Cinta Dalam Ikhlas

Cinta Dalam Ikhlas
Menikah


__ADS_3

Saat pulang sekolah, Indri dan Chiko langsung berangkat kerumah sakit. Disana keduanya disambung dengan hangat oleh Aaron dan Sarah. Sementara Hana dan sang suami izin pulang dulu.


"Bagaimana keadaan Olin Om ?" Tanya Indri dengan nada lirih.


"Masih seperti biasa, Om sangat berharap dia segera sadar" jawab Aaron.


Chiko mendekati ranjang pasien dimana Olin berada, ia tatap wajah Olin yang begitu pucat serta mata tertutup. Biasanya Chiko akan melihat senyuman manis di bibir Olin, tapi sekarang semuanya seakan hilang saat melihat bibir Olin hanya diam tak bergerak sama sekali.


"Om titip Olin dulu ya !! Soalnya mau makan siang sebentar" ucap Aaron tiba-tiba.


"Baik Om, Olin aman sama kita berdua" balas Chiko.


"Haha, terima kasih kalau begitu"


"Sama-sama Om"


Setelah kepergian Aaron dan Sarah. Membuat Chiko bebas menatap wajah Oli . Tak ada rasa canggung seperti tadi.


"Hei bangunlah !! Kamu begitu jelek tidur terus seperti ini" ujar Chiko dengan suara berat.


"Iya Lin, Bagun dong !! Kita bentar lagi Ujian, kamu gak pingin ikut ?" Sahut Indri yang kini sudah meneteskan air mata.


"Katanya kalau sudah lulus kita bakalan jalan-jalan, kamu gak pingin ikut"


"Aku tidak akan memaafkan kamu kalau kamu terus menutup mata seperti ini" ujar Chiko lagi .


Dulu saat Olin menolaknya mentah-mentah dan membuatnya malu setengah mati. Chiko begitu membenci Olin, tapi melihat keadaan Olin seperti ini ia juga tak tega. Walau bagaimana pun Olin pernah mengisi hatinya yang kosong.


"Gue masih benci banget sama Lo, tapi lihat Lo kek gini gue gak tega Lin" kata Chiko terbata-bata.


Indri menatap wajah Chiko yang kini sudah basah karena air mata, aura kesedihan nampak sekali di wajahnya.


"Ko, gue mau tanya boleh gak ?" Tanya Indri


Chiko balik menatap Indri kemudian berkata "apa ?"


"Waktu kedua sahabat Lo pingin bawa Olin waktu itu, mau Lo apain ?"


"Gue cuman mau ngasih pelajaran aja sama Olin, tapi kata teman gue ada cowok yang nolongin Olin"


Indri mengangguk angguk kan kepalanya, ia tahu betul kalau yang menolong Olin waktu itu adalah Alzan, laki-laki yang Olin suka di pertemuan pertama.


--------------


Sementara itu di rumah Alzan, setelah membeli kalung tadi ia langsung pulang bersama Arzam.


"Ini nikah secara agama dulu Al, nanti setelah Olin sadar kalian harus menikah secara negara" ucap Abi Ghofar.

__ADS_1


"Iya Abi, Al paham"


"Menikah adalah ibadah terpanjang yang di jalani oleh manusia. Jadi Abi mohon kamu bisa menjaga pernikahan kamu nanti sampai maut memisahkan. Dan kamu juga harus banyak sabar menghadapi istri kamu, apalagi dia masih anak SMA"


"Insya Allah Al akan menjaga pernikahan Al nanti Abi. Al akan menjaga Olin dengan baik".


"Aamiin, semoga kamu akan menepati ucapan kamu"


Tidak berapa lama Umi Halwah ikut bergabung.


"Kedua kakak kamu sudah Umi kabari, mereka kaget mendengar pernikahan dadakan ini" ujar Umi Halwah memberi tahu


"Lalu apa kak Afina dan Kak Ammar akan pulang Mi ?" Tanya Alzan


"Tidak nak, mereka sedang banyak kerjaan. Doa terbaik katanya untuk kamu. Mungkin mereka bisa pulang setelah kamu menyelenggarakan resepsi"


"Kalau nanti ada waktu hubungi kakak kakak kamu, minta restu dari mereka !" Sahut Abi Ghofar.


"Baik Abi, nanti malam Al akan menghubungi Kak Fina dan kak Ammar"


"Ya sudah kalau begitu Abi mau kekamar dulu" Abi Ghofar berdiri dari duduknya lalu berjalan meninggalkan Alzan dan Umi Halwah.


"Al, apa kamu yakin dengan pernikahan ini ?" Tanya Umi Halwah.


"Insya Allah Umi, memangnya kenapa ?"


"Tidak nak, Umi hanya takut kamu terpaksa"


"Doa Umi menyertaimu nak, semoga kamu bahagia selalu"


"Aamiin"


Setelah berbincang sebentar dengan Umi Halwah, Alzan memasuki kamarnya. Ia duduk di atas ranjang.


"Ya Allah sembuhkan lah calon istri hamba !, Izinkan hamba membahagiakan nya ya Allah" batin Alzan.


"Hamba juga meminta beri kelancaran pada pernikahan yang akan hamba jalani besok pagi Ya Allah, semoga ini menjadi pernikahan hamba pertama dan terakhir"


----------------


Keesokan harinya, ruang rawat inap milik Olin mendadak ramai. Seorang penghulu sudah datang setengah jam yang lalu untuk menikahkan Alzan dan Olin. Juga tiga orang saksi yang Alzan minta.


Sementara itu Alzan baru saja tiba di rumah sakit bersama kedua orang tuanya dan Arzam. Pria itu bertambah tampan dengan setelah jas berwarna putih yang ia pakai.


Setiba di ruangan Olin, mereka semua langsung di sambut oleh Aaron dan yang lainnya. Alzan mencium tangan Aaron sebagai bentuk sopan santunnya.


"Apa sudah bisa di mulai ?" Tanya pak penghulu.

__ADS_1


"Bisa pak" jawab Aaron.


Sebelum akad nikah di laksanakan, terlebih dahulu pak penghulu memberi nasehat tentang menjalani rumah tangga, Alzan mendengarkan dengan baik, walau ia sendiri sudah mengetahui semuanya.


"Kalau begitu ayo kita mulai saja" ucap pak penghulu usai memberikan nasehat pernikahan "silahkan saudara Muhammad Alzan Muttaqin Jabat tangan orang tua calon istrinya"


Alzan langsung menjalankan perintah Pak penghulu, saat berjabat tangan dengan Aaron mendadak perasaan Alzan menjadi gugup. Detak jantungnya berdegup kencang.


"Saudara Muhammad Alzan Muttaqin saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan putri kandung saya yang bernama Zoe Caroline Fransiska Binti Aaron Gabrian dengan mahar satu set perhiasan di bayar tunai"


"Saya terima nikahnya Zoe Carine Fransiska Binti Aaron Gabrian dengan mas kawin tersebut tunai"


"Bagaimana saksi ?"


"Sah"


"Sah"


"Alhamdulillahirabbilalamin"


Sekarang Alzan dan Olin sudah Sah menikah secara agama, Alzan menyematkan cincin berlian di jari manis Olin.


Kemudian Alzan mencium kening Olin dengan lembut, dan tak lupa ia membaca doa sambil memegang ubun-ubun sang istri.


Usai akad nikah selesai pak penghulu dan saksi langsung pulang, Arzam langsung membayar mereka seperti yang Alzan perintahkan.


"Tolong jaga putriku ! Dia masih manja dan selalu memberontak. Tapi percayalah dia melakukan itu hanya untuk membuatnya bahagia" pesan Aaron kepada Alzan yang kini sudah menjadi menantunya.


"Insya Allah Pa, aku akan menjaga Olin dengan baik"


"Papa percaya sama kamu nak" Aaron menepuk pundak Alzan secara berulang dengan gerakan lembut.


Akan tetapi tak ada perubahan di diri Olin, wanita itu masih saja diam dengan mata tertutup. Membuat Alzan yang kini duduk disampingnya merasa sedih.


"Dek, bangun !! Kamu gak kangen lihat dunia ?" Ucap Alzan lirih.


"Mama yakin dia bakalan kaget setelah sadar nanti saat tau kalau dia sudah jadi istri kamu" ucap Hana


"Tentu saja Ma, entah bagaimana caranya aku menjelaskan"


"Nanti mama bantu nak"


Sore harinya semuanya pamit untuk pulang kecuali Alzan, karena malam ini ia yang akan menjaga sang istri menggantikan Aaron.


"Serius gak pingin Papa temenin jagain Olin ?" Tanya Aaron.


"Iya Pa, papa istirahat saja !! Malam ini biar Alzan yang gantian jaga"

__ADS_1


"Baiklah kalau begitu, nanti kalau ada apa-apa hubungi Papa !"


"Pasti Pa, Alzan akan menghubungi Papa dan Mama"


__ADS_2