
Keesokan harinya, setelah di kabarkan kalau Olin sudah sadarkan diri. Aaron dan Sarah langsung kerumah sakit. Begitupun dengan Irwan dan juga Hana.
Sementara Abi Ghofar dan Umi Halwah akan kerumah sakit setelah menghadiri pengajian. Dan Alzan memahami hal itu.
Hana langsung memeluk tubuh Olin dengan kuat, ia tak menyangka putrinya akan selamat setelah kecelakaan maut yang menimpanya.
"Mana yang sakit nak ! Katakan sama mama !" Ucap Hana
"Olin udah gak papa Ma" jawab Olin sembari mengulas senyum kearah Hana.
Melepaskan pelukan, Hana kemudian mencium kening Olin. Menunjukan kepada semua orang betapa ia menyayangi Olin.
Setelah Hana, di lanjutkan Aaron yang memeluk tubuh Olin.
"Tolong jangan bikin Papa khawatir lagi nak !!" Bisik Aaron .
"Maafkan Olin pa !! Kalau udah bikin papa khawatir"
"Iya sayang, lain kali kamu harus hati-hati"
Melihat betapa sayangnya Aaron kepada Olin, membuat Sarah kesal, ia mengelus perutnya yang masih rata dan berharap ia akan segera mengandung.
Sarah ingin seluruh harta Aaron nanti akan jatuh ke tangan anaknya, bukan kepada Olin ataupun yang lain.
Tak ingin di nilai jahat, Sarah pun mendekat. Ia tersenyum palsu kearah Olin.
"Syukurlah kamu sudah sadar ! Kamu udah bikin panik semua orang". Kata Sarah.
Olin tak menjawab, ia hanya melirik sekilas kemudian kembali menatap sang Papa.
"Tapi Olin mengalami kelumpuhan Pa !" Ucap Olin memberi tahu keadaannya.
"Sabar ya sayang, kata dokter kamu bisa cepat sembuh asal rajin terapi" balas Aaron, ia belai kepala putrinya yang sudah berbau obat-obatan.
"Semoga saja Pa, Olin gak mau kek gini. Gimana nanti Olin sekolah kalau keadaan Olin seperti ini"
"Masalah sekolah biar Papa yang urus, Papa akan meminta kamu belajar di rumah saja supaya kamu gak susah"
Alzan hanya menatap kedekatan Olin dengan Papanya.
"Biar saya saja yang urus sekolah nya Olin Pa" sahut Alzan membuat semua orang menoleh dan menatap Alzan.
__ADS_1
"Ah iya, kan sekarang Olin sudah punya suami" balas Sarah yang langsung menyetujui ucapan Alzan, ia tidak ingin suaminya repot ngurus Olin sehingga ia di abaikan.
Selama Olin koma. Aaron sering mengabaikan Sarah. Ia sering di tinggal sendiri di rumah dan itu membuat Sarah kesal dan benci.
Makanya saat ini Sarah begitu menginginkan ia segera hamil, karena pikirnya dengan ia memberikan anak ke Aaron, ia bisa menyingkirkan Olin dengan mudah.
"Tapi tetap saja aku harus menjelaskan kepada pihak sekolah. Pernikahan kalian jangan sampai ada yang tau dulu. Sampai Olin lulus SMA" ucap Aaron
Alzan mengerti, memang sebaiknya begitu kalau pernikahan mereka di rahasiakan. Apalagi Olin masih berstatus anak SMA, Alzan takut banyak orang yang akan berpikiran negatif tentang Olin kalau tau ia menikah saat masih sekolah.
"Mama senang kalau Olin sudah sadar, apalagi sekarang ia sudah ada suami jadi Olin akan ada yang jaga 24 jam" ujar Hana menimpali.
Aaron merasa tersindir dengan ucapan Hana ia pun kembali menyahut "apa maksud ucapan kamu Hah ?, Kamu pikir saya selama ini gak jaga Olin 24 jam ?"
"Pikir aja sendiri. Kalau kamu bisa jaga Olin 24 jam, kejadian ini tidak akan terjadi"
Rasanya Aaron ingin sekali menampar wajah Hana, kalau saja disana tidak ada Irwan mungkin saja Aaron sudah melakukannya.
Sementara Olin langsung tertunduk dengan air mata berderai. Ia sudah sering melihat dan mendengar pertengkaran kedua orang tuanya.
Alzan yang melihat sang istri menangis langsung mendekat, ia duduk di pinggir ranjang dan menyandarkan kepala istrinya di dada.
Oli tak menolak, ia butuh kekuatan menghadapi semua ini, dan untuk pertama kalinya jika ia melihat mama dan papanya bertengkar ada tempatnya bersandar.
"Menangislah ! Sekarang ada aku tempat mu bersandar !" Bisik Alzan dengan suara lembut.
Rasanya Olin sangat ingin melakukan itu, menangis dengan kencang bukan tanpa suara seperti ini, tapi ia tidak ingin kedua orang tuanya tau dan mengakibatkan keduanya kembali saling menyalahkan.
Beberapa saat kemudian suasana mendadak hening, Aaron dan Hana menjadi diam seribu di samping pasangan masing-masing.
Hana mendekati Olin lalu berkata.
"Mama pulang dulu ya nak ! Besok mama datang lagi, kamu baik-baik disini" ucap Hana sambil membelai pipi Olin dengan gerakan lembut.
"Al tolong titip Olin, karena hanya kamu yang mana percaya untuk jaga Olin" sambung Hana lagi yang kembali menyindir Aaron.
Aaron ingin menyahut, namun langsung di tahan oleh Sarah. Disini peran Sarah benar-benar baik, ia berpura-pura menjadi wanita baik hingga semua orang tau kalau dirinya lebih pantas menjadi istri Aaron dari pada Hana dulu.
"Hati-hati Ma" balas Olin.
"Iya sayang" sebelum pergi Hana mengecup kening Olin dulu, begitupun dengan Irwan yang juga berpamitan pada Olin, walau tak sedikitpun di balas oleh Olin apapun yang Irwan katakan...
__ADS_1
Setelah kepergian Irwan dan Hana, suasana ruangan itu mendadak hening tanpa suara. Seakan tak ada yang menghuninya.
Aaron dan Sarah duduk di sofa sementara Alzan dan Olin duduk di atas ranjang. Ingin rasanya Alzan mengajak Olin bercanda hanya saja belum waktunya, Alzan juga menghargai kalau disana masih ada mertuanya.
Tiba-tiba Aaron dan Sarah mendekat.
"Papa nganterin Mama Sarah pulang dulu ya nak, katanya gak enak badan" ucap Aaron.
Olin melirik kearah Sarah, ia yakin itu hanya akal-akalan mama tiri nya itu. Tapi Olin tetap mengangguk karena tak ingin berdebat.
Toh sekarang sudah ada Alzan yang menemaninya selama 24 jam.
"Nanti papa datang lagi gak ?" Tanya Olin
"Iya sayang, nanti papa akan datang lagi" jawab Aaron.
"Ya sudah hati-hati di jalan Pa"
"Olin, Mama pulang dulu, cepat sembuh ya !" Ucap Sarah.
"Iya" jawab Olin ketus.
Olin hanya menatap kepergian Aaron dan Sarah dengan tatapan berkaca-kaca, mungkin jika ia belum menikah dengan Alzan, ia akan sering sendiri di rumah sakit ini. Kedua orang tuanya hanya mementingkan diri masing-masing tanpa sedikitpun mengerti keadaan Olin.
"Ngelamun terus dek, gak baik tau gak" ucap Alzan
"Apa sih mas, aku cuman sedih aja lihat kelakuan Mama dan Papaku, sekarang mas ngerti kan bagaimana keadaan ku selama ini"
Alzan mengangguk paham, ia sangat mengerti sekarang bagaimana kehidupan Olin selama ini. Pantas wanita itu menangis saat ia bertemu waktu itu, ternyata begini sikap mama dan papa Olin.
"Aku malu sama kamu mas"..
"Malu kenapa dek ?"
"Keluargaku sangat berbeda dengan keluarga mas Alzan, lihat sendiri bagaimana sikap mereka tadi. Bahkan mereka tak malu bertengkar di hadapan orang lain"
"Sudah jangan di pikirkan lagi, sekarang ada aku yang akan selalu ada di samping kamu, jadi apapun yang membuat kamu sedih ceritakan semuanya sama aku !"
"Makasih udah Nerima kekurangan ku Mas ! Tolong ajari aku bagaimana bisa ikhlas menerima keadaan hidupku"
"Insya Allah, kita sama-sama belajar"
__ADS_1
Kedua saling pandang lalu tak berapa lama sama-sama tersenyum.
"Jadi istriku selamanya, jadilah bidadari surgaku!" Ucap Alzan dengan tulus.