Cinta Dalam Ikhlas

Cinta Dalam Ikhlas
Meminta Izin memeluk


__ADS_3

Air mata Olin terus menetes, ia terus mengingat ucapan Umi Fadilah tadi. Apalagi saat melihat Olin tak bisa berjalan Umi Fadilah terus menghinanya.


Sementara Alzan sudah tidak tau lagi bagaimana caranya menghibur sang istri, ia juga terkejut tentang perilaku Umi Fadilah tadi. Setau Alzan, Umi Fadilah sosok ibu yang lemah lembut dan tak akan menghina orang lain.


Tapi Alzan salah, dan mungkin wanita itu bersikap seperti itu karena Alzan menyakiti putrinya.


"Benar kata ibu itu tadi, harusnya mas Alzan jangan nikahin aku, harusnya Mas Alzan nikah saja sama mbak Yuna" ucap Olin yang terus terisak.


Alzan mengulurkan tangannya, lalu mengelus kepala Olin dengan lembut, ia tak marah dengan ucapan Olin, justru Alzan memahami. Olin bersikap seperti ini karena sedang terluka.


Setiba di rumah Olin, mereka langsung di sambut oleh Aaron dan Sarah, rupanya Aaron sudah selesai meeting.


"Loh kok kamu nangis nak ? Ada apa ?" Tanya Aaron panik, ia menatap kearah Alzan meminta penjelasan.


Alzan terdiam, haruskan ia menjelaskan kalau Olin menangis karena hinaan dari Umi Fadilah.


Tak ingin suaminya di salahkan Olin langsung membuka suara.


"Aku nangis karena Papa gak jemput aku di rumah sakit" ucap Olin.


Seketika Aaron langsung merasa bersalah, harusnya memang dirinya menjemput sang putri, tapi karena pertemuan ini sangat penting jadi Aaron tak bisa untuk tidak hadir.


"Maafkan Papa sayang !! Tapi tadi Papa harus meeting, demi kemajuan perusahaan kita" balas Aaron.


"Iya Olin, lagian kan ada suami kamu" sahut Sarah yang semakin tak suka dengan sikap Olin. Baginya Olin terlalu manja pada Aaron sehingga membuat nya muak.


"Ya sudah yuk masuk, kamu masih perlu istirahat" ajak Aaron, lalu mengambil alih mendorong kursi roda Olin, sementara Alzan membawa tas yang berisi pakaian Olin.


"Aku mau langsung kekamar Pa" kata Olin memberi tahu.


"Iya nak, Papa anterin"


Kursi roda kembali di dorong sampai di depan kamar Olin, Alzan membantu membukakan pintu kamar dan untuk pertama kalinya ia memasuki kamar sang istri.


Kamar bernuansa pink yang menjadi warna favorit Olin. Kamar yang cukup luas dan bersih juga sangat harum. Terlihat sekali kalau kamar itu selalu di bersihkan dan di jaga agar tetap wangi.


"Kalian istirahat dulu, kalau mau makan minta sama Bibi!" Pesan Aaron.


"Baik Pa, terima kasih sebelumnya" balas Alzan sopan.


"Papa keluar dulu ! Kalau ada apa-apa panggil saja, Papa ada di ruang kerja"


Alzan mengangguk sambil tersenyum, setelah kepergian mertuanya, Alzan mendekati sang istri.


"Mau tiduran di kasur dek ?" Tanya Alzan sangat lembut.


"Iya mas"

__ADS_1


Alzan langsung mengangkat sang istri dan membaringkannya ke atas kasur.


"Mas belum sholat Dzuhur, mas sholat dulu ya" kata Alzan.


"Iya mas, emm kalau aku mau ikut sholat bagaimana caranya ?" Tanya Olin.


"Bisa sayang kalau kamu mau, kamu ikuti gerakan mas tapi posisi kamu tetap duduk seperti ini"


Olin yang memang orang cerdas langsung paham, pertama-tama Alzan membantu Olin berwudhu barulah dirinya.


Kini mereka sholat berjamaah, setiap bacaan sholat yang Alzan ucapkan sangat menentramkan bagi Olin.


----------------


Sementara itu Yuna baru saja tiba di rumah setelah mengunjungi temannya yang masuk rumah sakit. Ia duduk di dekat Umi Fadilah yang sedang duduk di ruang tamu sambil menonton televisi.


"Tadi Umi ketemu sama Alzan" ucap Umi Fadilah langsung tanpa menunggu Yuna bertanya.


Yuna mengernyit ia langsung kembali bertanya "dimana Umi ?"


"Di rumah makan Padang yang sering kita kunjungi, dan disana Umi lihat dia saling suapi sama seorang wanita"


Dada Yuna terasa sesak mendengar semuanya, apakah wanita itu adalah wanita yang sama saat ia bertemu di rumah sakit tadi ?.


"Umi bersyukur kamu gak jadi nikah sama Alzan, Ustadz munafik seperti itu gak pantas buat kamu nak"


"Ustadz Alzan tidak seperti itu Umi, mungkin dia melakukan semua itu ada alasannya" lanjut Yuna membela Alzan.


Umi Fadilah mendengus kesal, putrinya masih saja membela Alzan padahal sudah di sakiti.


"Kamu bisa bicara seperti itu karena kamu tidak melihat nya nak, coba kalau kamu melihat kelakuan nya tadi, pasti kamu juga akan jijik"


Yuna menggeleng, ia bukannya tak percaya pada ucapan Umi, hanya saja Yuna tidak ingin membenci laki-laki itu, karena sampai saat ini nama Alzan masih bertakhta di hatinya.


Bahkan di setiap sujudnya Yuna masih berharap dirinya akan di jodohkan dengan Alzan.


Tidak berapa lama Abi Hairun datang, ia langsung duduk dan heran melihat raut wajah sang istri.


"Ada apa Umi, kenapa wajahnya di tekuk seperti itu ? Suami pulang bukannya tersenyum malah cemberut" ucap Abi Hairun.


"Tidak apa-apa Abi, Umi tadi bertemu dengan Alzan dan Abi tau gak, dia saling suapi sama wanita yang bukan muhrimnya"


"Astaghfirullah, benarkah begitu ?" Tanya Abi Hairun tak percaya.


"Iya Abi, masa iya Umi bohong"


Karena tak ingin mendengar cerita tentang Alzan, Yuna akhirnya izin kekamar. Ia tak ingin menambah rasa sesak di dadanya.

__ADS_1


"Yuna kekamar dulu Umi, Abi" ucap Yuna berdiri dari duduknya.


"Iya nak" jawab Abi, sementara Umi Fadilah hanya diam saja.


Yuna berjalan meninggalkan kedua orang tuanya, ia memasuki kamar dan berdiri di dekat kaca jendela besar.


Yuna menarik napas panjang, dan setetes air mata membasahi pipinya.


"Aku masih akan menutup telinga saat mendengar cerita buruk tentang mu, karena aku yakin kamu adalah laki-laki terbaik yang pernah aku kenal" gumam Yuna.


Tapi bayangan saat ia melihat Alzan menggendong Olin di rumah sakit tadi terus melintas di pikirannya. Ia masih bertanya-tanya apa wanita yang di maksud Umi tadi adalah Olin.


Jika memang benar, kenapa Alzan bisa sedekat itu dengan Olin ?. Apa hubungan mereka sebenarnya ?.


Rasanya Yuna ingin bertanya pada Arzam yaitu sahabat dekatnya Alzan, hanya saja Yuna terlalu malu melakukan hal itu.


"Jika memang kamu sudah menikah dengan wanita itu, pupus sudah harapanku untuk menjadi istri mu" kembali Yuna bergumam, saat bayangan pernikahan Alzan dan Olin terlintas di pikirannya.


Ia menggeleng pelan "tapi tidak mungkin Alzan sudah menikah, buktinya tidak ada undangan yang keluarga ku terima"


-------------


Sholat Dzuhur telah mereka laksanakan, dan sekarang keduanya duduk kembali di atas ranjang tempat tidur. Mata Alzan terus memandang wajah Olin yang masih berbalut mukena.


Baginya itu sangat cantik dan Alzan tak bosan menatap nya.


"Mas" pekik Olin.


"Astaghfirullah, ada apa dek ? Kok teriak gitu ?" Jawab Alzan


"Mas tuh ngapain mandangin Olin terus ?"


"Memangnya salah suami mandangin istri ?"


"Ya enggak sih, tapi aku malu mas"


"Ngapain coba pakai malu segala sama suami sendiri"


Olin tersenyum, kemudian kedua nya sama-sama terdiam, hingga beberapa saat kemudian Alzan kembali buka suara.


"Hemmm, Mas boleh gak peluk ?" Tanya Alzan.


"Kenapa nanya ? Kemarin di rumah sakit langsung peluk aja gak nanya dulu"


"Sekarang beda dek, mas ingin memeluk Adek atas persetujuan Adek sendiri"


Dan entah kenapa perasaan Olin langsung tak karuan, detak jantungnya berdegup kencang seperti selesai lari maraton. Ia heran kenapa padahal ini bukan pertama kalinya karena saat di rumah sakit Alzan sudah sering memeluk nya.

__ADS_1


__ADS_2