
Sepanjang perjalanan air mata Olin terus menetes, ucapan Afina begitu menyakitkan menurutnya.
Alzan yang melihat kesedihan sang istri langsung mencari tempat yang aman untuk menepi, ia menghentikan mobilnya dan langsung menarik tubuh Olin kedalam pelukan.
"Maafkan kak Fina ya dek !! mas tau ucapan kak Fina sangat menyakitkan" ucap Alzan dengan suara lembut.
Namun Olin tak menjawab, ia justru semakin terisak di dada sang suami, rasa sesak kian terasa dan rasanya sulit untuk menjelaskan apa yang saat ini Olin rasakan.
Baginya apa yang di ucapkan Afina ada benarnya juga, ia memang tidak pantas mendampingi Alzan yang begitu sempurna, sementara dirinya hanya wanita lumpuh yang tidak bisa apa-apa.
"Dek" panggil Alzan, telapak tangannya yang besar mengelus rambut panjang Olin dengan lembut.
"Udah dong ! nanti mas ikutan nangis loh" sambung Alzan lagi.
Olin menjauhkan kepalanya, menatap wajah sang suami dengan seksama. Ia tersenyum walau air mata masih deras membasahi pipinya.
"Mungkin benar kata kak Fina mas, aku memang tidak pantas untuk mas Alzan, memang baiknya mas menikah dengan mbak Yuna" kata Olin lirih
"Astaghfirullah sayang, kenapa jadi ikutan berpikir sampai sana ?, mas memilihmu menjadi istri karena mas mencintaimu" balas Alzan
Olin tertegun mendengar ucapan suaminya, benar kah demikian ?. Alzan lebih memilih dirinya karena cinta.
"Sudah ! kamu tidak perlu memikirkan apa-apa, fokus dengan sekolah kamu dan kesehatan kamu, !" jelas Alzan.
"Terima kasih mas karena mengerti kondisi Olin ! terima kasih karena mas mau nerima Olin apa adanya !"
Alzan tersenyum dengan tulus "Iya cantik ku" goda Alzan. Hingga di balas senyuman oleh Olin.
Alzan menghapus air mata istrinya menggunakan tisu, kemudian kembali menjalankan mobil menuju sekolah Olin.
Setiba di depan gerbang sekolah, seperti biasa ada Indri dan Bela yang menunggu untuk membantu Olin ke kelas.
"Assalamualaikum Ustadz, selamat pagi" sapa Bela dengan ramah
"Waalaikumsalam, pagi juga" balas Alzan.
"Tolong titip Olin ya ! kabari saya kalau ada apa-apa. Insya Allah saya tidak akan telat menjemput" pesan Alzan pada Indri dan Bela.
"Baik Ustadz, Olin aman sama kita" kata Indri semangat.
Olin tersenyum melihat kelakuan dua sahabatnya itu, walau menurutnya Kedua sahabatnya begitu ganjen dengan sang suami, tapi bukannya cemburu Olin justru senang melihatnya.
__ADS_1
Alzan berjongkok mensejajarkan tubuhnya pada sang istri yang saat ini sudah duduk di kursi roda.
"Mas kerja dulu, kamu belajar yang benar supaya lulus dengan nilai terbaik. Mas mencintaimu" ucap Alzan.
"Iya mas hati-hati di jalan"
Alzan mengangguk, kemudian ia memberikan tangannya untuk di Salami sang istri, mengerti apa yang di inginkan suaminya Olin langsung mencium tangan Alzan.
"So sweet banget sih kalian, bikin iri deh" kata Bela seraya mengigit jari telunjuknya.
"Pingin nikah juga Bel" balas Indri.
Selesai Alzan berpamitan Indri dan Bela langsung mendorong kursi roda Olin. Hingga tiba di kelas ketiganya kembali bercerita sampai guru mata pelajaran masuk.
********
Hana mengernyit bingung saat membaca pesan di ponselnya dimana Sarah meminta bertemu. Ia berpikir untuk apa istri dari mantan suaminya itu ingin bertemu ?. Apa yang ingin wanita itu bahas.
"Kenapa ?" tanya Irwan saat melihat istrinya hanya terdiam sambil menatap layar ponsel.
"Mas baca aja sendiri !" balas Hana seraya menyerahkan ponselnya ke sang suami.
Irwan menerima ponsel tersebut, lalu membaca pesan disana.
"Mana aku tahu mas, makanya aku heran."
"Jadi hari ini kamu mau ketemu sama dia ?"
"Sebenarnya males sih, tapi aku penasaran kenapa dia ngajakin aku ketemuan"
"Paling bahas masalah Olin" terdengar nada tak suka dari Irwan saat menyebut nama anak tirinya itu.
Hana sadar akan hal itu tapi dirinya diam saja, ia akan berusaha keras bagaimana caranya supaya Irwan kembali sayang lagi dengan Olin seperti dulu.
Ini memang bukan salah suaminya yang tidak menerima Olin, tapi salah Olin yang tidak mau menerima Irwan sebagai ayah tiri, hingga akhirnya Irwan kesal dan jadilah seperti sekarang.
"Ya sudah aku berangkat kerja dulu" ucap Irwan kemudian.
"Hati-hati mas"
"Hemmmm"
__ADS_1
Hana menatap punggung suaminya yang semakin menjauh dari pandangan, ia menarik napas panjang saat memikirkan persoalan hidup yang tiada habisnya.
Ada kalanya ia lelah, tapi Hana tidak ingin menyerah. Sama seperti Aaron ia tidak ingin gagal lagi menjalin rumah Tangga, dan Hana juga tidak ingin Adit merasakan apa yang Olin rasakan.
Setelah berperang dengan pikiran akhirnya Hana memutuskan untuk menemui Sarah di sebuah restoran yang Sarah katakan. Tak lupa sebelum pergi ia menitipkan pada pengasuh untuk menjaga Adit dengan baik.
********
Di restoran mewah yang pengunjungnya belum cukup ramai Sarah duduk sembari menikmati secangkir kopi susu yang barusan terhidang. Ia terus menatap ke pintu masuk karena orang yang dia tunggu belum juga datang.
"Mana sih lama amat, katanya udah di jalan" gerutunya kesal.
Sarah kembali menyeruput kopi susu di hadapannya, hingga akhirnya orang yang ia tunggu datang juga. Terlihat Hana berjalan dengan sangat elegan menuju meja yang ia tempati.
Seketika Sarah merasa minder, cara berjalan dan berpakaian Sarah begitu elegan, sangat berbeda dengan dirinya.
"Udah lama nunggu ?" tanya Hana langsung.
"Lumayan" jawab Sarah biasa saja, ia harus bicara dengan bijak juga.
Hana menarik kursi lalu mendudukkan diri disana, ia juga memesan minuman untuk menemani obrolan yang entah isinya apa.
"Ada apa meminta saya bertemu ?" tanya Hana
Sarah terdiam beberapa saat, detak jantungnya berpacu kuat, sedikit rasa takut pada Hana.
"Saya tidak punya banyak waktu hari ini" kembali Hana bicara sambil melihat jam di pergelangan tangan nya "Jadi bisakah kamu memulai pembicaraan ini !"
"Aku cuman ingin menanyakan sesuatu pada mbak Hana" ucap Sarah.
"Silahkan ! akan saya jawab jika saya tau"
"Apa benar sertifikat rumah mas Aaron ada dengan mbak Hana ?"akhirnya Sarah mengatakan hal itu. Dan tentu saja Hana heran untuk apa Sarah menanyakan sertifikat rumah.
"Betul, memangnya kenapa ?" tanya Hana lagi cukup santai.
"Saya ingin mbak Hana memberikan sertifikat itu pada saya ! karena bagi saya mbak Hana gak berhak menyimpan sertifikat itu, mbak kan bukan istri mas Aaron lagi" jawab Sarah menggebu.
Hana tersenyum sinis, sekarang ia mengerti kenapa Sarah memintanya bertemu, dan ia juga mengerti kenapa Sarah mau menikah dengan Aaron. Tak lain dan tak bukan karena Harta.
"Untuk apa kamu mau mengambil sertifikat itu ? apa mas Aaron yang menyuruhmu ?"
__ADS_1
"Bukan ,tapi aku sendiri yang ingin mengambilnya. Alasannya karena aku istri sah nya mas Aaron"
"Maaf tidak bisa, lagian rumah yang kamu tempati itu atas nama Olin, nanti kalau Olin sudah berusia 20 tahun kami akan menyerahkan rumah itu padanya"