
Setiba di rumah sakit Aaron dan Sarah langsung menuju IGD, menurut info dari resepsionis kalu saat ini Olin masih di tangani di IGD.
Di depan ruang IGD seorang dokter berdiri, dengan sigap Aaron mendekat untuk menanyakan kondisi Olin.
"Bagaimana keadaan putri saya dok ?" Tanya Aaron.
"Apa bapak ayah dari gadis yang mengalami kecelakaan ?" Dokter itu justru balik bertanya.
"Iya betul, bagaimana keadaan putri saya ?"
"Kondisinya masih kritis, kepalanya terbentur sangat kuat. Dia butuh donor darah dan pihak rumah sakit sedang mencari darah yang sama untuk pasien"
"Ambil darah saya saja dok ! Darah kami sama soalnya"
Dokter itupun menganggukan kepalanya "kalau begitu mari ikut saya, kita periksa dulu kesehatan bapak"
Tanpa mengatakan apapun lagi Aaron langsung ikut dengan dokter yang akan memeriksa kesehatannya. Sementara Sarah menunggu di ruang IGD.
Melihat kepanikan sang suami, entah kenapa ada rasa kesal yang Sarah rasakan, padahal Aaron panik karena memikirkan kondisi Olin.
"Silahkan kalau mau melihat putrinya" ucap seorang perawat yang baru saja keluar dari ruangan.
"Baik Sus" jawab Sarah dengan malas.
Sarah memasuki ruangan IGD, disana ia melihat anak tirinya sedang terbaring tak berdaya di atas ranjang rumah sakit, matanya yang terpejam dan wajah yang memiliki luka lebam dimana-mana.
"Nyusahin aja sih jadi orang" gumam Sarah dengan nada kesal.
"Mending kamu mati aja, biar kasih sayang mas Aaron hanya untukku"
Sarah menikah dengan Aaron hanya karena Aaron kaya raya dan memiliki usaha dimana-mana. Dari awal pertama bertemu dengan Aaron ia sudah sering tebar pesona.
Hingga ia tak menyangka Aaron membalas perasaannya, Sarah masih ingat saat Aaron menyatakan akan menikahinya, membuat Sarah menjadi orang yang paling bahagia.
Akan tetapi setelah akad nikah selesai, Aaron baru mengatakan kalau Olin ikut dengannya, disana Sarah hanya bisa mengangguk, karena ia pikir akan gampang membuat Olin pergi dan ikut mamanya.
"Kamu itu nyusahin tau gak, lihat karena kamu aku di tinggal sendiri sama mas Aaron" gerutu Sarah seolah Olin bisa mendengar apa yang ia katakan.
Tak berapa lama pintu ruangan terbuka, Aaron masuk dengan wajah cemas. Tanpa memperdulikan posisi Sarah disana Aaron langsung menghampiri Olin.
"Sayang, anak Papa !! Maafkan Papa nak !" Ucap Aaron dengan suara serak.
__ADS_1
Air mata Aaron menetes dengan sendirinya, ia sangat menyayangi Olin, baginya Olin segala-galanya. Bahkan Aaron rela mengorbankan apa saja untuk Olin.
"Sabar mas ! Olin pasti baik-baik saja" ucap Sarah dengan lembut, seolah ia adalah wanita paling baik.
"Mas gak kuat melihat Olin seperti ini"
"Iya aku tau mas, mana ada sih seorang Papa tega melihat anaknya terluka"
Aaron mengangkat kepalanya menatap sang istri, ia tersenyum menyembunyikan kesedihan.
"Kamu memang istri terbaik" puji Aaron membuat Sarah begitu senang.
"Astaghfirullah aku belum mengabari Hana" pekik Aaron saat teringat kalau ia belum memberi kabar pada mantan istrinya, tengang keadaan Olin.
Walau kesal mendengar nama Hana, tapi Sarah tetap menebar senyum "ya sudah telepon dulu mas ! Mbak Hana perlu tau kondisi Olin" dustanya
"Iya sayang, mas telepon Hana dulu"
"Jangan jauh-jauh mas !!"
Aaron mengangguk, ia keluar kamar untuk menghubungi Hana, wanita itu pasti kaget mendengar kabar tentang Olin.
--------------
Sejak sore tadi perasaanya tak enak, ia sendiri bingung kenapa. Tapi perasaaan khawatir, takut bercampur menjadi satu.
"Astaghfirullah, ada apa ini ya Allah" gumam Alzan.
Bahkan detak jantungnya berdetak dengan kencang, ia memegang bagian dadanya sembari terus beristighfar dalam hati.
"Olin" entah kenapa tiba-tiba saja nama itu terlintas di ingatannya, nama calon istri yang akan ia lamar setelah Olin memberi tahunya kapan waktu yang tepat.
"Semoga dia baik-baik saja" Alzan kembali bergumam.
Beberapa saat kemudian Alzan berdiri dari duduknya, melipat kembali sajadah yang ia gunakan lalu meletakkannya di tempat semula. Ia tak berganti pakaian melainkan langsung keluar kamar untuk mengambil minum.
Satu persatu anak tangga ia turuni, ia tersenyum pada Umi saat sudah ada di dapur.
"Umi kira kamu ke masjid nak" ucap Umi Halwah sambil terus memotong bawang merah.
"Al sholat di kamar Umi" jawab Alzan sebelum berjalan menuju kulkas "Umi mau masak apa ?"
__ADS_1
"Tadi Abi minta di bikin tumis kangkung nak, katanya sudah dua malam ini gak bisa tidur mungkin setelah makan kangkung Abi bisa tidur pulas"
Alzan menganggukan kepala, Abi Ghofar memang sering tak bisa tidur. Apalagi saat sedang banyak pikiran. Dan sekarang Alzan yakin Abi Ghofar tak bisa tidur karena dirinya membatalkan perjodohan dengan Yuna.
"Al mau ambil minum dulu Mi" ucap Alzan.
Umi tak membalas, ia hanya tersenyum.
Alzan membuka kulkas dan mengambil sebotol A-qua lalu membukanya, kemudian mengambil gelas dan menuangkan air didalam Aqua. Setelah selesai Alzan berjalan ke meja makan sambil membawa gelas yang berisi air minum. Ia memang tak pernah minum sambil berdiri.
Akan tetapi sebelum sampai di meja makan, tiba-tiba gelas yang Alzan pegang terasa licin dan jatuh. Umi kaget dan langsung mendekati putranya.
"Ada apa nak ? Kok bisa jatuh ?" Tanya Umi.
"Entahlah Mi, dari sore tadi perasaan Alzan tidak enak, seperti ada sesuatu yang terjadi" akhirnya Alzan menjelaskan apa yang ia rasakan.
"Sudah biar Bibi saja ! Nanti tanganmu luka" ujar Umi Halwah saat Alzan akan memunguti pecahan beling yang berserakan di lantai.
Tidak berapa lama Abi Ghofar pulang dari masjid, laki-laki paruh baya itu heran saat melihat pecahan beling yang sedang di bersihkan Art.
"Ada apa ini Umi ?" Tanya Abi Ghofar pada istrinya.
"Tadi Al mau ambil minum, tapi tiba-tiba saja gelas yang dia pegang jatuh Bi" jawab Umi Halwah
"Oh ya kata Al dari sore tadi perasaanya tidak enak Bi".lanjut Umi Halwah lagi.
Abi Ghofar menatap wajah putranya, dari yang ia lihat memang raut wajah Alzan menunjukan kekhawatiran.
"Sudah sholat ?" Tanya Abi Ghofar pada Alzan.
"Alhamdulillah sudah Bi"
"Berserah pada Allah, tentang yang kamu rasakan saat ini, insya Allah sebentar lagi kamu akan mengetahui penyebab perasaanmu gelisah"
"Baik Abi"
Abi Ghofar menepuk pundak Alzan dengan lembut kemudian kembali berkata.
"Lalu bagaimana kabar wanita yang akan kamu lamar ? Apa kita sudah di bolehkan menemui kedua orang tuanya ?" Tanya Abi Ghofar lagi
"Belum Abi, nanti akan Al kasih tau kapan kita akan datang kesana"
__ADS_1
"Abi tunggu nak, niat baik jangan di tunda-tunda"