Cinta Dalam Ikhlas

Cinta Dalam Ikhlas
Kerumah Umi


__ADS_3

Sepanjang perjalanan tak ada yang mau membuka suara, Alzan fokus menyetir sementara Olin kalut dengan perasaanya sendiri.


Bahkan sampai saat ini Olin masih tak habis pikir sang Papa akan tega melakukan itu. Dimana Aaron yang katakan begitu menyayangi Olin, dimana Aaron yang katanya menganggap Olin harta paling berharga.


Semua itu hilang semenjak kehadiran Sarah, wanita yang umurnya tak jauh beda dari Olin berhasil membuat Aaron bertekuk lutut.


"Malam ini kita nginep di rumah utama pesantren dulu ya !!" ucap Alzan yang akhirnya membuka suara, ia menoleh sekilas ke arah sang istri.


"Bibi mau kan ?" tanya Alzan pada Bi Yatri


"Iya den, saya mah ikut saja asal sama non Olin" jawab Bi Yatri membuat Alzan tersenyum.


"Kalau kamu gimana dek ? mau kan nginep di rumah Umi"


Namun Olin belum menjawab, ia masih terlena dengan lamunan nya. Hingga akhirnya Alzan mengelus kepala Olin dengan lembut barulah Olin sadar.


"Ada apa mas ?"


"Makanya jangan melamun terus dek ! nanti kesambet loh"


"Maaf mas"


"Tadi mas nanya kamu mau gak malam ini nginep di rumah utama pesantren, karena kalau kerumah yang mas beli disana masih berantakan"


"Mau kok mas, lagian biar aku dekat sama Umi juga"


Alzan tersenyum tulus kepada istrinya, ia akhirnya mempercepat laju mobil menuju pesantren, karena berhubung hari sudah semakin soreh.


Setiba di rumah utama pesantren, mereka langsung di sambut dengan hangat oleh Abi Ghofar dan Umi Halwah.


"Kenapa tidak mengabari kalau mau menginap disini nak" ucap Umi pada Olin, ia dorong kursi roda Olin dan masuk kedalam rumah.


"Dadakan Mi, makanya tidak ngabarin" jawab Olin berbohong, entah apa pikiran mertuanya jika tau kalau dirinya di usir oleh sang Ayah. begitu yang ada di pikiran Olin.


"Tadi Umi sama Abi mau kerumah sakit, tapi kata Alzan kalian sudah pulang"


"Iya Mi, kata dokter keadaanku udah baik-baik saja, tinggal kaki ini yang belum bisa di gerakkan "


"Sabar !! nanti juga bisa jalan lagi, asal Olin ikut terapi"


Alzan meletakkan tas milik istrinya, lalu ikut duduk bersama Abi dan Umi. Sementara Bi Yatri duduk di lantai hingga membuat Umi buka suara.


"Kenapa duduk disana Bu, duduk di kursi saja !" ucap Umi.


"Tidak apa-apa Nyonya, saya duduk disini saja"

__ADS_1


Kening Umi mengkerut, ia heran kenapa Bi Yatri memanggilnya dengan sebutan Nyonya. Sebutan itu terlalu asing untuknya. Karena walaupun dirumah ini ada banyak Art tapi mereka semua memanggil Umi tetap Umi bukan Nyonya.


"Namanya Bi Yatri, dia bekerja di rumah Papa dan sekarang dia kerja sama Alzan mi" jelas Alzan sebelum Umi ataupun Abi bertanya.


"Apa kamu akan menempati rumah baru itu ?" tanya Abi.


"Betul Abi, aku dan Olin akan tinggal disana"


"Kalau begitu lebih baik kalian adakan nikah ulang, nikah secara Agama dan Negara. Supaya menghindari hal yang tidak-tidak"


"Baik Abi, aku akan segera mengurus semuanya"


Beberapa saat kemudian Alzan membawa istrinya Kedalam kamar, ia tidak ingin istrinya kelelahan. Sementara Bi Yatri di antar Umi kekamar tamu.


Didalam kamar itu Olin menelusuri setiap interior yang baginya sangat mewah. Desain kamar sang suami membuatnya nyaman dan tenang.


"Kenapa ?" tanya Alzan dengan suara yang lembut.


"Gak papa mas, kamarnya nyaman dan tenang"


"Alhamdulillah kalau istriku suka, jadi mas tidak perlu repot-repot merombak kamar ini" Alzan terkekeh sambil mengatakan hal itu.


"Memangnya kalau aku suruh ngerombak semuanya mas bakalan mau ?" tanya Olin, ia memincingkan sebelah matanya menatap sang suami.


Blassss.


Olin tersipu malu mendengar ucapan sang suami, membuat Alzan terkekeh melihat kelakuan istrinya. Hingga tak berapa lama suara Adzan Maghrib datang sahut menyahut dari masjid satu ke masjid yang lain.


"Mas sholat di Masjid boleh gak ?".


"Iya boleh dong mas, masa iya aku larang"


"Adek sendiri mau sholat dimana ?"


"Di rumah aja Mas, kalau ada Umi aku sholat bareng Umi saja"


"Ya sudah mari bersiap, biar mas anter ke tempat Umi, biasanya Umi sholat di ruang persholatan"


Keduanya langsung bersiap, sebelum berangkat ke masjid Alzan mengantar istrinya keruang persholatan, dan memang benar disana sudah ada Umi yang siap hendak sholat.


-------------


Kabar tentang kepergian Olin ternyata sampai di telinga Hana, wanita itu tak terima dan terus marah -marah sehingga membuat Irwan pusing.


"Bisa gak sih udahan marah-marahnya, lagian belum tentu itu benar, coba kamu tanya langsung sama Olin !" bentak Irwan kesal.

__ADS_1


"Gak mungkin orang ini bohong mas, aku yakin yang SMS aku barusan adalah salah satu pembantu di rumah itu"


"Ya sudah kalau sudah begitu kenyataannya, lagian kamu gak usah khawatir, Olin sudah menikah dan punya suami. Jadi dia ada yang jaga"


"Tapi tetap saja aku khawatir mas, kamu tau sendiri kan Olin menikah di usia yang terlalu mudah, aku takut dia belum terbiasa dengan statusnya Sekarang"


Ucapan Hana membuat Irwan geleng-geleng kepala, jika memang Olin belum siap menjadi istri tidak mungkin wanita itu minta nikah waktu itu. Begitu pikir Irwan.


"Aku mau kerumah mas Aaron, aku ingin memastikan semuanya" ucap Hana.


"Terserah !" jawab Irwan yang masa bodoh dengan ucapan istrinya.


---------------


Sementara itu di rumah Aaron dan Sarah, sepasang suami istri itu baru saja selesai bergelut di atas ranjang. Napas Aaron turun naik dengan cepat karena olahraga ranjang yang baru saja mereka lakukan


Sarah yang terlentang di sampingnya merasakan hal serupa, keringat membanjiri keningnya tapi tak membuat Sarah lelah, ia justru ingin lagi supaya cepat hamil.


"Mau kemana mas ?" tanya Sarah saat Aaron beranjak dari tempat tidur.


"Mandi dek, gerah soalnya"


"Ngapain mandi, kan nanti mulai lagi" goda Sarah sambil mengedipkan sebelah matanya.


Aaron tersenyum, "Tenang sayang nanti lagi kok, walaupun aku udah mandi"


"Janji ya !! gaya enam sembilan dulu tapi"


"Ok"


Laki-laki normal mana yang bisa menolak pesona Sarah, wanita itu cantik dan berbodi montok. Permainannya di atas ranjang pun bak wanita professional.


Saat Aaron berada di kamar mandi, pintu kamar mereka di ketok. Membuat Sarah kesal tapi tetap berniat untuk membuka pintu.


Ia memakai pakaian nya yang berserakan di lantai, lalu berjalan membuka pintu.


"Ada apa Bi ?" tanya Sarah pada salah satu Art yang bekerja disana.


"Anu nyonya, di bawah ada Mamanya Non Olin"


"Mau apa wanita itu kesini ?"


"Katanya mau ketemu sama Tuan"


Sarah kesal Mendengar kalau Hana ingin bertemu sang suami. Tapi dia juga penasaran untuk apa Hana datang malam-malam begini.

__ADS_1


__ADS_2