
Beberapa bulan kemudian, karena setiap hari Olin berusaha untuk sembuh akhirnya kesabarannya membuahkan hasil. Sudah dua Minggu ia bisa berjalan lagi.
Dan saat ini ia tengah melaksanakan Ujian Nasional. Karena sebentar lagi Olin akan lulus SMA..
Sementara pernikahannya dengan Alzan, semakin romantis. Walau terkadang ada sedikit argumen tapi kedua tetap saling mencintai.
"Kok wajah kamu pucat dek ? Apa karena muntah tadi ya ?" Tanya Alzan saat menatap wajah istrinya.
"Mungkin mas, tapi aku gak papa kok" balas Olin, ia merapikan jas sang suami.
"Beneran gak Papa ? Mas hari ini gak bisa nganterin loh"
"Iya sayang, lagian ada sopir juga kan yang nganterin aku"
Alzan terdiam, kembali ia menatap wajah istrinya. Sejak subuh tadi Olin mengalami mual dan muntah dan itu membuat Alzan khawatir.
Hari ini ia memang tak bisa mengantar istrinya ke sekolah seperti biasa, karena hari ini Alzan akan keluar kota untuk urusan bisnis.
"Yuk turun ! Umi sama Abi pasti udah nungguin" ajak Olin.
"Iya sayang" balas Alzan.
Sepasang suami istri itu turun untuk sarapan. Saat berada di meja makan Olin tak selera dengan menu yang terhidang.
"Kenapa nak ?" Tanya Umi Halwah saat menatap menantunya tak mengambil makanan sedikitpun.
Olin menggeleng pelan "tidak apa-apa Umi"
"Apa tidak selera sama makanan nya ? Mau Umi buatkan sesuatu ?"
"Tidak usah Mi, Olin selera kok makan ini. Tadi Olin mikir aja mau ambil menu yang mana soalnya semuanya enak" jawab Olin sedikit berbohong. Makanan di meja itu bukan tak menggugah selera hanya saja perut Olin rasanya belum enakan..
Olin meminum satu gelas susu yang sudah tersedia. Barulah ia sarapan sedikit untuk mengisi perutnya yang terkuras habis.
Usai sarapan Olin langsung berangkat, tak lupa sebelum itu ia mencium punggung tangan Umi dan Abi serta suaminya.
"Hati-hati sayang ! Hari ini mas pulangnya agak malam" ucap Alzan sebelum melepas sang istri
"Iya mas, kamu juga hati-hati di jalan" balas Olin.
Alzan membalas dengan senyuman, ia menatap mobil yang membawa istrinya sampai tak terlihat lagi barulah ia pergi bersama Arzam yang sudah menunggu sejak tadi.
-----------
Setiba di sekolah rasanya tubuh Olin sangat lah lemas, di kelas ia hanya terdiam seraya menelungkup kan kepalanya di meja. Tentu saja membuat Indri dan juga Bela heran.
"Lo kenapa Lin ?" Tanya Indri.
__ADS_1
"Iya, dari tadi diam aja. Terus wajah Lo pucat amat" sahut Bela
Olin mendongakkan kepalanya, menatap wajah kedua sahabatnya dengan jelas.
"Gue gak papa" jawab Olin cukup lemas.
"Mungkin kecapekan karena layani Ustadz Alzan semalam ya ?" Goda Bela dengan suara pelan, takut terdengar yang lain.
"Mana ada, semalam kita tidur ya gak ngapa-ngapain" bantah Olin kemudian.
Namun Indri dan Bela justru tertawa terbahak-bahak, rasanya tak percaya dengan jawaban yang di berikan Olin.
Melihat kedua sahabatnya tertawa Olin mendelik kesal, hingga saat ketiganya beradu mulut dengan seru seorang pria paruh baya masuk.
Sepanjang mengerjakan soal Ujian, kepala Olin terasa berputar-putar, ia kerap kali memegangi kepalanya yang kian terasa pusing.
"Ya Allah aku kenapa ?" Batin Olin bingung.
Baru beberapa soal yang terjawab, Olin jatuh pingsan membuat seisi ruangan menjadi heboh terutama Indri dan Bela yang memang sahabat dekatnya Olin.
"Bangun Lin !!" Ucap Indri sambil menepuk-nepuk pipi Olin.
"Bawa ke UKS saja !" Ucap Pak Cipto pengawas ujian
"Tapi Ujian nya pak ?"
"Baik pak !"
Indri, Bela dan di bantu satu siswa laki-laki, mengangkat tubuh Olin sampai ke UKS. Disana ada Ibu Narti yang sedang bertugas menjaga UKS.
"Ini kenapa ?" Tanya Bu Narti
"Pingsan Bu" jawab Bela.
Bu Narti langsung memeriksa tubuh Olin, sementara Indri, Bela dan siswa laki-laki itu izin kembali ke kelas.
Selama memeriksa tubuh Olin, Bu Narti menemukan kejanggalan, tapi ia berusaha menepis pikiran negatifnya. Ia kenal dengan Olin, tidak mungkin wanita itu seperti apa yang saat ini menyerang pikirannnya.
"Mending telepon dokter saja" gumam Bu Narti, kemudian mengambil ponselnya lalu menelpon dokter.
-----------
Suasana sekolah nampak heboh hari itu, orang-orang bergerombol menuju UKS. Baru saja pihak sekolah mendapatkan kabar kalau ada siswa yang hamil padahal statusnya masih sekolah.
"Gak nyangka Olin hamil di luar nikah, ku kira dia gadis baik-baik karena selama ini jarang terdengar gosip dia pacaran" ucap salah seorang siswi yang baru saja keluar dari UKS.
Ucapan siswi tadi terdengar oleh Indri dan Bela, ingin rasanya Indri menjawab dengan mengatakan kalau Olin sebenarnya sudah menikah.
__ADS_1
Sementara di ruang UKS, kepala sekolah beserta guru yang lain sedang melakukan pertanyaan kepada Olin. Kenapa bisa Olin hamil padahal masih sekolah.
"Siapa ayah dari anak ini ?" Tanya kepada Sekolah tegas, matanya yang nyalang berhasil membuat Olin ketakutan.
Olin menunduk, ia ingin sekali menjawab kalau dirinya sudah menikah dengan Alzan. Tapi ia ingat kalau sudah janji dengan sang Papa untuk merahasiakan pernikahan nya.
Lalu bagaimana nasibnya sekarang ? Mungkin jalan satu-satunya menghubungi Alzan untuk meminta suaminya itu mengatasi semua ini.
"Caroline, tolong jawab pertanyaan kami !!" Bentak Bu Narti yang mulai kesal Karena Olin tak kunjung menjawab pertanyaan nya.
"Maaf Bu, tapi izinkan saya berbicara sebentar dengan seseorang. Nanti orang itu yang akan saya suruh menjelaskan semuanya" ucap Olin hati-hati.
Para guru saling pandang, lalu sang kepala sekolah menjawab "silahkan kami akan menunggu di luar"
Setelah para guru keluar, Olin menghubungi suaminya. Beruntung satu panggilan langsung di jawab oleh Alzan..
"Halo Assalamualaikum sayang" ucap Alzan di seberang sana.
Mendengar suara sang suami Olin langsung menangis, sebenarnya sejak tadi ia menahan air matanya tapi Olin tahan karena tak ingin terlihat lemah.
"Sayang, kamu kenapa ? Apa terjadi sesuatu?" Kembali Alzan bertanya, suara yang lembut membuat siapa saja nyaman mendengar.
"Mas dimana sekarang ?" Tanya Olin terbata-bata
"Masih di jalan, ada apa dek ? Kenapa menangis ?"
"Apa mas bisa Putar balik ? Lalu ke sekolah Olin ?"
Dan tanpa banyak bertanya lagi Alzan langsung mengiyakan, ia pikir istrinya pasti masih mengalami mual dan muntah.
"Putar balik Zam !" Pinta Alzan.
"Ada apa Ustadz ? Apa ada kendala ?"
"Tidak tau, tapi istri ku meminta ku datang ke sekolah nya, dan dia sedang menangis"
"Astaghfirullah, baik Ustadz saya akan putar balik segera"
Posisi Alzan saat ini belum terlalu jauh dari Jakarta. Sepanjang perjalanan menuju sekolah Olin ia begitu panik. Takut istrinya kenapa-kenapa.
Suara isakan tangis Olin membuat perasaan Alzan tak tenang, rasanya ia ingin segera tiba lalu memeluk istrinya dengan erat.
Setengah jam kemudian Alzan telah tiba di sekolah sang istri. Kebetulan ia langsung bertemu dengan Bela sehingga menanyakan keberadaan Olin.
"Dimana Olin ?" Tanya Alzan
"Di ruang UKS ustadz, tadi Olin pingsan. Ini aku di suruh nunggu Ustadz" jawab Bela.
__ADS_1
"Astaghfirullah sayang" Alzan langsung berlari meninggalkan Bela, padahal ia sendiri tidak tau dimana ruang UKS.