
Aisyah melenggang keluar dari butik itu dan menghampiri Jamal.
"Loh, cepat banget belanjanya! katanya lama tadi,"
"Udah dapet, ngapain disitu lama-lama."
"Oh, iya juga ya! terus, sekarang kita langsung pulang atau mampir ke mana gitu?"
"Pengennya sih mampir beli bakso, tapi aku takut!"
"Takut kenapa atuh?"
"Takut sama tunangan aku, kalau pergi lama-lama."
"Maksudnya takut sama si bos gitu?"
"Bukan,"
"Terus?"
"Ya emang takut sama tunangan aku Beneran. Tapi bukan si bos tunangan aku tuh."
"Aku bingung, ku kira si bos itu tunangan kamu tahu Syah,"
"Nggak, aku cuma dijadikan pacar pura-pura doang."
"Ih, kenapa mau sih."
"Iya kasihan aja, soalnya dia dipaksa orang tuanya gitu. Nggak mau tahu pokoknya harus udah punya pacar gitu katanya."
"Kamu kan cantik, ngapain sih nggak jadi pacar beneran aja. Si bos juga ganteng, tajir juga gitu!"
"Si bos sih pernah ada rasa suka sama aku, kamu tahu sendiri kalau cinta itu nggak bisa untuk dipaksa."
"Iya sih, moga aja kamu bahagia dengan pria pilihanmu itu."
"Iya makasih."
"Ya udah, ayo buruan masuk mobil."
"Oke,"
Aisyah pun menuruti kata Jamal.
"Gimana, jadi nggak beli bakso? tuh warung bakso enak banget loh, bakso bang Kunti."
"Ah, masa sih? namanya aja serem kek gitu kok."
__ADS_1
"Nggak percaya, coba aja dulu. Di jamin ntar kamu bakalan ketagihan lagi."
"Serius kamu, emang kamu dah pernah cobain gitu?"
"Udah dong, kemarin aku ditraktir si bos."
"Ya udah aku mau turun cobain deh kalau gitu, ikut nggak?"
"Nggak ah, kamu sendiri sana yang turun."
"Bungkus aja deh kalau gitu."
"Terserah."
Akhirnya Aisyah ngantri bungkus bakso itu, bukan untuk dirinya sendiri tapi buat yang di rumah juga.
Dari aroma kuahnya saja udah tercium enak, apalagi rasanya. Pasti menggoyang lidah iya. Ucap Aisyah.
"Yuk, capcuss pulang ke rumah!"
"Siap bos!"
"Aku bukan bos kamu tau!"
"Calon bos kan,"
"Ini bener rumah kamu?"
"Ya benar lah, masak nyasar sih?"
"Bukan kek gitu maksudnya aku!"
"Terus kenapa?"
"Kali ja kamu bohongi aku, pacar aja bohong!"
"Ya udah, kalau nggak percaya silahkan masuk!"
"Nggak ah, langsung balik ja! ni, bos udah nyuruh jemput. Lain kali ja aku mampir, bye!"
"Iya, dah. Hati-hati!"
"Siap!"
Saat Aisyah mau masuk, ibunya ngintip dari jendela.
"Itu tadi siapa?"
__ADS_1
"Oh, itu supir si bos!"
"Tumben dianter!"
"Ibu kepo ya?"
"Nggak juga!"
"Ngaku aja lah,"
"Kamu bawa apa itu?"
"Ni bakso, kita makan sama-sama yuk?"
"Tau aja kalau ibunya lagi lapar. Perut ibu keroncong dari tadi!"
"Emang ibu nggak masak?"
"Tuh lihat, kulkas ja kosong nggak ada isinya, minta duit dong buat belanja,"
"Ya udah, ntar aku kasih! yang penting makan dulu!"
"Oh, iya Bu. Nanti malam mas Aldi sama ibunya mau Dateng kesini!"
"Mau bahas rencana pernikahan kami!"
"O, eh tunggu!"
"Ada apa Bu?"
"Kamu belanja sebanyak itu dapat uang dari mana?"
"Oh ni dibelikan bos ku!"
"Sebanyak itu?"
"Iya,"
"Kayaknya mahal-mahal itu barang! bos kamu baik banget!"
Bukan seperti yang ibu kira. Batinnya.
"Ya emang baik. Kalau nggak baik aku udah nggak betah dong Bu,"
"Iya ya,"
"Udah, aku mau ngambil mangkok dulu."
__ADS_1
Ada rasa senang ketika melihat seorang ibu kelihatan bahagia saat anaknya pulang dengan tanpa tangan kosong.