Ustadz munafik" balas Umi Fadilah.


"Astaghfirullah, jaga bicaranya Umi, malu di dengar orang"


"Biar saja semua orang mendengar, biar mereka tau kalau sosok Ustadz Alzan yang mereka kenal baik dan alim ternyata begini kelakuannya "


Kemudian Umi Fadilah menatap kearah Olin, ia tersenyum sinis kearah wanita itu.

__ADS_1


"Jadi ini wanita yang kamu suka, sehingga membatalkan perjodohan dengan anak saya." Umi Fadilah tertawa mengejek "cantikan juga putri saya, coba kamu tanya Alzan apa dia bisa membaca Al-Qur'an?"


Rasanya Olin ingin menjawab tapi ia tidak ingin menjadi pusat perhatian, sekarang saja sudah banyak yang memperhatikan mereka akibat ucapan Umi Fadilah.


__ADS_2