
Olin POV
...----------------...
Hari ini aku tak masuk sekolah, aku terlalu rapuh dan rasanya tak sanggup menerima semua ini. Papa yang sangat aku sayangi sudah menikah lagi seperti Mama.
Dalam hati aku terus bertanya, kenapa mereka melakukan itu padaku ?. Apa mereka tak mengerti perasaanku, aku benar-benar seperti tak di anggap.
Ku ayunkan langkah kakiku menuruni anak tangga, ku lihat istri baru Papa sedang duduk di meja makan seorang diri.
"Hai Lin, kamu gak sekolah ?" wanita itu bertanya padaku.
Namun aku tak menjawab, aku membencinya seperti aku membenci Irwan, laki-laki yang sok baik namun ternyata begitu jahat.
"Kalau di tanya tuh di jawab dong !!, gak sopan banget sih" wanita itu kembali berkata, membuat ku kali ini menatapnya dengan tajam.
"Siapa kamu yang berani berkata seperti itu padaku"
"Aku mama tirimu sekarang !! jadi bersikaplah dengan sopan padaku"
"Cih" aku meludah ke kiri "Hanya Mama tiri kan, jadi jangan sok berkuasa" balasku tak kalah sengit.
Dia menatapku dengan tajam, seolah ingin menelan ku hidup-hidup. Tapi aku tak peduli, aku tak takut sedikitpun padanya.
Tak berapa lama Papa datang, jika sebelumnya ia akan membelai rambutku kali ini berbeda, wanita itu yang menerima perhatian Papa sekarang.
"Mas, Olin kasar banget sama aku"
"Dia gak mau nerima aku sebagai Mama sambungnya"
Heh, apa-apaan ini ?. Ternyata wanita ini tukang ngadu pada Papa, dan menciptakan drama yang super keren.
"Olin tolong terima Mama Sarah menjadi mama sambung mu !! dia baik kok" ucap Papa.
"Dia baiknya sama Papa bukan sama Olin"
"Kamu bicara seperti itu karena belum mengenal Mama Sarah nak" Papa masih saja bicara dengan lembut padaku.
"Aku gak mau mengenal dia, dan aku gak mau menganggap dia sebagai Mama ku sama seperti aku tidak mau menerima Irwan sebagai Ayah tiriku"
Plaaakkkk.
Sebuah tamparan yang cukup keras langsung aku terima. Selama ini Papa gak pernah melakukan itu padaku, walau aku sering buat Papa marah tapi dia tidak pernah melakukan kekerasan.
__ADS_1
Tapi kali ini Papa melakukannya, memberikan rasa panas dan sakit di pipi kananku, aku tak meraba bagian rasa sakit itu, cukup air mata yang menghapusnya perlahan.
"Olin, maaf kan Papa nak !! Papa gak sengaja" tangan Papa terlihat bergetar, mungkin ia menyesal karena melakukan itu padaku. Ia ingin memegang pipi ku tapi aku menghindar.
"Papa minta maaf nak !" kembali Papa mengatakan itu.
Sementara wanita di samping Papa tampak tersenyum puas, aku bisa melihatnya dengan jelas. Dasar wanita jahat.
"Papa berubah !! Papa gak sayang lagi sama Olin" teriak ku menggema.
"Papa gak sengaja sayang, maafkan Papa"
Aku tak peduli, aku berlari keluar rumah dengan langkah cepat. Teriakan Papa yang memanggil namaku tak ku hiraukan lagi.
Aku ingin pergi, menjauh dari semuanya. Tak ada lagi yang bisa aku percaya. Papa dan Mama sudah memiliki kehidupan masing-masing, dan mungkin sebentar lagi aku akan tersingkir jika Papa memiliki anak lain dari wanita itu.
Tapi aku harus kemana ?, apa aku mati saja ?. Mungkin jika aku sudah tak ada di dunia ini, Papa dan Mama akan senang, karena tidak ada lagi anak yang akan mengganggu mereka, dan mereka bisa menjalani rumah tangganya dengan nyaman.
...****************...
Author Pov..
Dan disinilah Olin berada, di sebuah danau kecil yang begitu sepi. Ia menatap ketengah danau tersebut, memastikan tubuhnya akan tenggelam jika ia masuk kesana.
"Aku benci kalian" ia berteriak, menghabiskan seluruh suaranya yang sedikit tersisa.
"Maafkan Olin Ma, Pa. Maaf kalau kehadiran Olin selama ini bikin Mama dan Papa kecewa" gumam Olin.
Air matanya terus menetes, perlahan ia berjalan menuju danau, sedikit lagi kakinya akan menyentuh air danau yang terlihat tenang itu, tapi semua langkahnya terhenti saat seseorang memegang tangannya dengan erat.
"Lep--" Olin berbalik hendak menghempaskan tangan yang mencengkram nya, namun suaranya tertahan saat melihat Alzan menatapnya dengan iba.
"Kamu mau kemana berjalan kesana terus ?, kalau kecebur gimana ?" tanya Alzan, kali ini ia sudah melepaskan tangan Olin.
"Aku memang mau masuk kesana Ustadz, Aku mau mengakhiri hidupku"
"Astaghfirullah, kenapa kamu berpikiran seperti itu ?. Dosa dek "
"Untuk apa aku hidup, mereka semua menyakiti aku, mereka semua gak ada yang peduli dengan perasaanku, mereka seenaknya saja menentukan pilihan mereka tanpa meminta persetujuan dariku"
Walau tak paham tentang apa yang Olin katakan, tapi Alzan bisa mengerti kalau Olin sangat terluka. Mungkin jika Olin sudah menjadi Mahramnya ia akan menarik wanita itu kedalam pelukan.
Olin terduduk, ia memukul tanah berulang kali. Melampiaskan rasa sakit yang kian mendera.
__ADS_1
Semua yang Olin lakukan membuat perasaan Alzan seperti teriris. Ada rasa sakit yang tak bisa ia ungkapkan.
"Apa yang membuatmu begitu terluka seperti ini ?" akhirnya Alzan bertanya.
"Papa dan Mama ku bercerai dan sekarang mereka menikah lagi. Mereka tidak tahu bagaimana perasaanku" jelas Olin sambil tersedu-sedu.
"Kamu harus terima semua ini !, mungkin ini adalah takdir hidupmu"
Olin mendongak menatap wajah Alzan, akan tetapi pria itu justru membuang muka.
"Ustadz gak ngerti di posisi aku"
"Iya aku tahu itu, tapi percayala Allah sudah menyiapkan kebahagiaan tak terduga untukmu"
Sekarang tangisan Olin sedikit meredah.
"Kenapa Ustadz ada disini ?"
"Sebelum kamu datang aku sudah lebih dulu disini, tempat ini menjadi tempat favorit ku"
Olin sama sekali tak menyangka jika akan bertemu dengan Alzan disini, ada sedikit rasa bahagia saat berjumpa dengan pria itu. Namun sepertinya Olin harus menghapus perasaanya saat teringat kalau Alzan akan menikah dengan Yuna.
"Bagaimana kabar calon istri Ustadz ?" tanya Olin.
"Kenapa kamu bertanya seperti itu ? bukankah kamu menyukaiku ?" Alzan balik bertanya.
Mendengar hal itu Olin menunduk malu, ia merutuki kebodohannya karena mengakui perasaannya waktu itu.
"Maaf Ustadz jika aku lancang menyukai Ustadz, harusnya aku tidak melakukan itu, aku harus sadar kalau aku tidak pantas untuk Ustadz"
Alzan tersenyum penuh arti, tapi sayangnya Olin tak melihat itu.
"Boleh aku melamarmu ? aku akan membahagiakan kamu" ucap Alzan yakin.
Tentu saja Olin kaget mendengarnya, bagaimana bisa Alzan akan melamarnya beneran. Ini seperti mimpi yang sering datang saat ia tertidur.
"Jangan bercanda Ustadz"
"Siapa yang bercanda, saya serius"
"Lalu bagaimana dengan Wanita waktu itu ?"
"Sahabatku mencintai dia, jadi aku tidak ingin menyakiti sahabatku" jelas Alzan lagi.
__ADS_1
"Apa lamaranku akan di terima jika aku datang menemui orang tuamu ?" Tanya Alzan lagi.